IDEAS: Indonesia Kerap Cetak Rekor Kasus Covid-19

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Peneliti IDEAS, Fajri Azhari pada diskusi webinar #IDEASTalks di Jakarta, Jumat (11/9/2020). Foto: Sri Sugiarti.

JAKARTA — Peneliti Institute for Democratic and Poverty Studies (IDEAS), Fajri Azhari mengatakan, Indonesia adalah negara dengan kasus Covid-19 tertinggi di Asia Tenggara, dan semakin sering mencetak rekor kasus harian tertinggi.

Hal ini dikarenakan penerapan new normal di Indonesia belum sesuai standar organisasi kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO). Ketetapan WHO, sebelum menerapkan new normal sebuah negara itu harus dapat mengendalikan pandemi Covid-19.

“Yakni ditandai dengan tidak adanya laju pertumbuhan kasus Covid-19 dan nihil transmisi lokal. Namun, Indonesia semakin sering mencetak rekor kasus Covid-19, dan menjadi negara tertinggi pandemi ini di Asia Tenggara,” ujar Fajri pada diskusi webinar #IDEASTalks bertajuk ‘New Normal dan Emergency Brake Policy’ di Jakarta, Jumat (11/9/2020).

Dalam beberapa hari terakhir, penambahan kasus positif Covid-19 harian lebih dari 3.000 orang.

Padahal kata dia, sebagaimana diprediksikan di awal relaksasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), memaksakan adopsi new normal di tengah pandemi adalah pertaruhan yang sangat berisiko.

Pada masa PSBB tanggal 6 April hingga kasus harian bertambah rata-rata 445 kasus melonjak menjadi 1.141 kasus. Lalu di bulan berikutnya dari 6 Juli sampai 5 Agustus meningkat lagi sekitar 1.714 kasus. Di bulan ketiga ini tembus 2.000 kasus per hari.

Bulan ketiga penerapan new normal yani tanggal 6 Agustus-5 September 2020 tercatat kasus harian menembus 2.380 kasus

“Setelah tiga bulan mengadopsi new normal, kasus Covid-19 Indonesia terus melonjak. Per 8 September 2020, telah menembus 200.000 kasus,” imbuhnya.

Menurutnya, tidak hanya kasus positif, penambahan kasus kematian akibat Covid-19 melonjak cukup tinggi setelah new normal. Sebelum new normal, rata-rata kasus kematian harian hanya 26 orang.

“Pasa new normal dari 26 kasus bertambah jadi 49 kasus rata-rata harian. Lalu, new normal kedua naik lagi menjadi 73 kasus dan terakhir bertambah jadi 80 kasus,” ujarnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, tingkat kapasitas testing di daerah berbeda-beda setiap wilayahnya. Basis testingnya adalah sesuai dengan jumlah pasien yang terkonfirmasi dengan metode PCR (Polymerasw chain reaction).

Yakni satu pasien positif harus mampu melacak (tracing) minimal 30 orang yang memiliki kontak erat. “Lebih banyak, lebih baik. Untuk memastikan wilayahnya benar-benar aman,” ujarnya.

Namun dia melihat, setelah lebih enam bulan Covid-19 melanda, kondisi Indonesia masih jauh dari melandaikan kurva pandemi ini. Sehingga, menurutnya, dibutuhkan perubahan kebijakan dari pemerintah yang signifikan, sebelum beban pandemi semakin melonjak dan menjadi tidak terkendali ke depan.

Kini kata dia, terdapat tanda-tanda bahwa sistem kesehatan mulai menuju batas kapasitasnya. Hingga 5 September, angka case fatality rate (CFR) mencapai 4,2 persen, atau 7.940 kematian.

Di saat yang sama, kasus positif yang membutuhkan perawatan mencapai 24,3 persen, atau 46.324 pasien. Angka-angka ini menunjukkan pola akselerasi yang mencemaskan, seiring kasus positif harian yang juga terus menanjak.

Terkait kondisi ini, Fajri menyarankan pemerintah mencontoh negara Thailand dan Taiwan yang terlebih dahulu menekan laju kasus Covid-19 sebelum menerapkan new normal. Penerapan new normal harus memperhatikan aspek kesehatan dan keselamatan warga Indonesia.

“Jadi ketika pemerintah mengambil keputusan new normal, maka itu merupakan sebuah pertaruhan yang sangat berisiko terkait dengan keselamatan rakyat Indonesia,” pungkasnya.

Lihat juga...