Gelombang Terakhir Pendaftaran Kartu Prakerja, Sudah Dibuka

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Pendaftaran program Kartu Prakerja telah memasuki gelombang ke-10 atau terakhir di tahun anggaran 2020. Gelombang ini pun sudah mulai dibuka sejak pukul 12.00 WIB, pada Sabtu (26/9/2020).

Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto mengungkapkan, bahwa sejak pertama kali diresmikan pada 11 April 2020, program Kartu Prakerja telah menyerap 98 persen dari total target penerima.

“Total penerima Kartu Prakerja setelah ditutupnya pendaftaran gelombang 9 pada 21 September telah mencapai 5.4 juta dari total kuota tahun 2020 yang sebesar 5.5 juta orang. Sisa kuota sekitar 116.261 akan diserap melalui pendaftaran gelombang 10 yang dibuka hari ini. Dengan demikian lengkaplah total kuota penerima Kartu Prakerja tahun anggaran 2020,” ujar Airlangga dalam jumpa pers virtual, Minggu (26/9/2020).

Lebih lanjut, Airlangga menjelaskan, sesuai dengan Peraturan Menteri Koordinator Perekonomian Nomor 11 tahun 2020, setiap penerima Kartu Prakerja wajib menggunakan bantuan untuk mengikuti pelatihan pertama dalam waktu 30 hari sejak menerima Kartu Prakerja. Apabila tidak melakukan hal ini, maka kepesertaannya akan dicabut.

“Hingga hari ini telah ada 189.436 orang yang dicabut kepesertaannya atau setara dengan 3,46 persen dari total penerima Kartu Prakerja gelombang 1-9 yang berjumlah 5.480.918 orang,” tukas Airlangga.

Dari pencabutan kepesertaan tersebut, anggaran sebesar Rp672 juta telah dikembalikan ke Rekening Kas Umum Negara (RKUN). Komite Cipta Kerja akan memutuskan berapa dan kapan dana yang kembali ke RKUN ini akan dipulihkan dan dialokasikan kepada peserta lainnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Manajemen Kartu Pelaksana Kartu Prakerja, Denni Puspa Purbasari mengungkapkan, bahwa program Kartu Prakerja telah berhasil menjangkau 514 kabupaten/kota di seluruh provinsi di Indonesia.

Sementara itu, provinsi yang masyarakatnya paling banyak memanfaatkan Kartu Prakerja adalah; Jawa Barat 674,6 ribu perserta; DKI Jakarta 564,5 ribu peserta; Jawa Timur 553,6 ribu peserta; Jawa Tengah 393,8 ribu peserta; Banten 229,5 ribu peserta; Sumatera Utara 208,2 ribu peserta; dan Sulawesi Selatan 203 ribu peserta.

“Dari hasil survei evaluasi hingga 31 Agustus, dapat disimpulkan bahwa program ini sudah tepat sasaran, karena menjangkau masyarakat yang menganggur atau tidak bekerja (87 persen), berpendapatan rendah (rata-rata 1,2 juta perbulan), dan bekerja di sektor informal (79 persen),” ungkap Denni.

Ketua Tim Pelaksana Komite Cipta Kerja, Rudy Salahuddin menambahkan, bahwa pihaknya sangat bersyukur, antusiasme masyarakat terhadap program tersebut sangat tinggi. Pasalnya, program Kartu Prakerja juga dianggap sebagai salah satu pintu masuk menuju transformasi digital.

“Kalau kita lihat program bantuan sosial yang menggunakan platform digital itu hanya Kartu Prakerja. Dan itu sangat baik untuk dijadikan contoh, misal orang tidak rebutan dan mengantri panjang untuk menerima bantuan. Lalu orang juga tidak perlu di data, karena mereka yang justru open registrasi sendiri,” paparnya.

Rudy pun mengaku siap apabila kedepan Komite Cipta Kerja memutuskan untuk kembali menambah kuota peserta Kartu Prakerja tahun ini, yang sudah ditetapkan sebanyak 5,6 juta dengan total anggaran Rp20 triliun.

“Jadi perkiraan kami target itu bisa selesai akhir bulan ini, atau paling lama awal bulan depan (Oktober). Nanti kita lihat saja, kalau Komite ingin menambah kuota peserta, maka kami akan siap jalankan kembali,” tutur Rudy.

Terakhir, Rudy mengimbau agar para peserta yang sudah lolos agar segera melakukan pembelian pelatihan dan menyelesaikannya. Menurut Rudy, apabila dalam waktu satu bulan tidak ada transaksi, maka kepesertaanya akan dihentikan.

“Kalau sudah dihentikan seperti itu, maka yang bersangkutan tidak bisa lagi mendaftar di Kartu Prakerja, karena program ini hanya berlaku satu kali seumur hidup,” pungkasnya.

Lihat juga...