Ikan Gabus Komoditas Unggulan Berbasis Lokal

Ikan gabus – Foto Ant

JAKARTA – Komoditas ikan gabus, termasuk komoditas unggulan berbasis lokal, sehingga perlu lebih banyak pelaku usaha yang membudidayakannya.

“Produksi ikan gabus tahun 2015 mencapai 6.490 ton meningkat di 2019 menjadi 21.987 ton. Kenaikan ini tentunya sangat menggembirakan,” kata Dirjen Perikanan Budi Daya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto, Minggu (27/9/2020).

Namun, selama ini ikan gabus yang dijualbelikan atau diekstrak untuk diambil albuminnya berasal dari penangkapan di alam. Sehingga, sangat dikhawatirkan kelestariannya. Slamet mengingatkan, penangkapan ikan gabus di alam secara terus menerus berakibat kepada penurunan populasinya di alam. “Selain itu, ikan gabus akan menjadi langka karena stoknya berkurang,” ucapnya.

Ikan yang memiliki nama latin Channa striata tersebut, menjadi komoditas yang bernilai ekonomis untuk kegiatan budi daya. Selain harganya yang tinggi berkisar Rp50 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram, ikan gabus juga memiliki nilai tambah, yaitu mengandung protein jenis albumin yang berfungsi meningkatkan daya tubuh.

Untuk itu, KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budi Daya, mempunyai program pengembangan, untuk meningkatkan produksi ikan gabus yang berasal dari kegiatan budi daya. “Pertama, kita akan memperbanyak usaha-usaha pembenihan skala rakyat. Kita akan galakkan pembenihan ini, karena benih merupakan salah satu yang utama dalam kegiatan perikanan budi daya sehingga kalau kita ingin mengembangkan budi daya ikan gabus ini maka produksi benih gabus juga harus ditingkatkan,” ujar Slamet.

Menurutnya, teknologi pembenihan ikan gabus ini telah dikuasai dengan baik, sehingga masyarakat dapat mengembangkannya sebagai komoditas budi daya ekonomis. Slamet menyebut, KKP tengah membuat kawasan-kawasan pembudidayaan ikan gabus berkelanjutan. “Jadi kita akan membuat kawasan ikan gabus ini. Tentu saja, nanti akan bekerja sama dengan asosiasi ikan gabus sehingga bisa memastikan hasil-hasil produksinya dapat terserap atau bisa diambil oleh asosiasi ini untuk dipasarkan”, tambahnya.

Langkah ketiga adalah, membuat kegiatan-kegiatan sosialisasi terkait teknologi budi daya ikan gabus di masyarakat secara luas. Segmentasi-segmentasi usaha, menjadi strategi penting, karena ikan gabus perlu pemeliharaan dengan waktu tertentu, untuk menjadikannya sebagai ikan konsumsi.

Sehingga di sektor segmentasi budi daya perlu digalakkan. “Ke depannya harapan kami, ikan gabus ini juga akan menjadi ikan andalan nasional khususnya dari jenis ikan-ikan lokal yang ada di Indonesia. Di samping ikan gabus, juga kita kembangkan ikan-ikan lokal lainnya seperti papuyu, belida, tor soro (dewa) dan jenis ikan lokal lainnya,” pungkas Slamet. (Ant)

Lihat juga...