Hari Raya Galungan Gambaran Pluralisme di Desa Ruguk Ketapang

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Suasana Hari Raya Galungan bagi umat Hindu di Desa Ruguk, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan berjalan khidmat. Lebih kurang 60 kepala keluarga menggelar sembahyang di Pura Kayangan Tunggal, Taman Giri. Protokol kesehatan dilakukan dengan ketat memakai masker, cuci tangan dan jaga jarak.

Saiful, Kepala Desa Ruguk menyebut umat yang bersembahyang (pemadek) berasal dari satu wilayah. Meski pada masa pandemi Covid-19 perayaan Galungan digelar dengan kesederhanaan. Keberadaan pura dan umat Hindu di wilayah Ruguk menurutnya jadi gambaran pluralisme atau keberagaman di desanya.

Pluralisme tersebut diakuinya dengan adanya suku, agama yang hidup berdampingan di wilayahnya. Sejak puluhan tahun silam umat Hindu dan Islam telah bersama membangun desa yang berada di pesisir timur Lamsel tersebut. Sebagai bentuk saling menghargai sebagian umat Islam kerap bersilaturahmi untuk mengucapkan Galungan dan Kuningan.

“Makna Galungan diyakini sebagai perayaan hari suci kemenangan kebajikan atau dharma melawan kebatilan atau adharma, jadi refleksi untuk saling hidup berdampingan yang selama ini kita jaga puluhan tahun,” terang Saiful di Ruguk saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (16/9/2020).

Sikap saling membantu dalam bingkai pluralisme diakui Saiful telah terjaga sejak lama. Saat masa pandemi Covid-19 ia menyebut musuh bersama bagi seluruh umat manusia harus dihadapi. Solusi terbaik dilakukan dengan saling menjaga kebersihan, menerapkan protokol kesehatan. Kepedulian pada sesama juga perlu dilakukan untuk menghadapi masa sulit.

Diperingati pada tanggal 16 September selama sepuluh hari, umat Hindu akan merayakan Kuningan pada 26 September mendatang.

Bagi umat Hindu yang ada di wilayah tersebut ia berharap menjaga persatuan dan kesatuan. Kebhinekaan hidup bersama dengan suku dan agama lain harus tetap dipertahankan untuk membangun desa.

“Warga kami banyak berasal dari suku Jawa, Banten, Cirebon, Sunda, Bali dan sejumlah suku lain, selain warga Lampung sehingga pluralisme selalu terjaga,” bebernya.

Wayan Artari, salah satu umat Hindu menyebut perayaan Galungan berjalan khidmat. Ia dan jemaat lain bersembahyang di pura Kayangan Tunggal, Taman Giri yang merupakan pura desa setempat. Menerapkan protokol kesehatan ia membawa banten atau sesaji untuk persembahan. Rasa syukur kepada Sang Hyang Widi bisa merayakan Galungan kala pandemi.

“Percikan tirta suci oleh pinandita jadi harapan agar kami dihindarkan dari segala penyakit dan marabahaya,” bebernya.

Usai melakukan persembahyangan, Wayan Artari menyebut ia akan menerima kunjungan. Kerabat dan sebagian warga dari umat beragama lain kerap akan berkunjung. Meski demikian tahun ini kondisi tersebut lebih terbatas. Meski tetap dilakukan kunjungan setiap rumah telah menyediakan tempat cuci tangan.

Keberagaman yang kaya di Desa Ruguk sekaligus dipuji Winarni Nanang Ermanto. Ketua tim penggerak PKK, Bunda PAUD yang juga istri bupati Lamsel, Nanang Ermanto itu menyebut toleransi dan sikap saling menghargai harus selalu dijaga. Pada masa pandemi Covid-19 kebersamaan dalam keberagaman harus ditingkatkan.

“Pada hari suci Galungan dan akan dilanjutkan Kuningan umat Hindu harus tetap bisa mendisplinkan protokol kesehatan,”cetusnya.

Pluralisme yang terjaga dalam bingkai persatuan menurutnya jadi modal untuk bersama membangun desa. Suasana desa yang sebagian ditinggali oleh warga suku Bali yang memeluk agama Hindu semakin memperkaya khasanah budaya di Lamsel. Ia menyebut meski dirayakan dalam kesederhanaan umat Hindu diharapkan bisa merayakan Galungan dan Kuningan dengan khidmat.

Lihat juga...