Hadirnya Vaksin Jangan Timbulkan Euforia Berlebih

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Masyarakat dunia harusnya merasa sangat beruntung, karena vaksin SARS-COV2 sudah ada yang memasuki tahap uji klinis fase 3. Jika saja, tidak ada saudaranya, SARS-COV1 yang masuk pada tahun 2013, mungkin belum ada vaksin yang memasuki tahap uji klinis fase 3.

Tapi, hal ini tidak boleh menjadi euforia dan melupakan protokol 3T dan 3M. Karena vaksinasi bukan berarti bebas dari COVID-19.

Ahli Biomolekuler LIPOTEK Dr. Ines Atmosukarto menyatakan keberhasilan suatu vaksin tidak bisa hanya dilihat dari bentuk virusnya.

Ahli Biomolekuler LIPOTEK Dr. Ines Atmosukarto saat menjelaskan tentang vaksin SARS-COV2 dalam diskusi online, Minggu (27/9/2020). -Foto Ranny Supusepa

“Harus melewati uji klinis. Dari semua vaksin yang melewati tahap uji klinis fase 1 dan fase 2 menuju fase 3, menunjukkan imunogenitas. Artinya, terjadi respon imun dalam bentuk antibodi. Tapi kan belum tahu apakah antibodi ini bisa menetralisir virus di tubuh” kata Ines dalam diskusi online, Minggu (27/9/2020).

Ia menyampaikan bahwa memang dalam pengujian dalam tabung menunjukkan antibodi berhasil menetralisir virus. “Tapi kan belum tahu bagaimana di manusia. Ini pentingnya diadakan uji klinis fase 3,” ujarnya.

Ines menyatakan para peneliti secara khusus dan masyarakat secara umum, harusnya bersyukur bahwa COVID 19 ini disebabkan oleh SARS-COV2 yang bersaudara dengan SARS-COV1.

“Kita sudah dapat banyak pelajaran dari saudaranya dulu. Bayangkan jika ini adalah koloni yang benar-benar baru. Gak akan ada itu 8-9 calon vaksin yang akan memasuki uji klinis fase 3 dalam waktu singkat,” ucapnya lebih lanjut.

Ia menambahkan bahwa sembilan bulan merupakan waktu yang singkat dalam penemuan vaksin.  “Sabar itu kuncinya. Kita peneliti pun tidak bisa memastikan apakah akhir tahun atau awal tahun depan vaksin akan tersedia. Semuanya hanya bisa dikira-kira dari schedule protokol uji klinis,” imbuhnya.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Prof. Akmal Taher dalam diskusi online, Minggu (27/9/2020). -Foto Ranny Supusepa

Selain kesabaran, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Prof. Akmal Taher menyebutkan masyarakat harus bisa mengatur ekspektasi mereka terhadap vaksin.

“Saya perkirakan, di antara akhir tahun atau awal tahun akan ada vaksinnya. Cukup sering, pendapat optimis bahwa akan akhir tahun. Dan pemerintah pun sudah banyak melakukan percepatan. Tapi, kembali saya tekankan, saya gak berani janji,” ungkap Prof. Akmal.

Karena, jika memang bisa tersedia, diperkirakan jumlahnya antara 20-30 juta vaksin. “Nah, sekarang coba dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia. Satu orang membutuhkan vaksin, artinya ada sekitar 10-15 juta orang yang mendapatkan vaksinasi. Kalau kita bandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia, rasionya sangat kecil,” paparnya.

Pembicaraan terkait siapa yang akan menerima vaksin ini lebih dahulu, menurutnya, sudah menjadi perbincangan lama.

“Jadi, kalaupun ada, belum tentu kita yang dapat. Belum lagi, jika kita perkirakan adanya diskon dari 20-30 juta vaksin tersebut, yang tidak menimbulkan imunitas. Kan lebih sedikit lagi jumlahnya,” ucapnya lagi.

Sehingga, ia menekankan, berita baik vaksin ini, jangan menjadikan masyarakat lupa untuk menjalankan 3T dan 3M.

“Yang sudah divaksinasi masih bisa terpapar oleh orang yang belum divaksin dan ada kemungkinan, sudah divaksin pun, imunitas-nya tidak respon. Jadi tetap jalankan 3M dan 3T. Jangan ambil risiko yang membahayakan,” pungkasnya.

Lihat juga...