Hujan yang Turun Tiba-tiba di Musim Kemarau, ini Penyebabnya

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Kelas 1 Semarang, Iis Widya Harmoko, saat ditemui di Semarang, Kamis (17/9/2020). Foto Arixc Ardana

SEMARANG — Kota Semarang sudah memasuki musim kemarau, namun tidak jarang, di tengah teriknya sinar matahari, hujan lebat tiba-tiba turun. Fenomena tersebut, tidak urung membuat masyarakat bertanya-tanya.

“Saya juga tidak tahu, kenapa tiba-tiba di tengah musim kemarau, dengan suhu udara tinggi, namun kemudian mendung dan turun hujan. Meski lebih banyak hujan gerimis, namun juga pernah hujan lebat,” papar Bayu Widagdo, warga Semarang, saat ditemui Kamis (17/9/2020).

Menjawab fenomena tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kelas I Semarang, angkat bicara.

“Ada sejumlah penyebab, kenapa pada musim kemarau tetap turun hujan. Seperti disampaikan sebelumnya, bahwa musim kemarau tahun ini cenderung basah sehingga beberapa wilayah di Jateng, termasuk di Kota Semarang tetap mengalami hujan hingga akhir tahun,” papar Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Kelas 1 Semarang, Iis Widya Harmoko, Kamis (17/9/2020).

Hal tersebut terjadi karena ada dinamika atmosfer. Dari hasil model peragaan menunjukkan, pada musim kemarau ini, kecenderungan hujan akan lebih banyak dibanding musim kemarau tahun lalu.

“Selain itu, juga adanya perkembangan dinamika cuaca akibat hadirnya pola gangguan atmosfer di wilayah ekuator tropis, sehingga dapat menghasilkan hujan di wilayah yang tengah mengalami musim kemarau,” sambungnya.

Ditambahkan, untuk musim penghujan terutama di Kota Semarang diprediksi akan dimulai pada akhir Oktober 2020. “Untuk masa peralihan, atau pancaroba, normalnya sekitar satu bulan sebelum masuk musim hujan. Itu juga menjadi penyebab turunnya hujan saat musim kemarau,” tambahnya.

Pihaknya memperkirakan, pada musim hujan mendatang ada kecenderungan curah hujan akan lebih tinggi. Melihat hal tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan mitigasi potensi bencana, seperti banjir dan tanah longsor.

“Kita perkirakan, awal musim hujan di Jateng akan masuk di wilayah bagian tengah. Kemudian secara bertahap akan meluas ke wilayah lainnya. Untuk di akhir bulan Oktober 2020 , prediksi kami, musim hujan sudah masuk di sejumlah wilayah seperti Kota Salatiga, Magelang dan Surakarta, kemudian Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Temanggung, Kabupaten Magelang, Klaten, Purworejo dan Kebumen,” terangnya.

Menyusul kemudian, beberapa wilayah seperti, Tegal dan Pekalongan, Jepara, Pati, Kudus, Rembang dan Blora, yang akan mulai mengalami musim hujan pada awal November 2020.

“Termasuk juga, sebagian besar wilayah Demak, Grobogan dan Wonogiri, sebagian wilayah Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Kendal, Sragen dan Karanyar, Batang, dan Kota Semarang bagian utara,dan sebagian wilayah utara Kabupaten Boyolali,” tandasnya.

Hal senada juga disampaikan Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Kelas 1 Semarang, Tuban Wiyoso. Pihaknya meminta masyarakat untuk mewaspadai masa peralihan atau pancaroba, yang diperkirakan terjadi pada bulan September – Oktober 2020.

“Memasuki musim pancaroba, cuaca ekstrem bisa saja terjadi, seperti hujan lebat tiba-tiba dengan intensitas sedang-lebat, dalam durasi pendek juga dapat disertai angin kencang dan petir,” jelasnya.

Tidak hanya itu, beberapa kondisi fisis dan dinamika atmosfer juga diperkirakan menunjukkan potensi penambahan curah hujan, sehingga masyarakat perlu mewaspadai pula potensi bencana hidrometeorologi seperti tanah longsor dan banjir.

Lihat juga...