Ikan Laut Kering Tanpa Garam Diminati Usaha Kuliner

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Usaha pengawetan ikan laut tanpa menggunakan garam banyak diminati sejumlah pemilik usaha kuliner di Lampung Selatan. Marniati, pemilik warung makan di area dermaga dua Pelabuhan Bakauheni menyebut jenis ikan yang diawetkan berupa ikan teri, parang, jambal, cumi cumi dan gurita. 

Ikan laut yang dikeringkan tanpa proses perebusan memakai garam jadi bahan baku berbagai olahan. Olahan dari ikan teri, pari, jambal, cumi dan gurita sebutnya digunakan sebagai campuran sambal. Kurangnya kadar garam pada olahan hasil laut sebutnya jadi pilihan bagi konsumen yang pantang makanan tertentu. Apalagi kadar garam kerap dihindari penderita hipertensi.

Marniati mengaku telah memiliki pemasok tetap hasil ikan yang diawetkan tanpa garam. Pada kondisi normal ikan hasil tangkapan nelayan yang diawetkan menjadi ikan asin melalui proses proses perebusan. Pemberian garam saat perebusan akunya bisa menambah kadar garam dalam bahan makanan tersebut. Gantinya semua jenis ikan laut awetan dipilih tanpa memakai garam.

“Risiko ikan laut yang dikeringkan untuk proses pengawetan maksimal hanya mampu bertahan dua bulan sementara memakai garam bisa enam bulan lebih, tapi kualitas ikan laut yang diawetkan tanpa garam lebih banyak diminati,” terang Marniati saat ditemui Cendana News, Sabtu (26/9/2020).

Marniati, pemilik warung makan di area pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan menggunakan ikan kering tawar untuk pembuatan sambal balado, Sabtu (26/9/2020). -Foto Henk Widi

Hasil olahan ikan tanpa garam sebutnya kerap diminati konsumen menjadi sambal balado. Sebagian ikan yang diawetkan jenis parang, gurita, jambal diolah menjadi gulai. Konsumen memilih olahan ikan laut yang diawetkan tanpa garam karena lebih renyah. Meskipun hanya disambal dengan cabai,tomat dan penyedap rasa ikan kering jadi olahan kuliner yang lezat.

Eci, pemilik warung makan di Jalan Lintas Timur KM 3 Bakauheni menyebut ikan laut yang diawetkan memiliki banyak variasi. Sejumlah produsen pengawetan ikan menggunakan cara tradisional dengan pengasapan, penggaraman dan pengeringan tanpa garam. Ikan laut tanpa garam merupakan jenis hasil olahan ikan yang dikeringkan.

“Bahan setengah jadi yang dikeringkan,diasap kerap diberi pengawet garam, tapi kini tren konsumen menyukai yang diolah tanpa garam,” cetusnya.

Kesadaran masyarakat akan kesehatan menjaga pola asupan makanan menjadikan ikan yang diawetkan dengan garam dikurangi. Eci mengaku tetap menggunakan ikan teri jengki, teri nasi dan teri katak yang diawetkan dengan penggaraman. Bahan baku kuliner itu kerap diolah menjadi sambal tempe dicampur petai untuk campuran nasi rames.

Ikan olahan yang dikeringkan tanpa garam sebutnya harus selalu habis dalam waktu dua bulan. Sebelum dua bulan ikan yang dikeringkan dengan tanpa garam itu sebutnya kerap habis. Minat konsumen akan olahan ikan laut yang telah diawetkan menjadi penambah selera makan. Terlebih variasi sambal yang dibuat olehnya dicampur dengan petai,jengkol yang digemari pelanggan.

“Pelanggan yang menghindari kolesterol dan hipertensi bisa memilih makanan rendah garam,”tegasnya.

Salamah, produsen ikan awetan di Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi menyebut mengeringkan teri jengki, teri nasi dan teri katak. Ketiga jenis ikan tersebut merupakan hasil tangkapan nelayan pesisir timur. Saat musim kemarau dengan kondisi panas maksimal proses pengeringan memanfaatkan sinar matahari.

“Tanpa direbus memakai garam ikan yang dikeringkan sempurna bisa awet maksimal tiga bulan,” terangnya.

Pengeringan untuk menghilangkan kadar air sebutnya sekaligus mengurangi garam. Pengawetan ikan tanpa proses perebusan memakai garam banyak diminati. Harga jual ikan teri yang dikeringkan tanpa garam atau dikenal teri tawar sebutnya lebih mahal. Ikan teri rebus dengan garam yang telah kering dijual Rp60.000 sementara tanpa garam bisa mencapai Rp90.000.

Penggunaan ikan yang dikeringkan tanpa garam diakui Sulaiman produsen awetan ikan di Bakauheni. Jenis cumi cumi, sotong, gurita dan ikan teri yang jumlahnya terbatas dominan dikeringkan tanpa garam. Jumlah ikan yang dikeringkan sebutnya kerap hanya mencapai satu kuintal. Hal tersebut berbeda dengan ikan jenis petek,pepirik dan ikan teri lain yang jumlahnya mencapai satu ton.

“Ikan yang diawetkan dengan proses perebusan harus memakai garam apalagi saat panas matahari kurang,” cetusnya.

Ikan yang dikeringkan tanpa garam bilang Sulaiman memiliki rasa gurih. Peminat kerap sejumlah ibu rumah tangga yang suaminya melakukan diet ketat garam. Memiliki nilai ekonomis tinggi ikan yang dikeringkan tanpa garam bisa diolah menjadi berbagai varian olahan. Sebagian pemesan teri, cumi yang dikeringkan tanpa garam memakainya untuk sambal kering yang dijual dalam kemasan.

Lihat juga...