Hasil Panen Padi Petani Lamsel Buruk Akibat Cuaca

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Perubahan musim kemarau ke penghujan disertai angin kencang, menyebabkan sejumlah tanaman padi di Lampung Selatan, rusak. Alhasil, kualitas gabah pun menurun dan mempengaruhi harga jual, sehingga petani memilih menyimpannya untuk kebutuhan sendiri.

Suyatinah, petani di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, mengatakan menjelang masa panen saat perubahan musim kemarau ke penghujan menyebabkan populasi wereng meningkat.

Menurutnya, hama wereng menyebabkan kondisi gabah kurang berisi dan berwarna hitam. Kualitas gabah yang rendah tersebut mengakibatkan agen membeli gabah kering panen (GKP) di bawah harga pokok pembelian. Saat ini, harga di level petani hanya mencapai Rp4.000, di bawah harga pokok yang ditetapkan, yaitu Rp4.500 per kilogram.

Suyatinah, petani di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Rabu (30/9/2020). -Foto: Henk Widi

“Hasil panen gabah yang kualitasnya rendah imbas perubahan cuaca, membuat petani enggan menjual gabah. Sebaliknya, lebih memilih menyimpan untuk stok pangan,” terang Suyatinah, Rabu (30/9/2020).

Suyatinah menyebut, saat dijual dalam bentuk beras, saat ini hanya dihargai Rp7.500 untuk kualitas gabah yang berwarna coklat. Warna coklat dampak wereng, ambruk akibat angin berimbas kualitas gabah anjlok.

Sebelumnya, harga beras yang telah digiling dengan kualitas bagus dihargai Rp10.000 per kilogram. Kualitas beras yang berkurang dampak perubahan cuaca, berimbas pada kualitas nasi yang dihasilkan. Imbas hama wereng, nasi yang dimasak akan cepat basi dan memiliki rasa kurang lezat saat disantap, sehingga kurang diminati pembeli.

“Saya memilih menyimpannya sebagai cadangan, agar bisa dioplos dengan beras berkualitas bagus,” cetusnya.

Hasil panen mencapai 4 ton dari dua lahan sawah, sebutnya, akan disimpan untuk stok pangan. Ia mengaku jarang menjual gabah kering setelah memperhitungkan sulitnya menanam padi. Kondisi ekonomi yang kurang menentu, sekaligus menjadi alasan memilih menyimpan cadangan gabah. Ia akan menggiling gabah saat dibutuhkan dan menjualnya dalam bentuk beras saat dibutuhkan.

Subroto, petani di desa yang sama juga memilih menyimpan gabah kering usai dipanen. Sebagian hasil panen yang dijual akan digunakan sebagai pengganti biaya operasional. Kebutuhan biaya bibit, pupuk, obat-obatan, diperoleh dari hasil penjualan gabah hasil panen. Serangan hama wereng, sebutnya, merata hampir pada semua lahan petani di desa Pasuruan.

“Perubahan cuaca sangat mempengaruhi perkembangan populasi hama, salah satunya wereng. Dampaknya, hasil panen berkurang,” cetusnya.

Menyimpan sebagian hasil panen untuk kebutuhan sehari-hari dilakukan Subroto sebagai cadangan. Sebab selama masa pandemi Covid-19, ia tidak mendapatkan bantuan langsung tunai dan sejumlah bantuan lainnya.

Selain di wilayah Pasuruan, kondisi yang sama juga terjadi di Desa Berundung. Sawah milik Subandi di Kecamatan Ketapang itu sebagian roboh akibat angin kencang dan hujan. Meski masih musim kemarau, imbas perubahan cuaca tanaman padi yang roboh merusak bulir gabah. Proses pemanenan padi semula memakai mesin, terpaksa dilakukan manual.

Jerami padi yang roboh imbas cuaca hujan disertai angin, sebut Subandi, tidak bisa dimanfaatkan. Pada kondisi normal, jerami padi bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak. Imbas ambruk jerami yang telah dipanen hanya disimpan, selanjutnya akan dibakar. Jerami padi yang roboh membuat petani sulit memanen dengan mesin combine harvester, sehingga harus dipanen manual.

Lihat juga...