Ini Alasan Mengapa Mapel Sejarah Harus Tetap Ada

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Guru Sejarah SMAN 5 Bandung Eka Harijanto, MPd, saat dihubungi terkait wacana untuk revisi mapel sejarah di tingkat SMA dan SMK, Senin (21/9/2020) - Foto Ranny Supusepa

JAKARTA — Wacana revisi mata pelajaran (mapel) sejarah yang mencuat, ditanggapi sebagai hal yang kurang tepat oleh para pengajar. Memperbaiki kurikulum merupakan suatu hal yang wajar, tapi menjadikan sebagai mapel pilihan di jenjang SMA ataupun menghapusnya di jenjang SMK, dianggap akan mempengaruhi nilai nasionalisme generasi muda.

Guru Sejarah SMAN 5 Bandung Eka Harijanto, MPd, menyampaikan bahwa sejarah bukan hanya tentang tahun dan peristiwa.

“Tapi merupakan suatu bentuk berpikir kritis, pewarisan nilai-nilai, pengetahuan masa lalu untuk perbaikan masa depan, kebijakan dan kearifan,” kata Eka saat dihubungi, Senin (21/9/2020).

Untuk mengubah kurikulum 2013, yang saat ini sedang berjalan, ia menyatakan sebaiknya dilakukan evaluasi terlebih dahulu.

“Masa berlaku kurikulum lazimnya 10 tahun dan sesudahnya bisa diubah, modifikasi atau perbaikan. Ada kurikulum 1969, 1975, 1984, 1994, 2001, 2004 dan terakhir 2013. Kurikulum 2013 belum dievaluasi sampai sejauh mana implementasinya, kelemahan dan kekuatannya serta kontribusinya dalam pendidikan Indonesia,” ujarnya.

Ia menyatakan penghapusan mapel Sejarah amat sangat berbahaya karena akan menjadikan generasi muda Indonesia nir sejarah, tidak memiliki akar dan kesadaran sebagai sebuah entitas bangsa, gilirannya akan melemahkan ketahanan, persatuan dan keutuhan bangsa.

“Kalau memang ada kelemahan dalam mapel Sejarah, baik materi, metode atau lainnya tentu bisa diperbaiki dan disempurnakan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Pengurus Besar PGRI, Dudung Nurullah Koswara saat dihubungi secara terpisah, menyatakan sejarah adalah mata pelajaran yang sangat penting bagi identitas bangsa.

“Bagi nasionalisme, kebangsaan dan membawa nilai-nilai substantif masa lalu. Bila hanya dijadikan pelajaran yang terintegrasi pada pelajaran lainnya sangat tak cocok,” kata Dudung.

Ia menyatakan pelajaran sejarah idealnya menjadi pelajaran wajib. Bangsa tanpa mengenal sejarah bangsanya akan sangat berbahaya bagi masa depan bangsa.

“Bangsa yang tidak punya masa lalu tidak akan punya masa depan. Karena masa lalu menyimpan ‘kode keras’ para pendahulu terkait karakter bangsanya. Rekaman kisah masa lalu adalah pembelajaran penting dan wajib diberikan pada anak didik. Ajaran agama pun banyak mengisahkan masa lalu terkait rahasia kehidupan manusia,” ujarnya.

Dalam keselarasan untuk menuju sains (science), teknologi (technology), teknik (engineering), seni (art) dan an Matematika (mathematic) atau STEAM/STEM, ia menyatakan, tidak menjadikan pelajaran sejarah menjadi tidak penting.

“Bagi saya, mapel sejarah bukan suatu pelajaran yang bisa diintegrasikan pada mapel lainnya. Sejarah pada tingkat dasar, mapel sejarah akan mengajarkan tentang kejujuran dan integritas dan nasionalisme. Pada jenjang yang lebih tinggi akan menjadi peningkatan wawasan, selain nilai kebangsaan dan nasionalisme. Sementara STEAM/STEM itu kan metode terkait pembelajaran yang sifatnya pada seni dan sains,” ujarnya lebih lanjut.

Ia menekankan bahwa tidak ada keinginan untuk menolak upaya penyederhanaan kurikulum.

“Namun jangan sampai mengabaikan mata pelajaran substantif yang sangat penting bagi nilai-nilai nasionalisme, kebangsaan, karakter dan masa depan bangsa,” pungkasnya.

Ia menambahkan , mengenyampingkan mapel sejarah, artinya bertentangan dengan Nawacita ke-8, yang mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan, yang menempatkan secara proporsional aspek pendidikan, seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta tanah air, semangat bela negara dan budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan Indonesia.

Lihat juga...