Ini Cara Khas Produsen Gula Lamsel Tetap Bertahan

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Kendala tidak memiliki kebun dan pohon kelapa tidak menyurutkan pelaku usaha pembuatan gula kelapa. Solusi menyewa pohon dan pindah lokasi dilakukan produsen gula kelapa di Lampung Selatan (Lamsel) untuk tetap bertahan.

Jaenuri, pembuat gula kelapa mengaku berpindah kecamatan dari Candipuro ke Bakauheni untuk menyewa pohon kelapa.

Sistem sewa pohon dilakukan oleh Jaenuri untuk tetap menjaga eksistensi usaha yang digeluti sejak belasan tahun silam. Ia menyebut memiliki pohon kelapa di kebun yang ada di Candipuro, namun sebagian tidak produktif. Faktor usia pohon berimbas produksi air bunga atau manggar kelapa berkurang. Sempat menghasilkan gula kelapa 140 kilogram per pekan hasil menyusut hingga puluhan kilogram.

Survei ke wilayah yang memiliki kebun kelapa luas dan bisa disewa atau dikontrak jadi pilihan. Rata-rata ia mendapatkan pemilik kelapa sebanyak 5 hingga 6 orang dalam satu wilayah. Satu petani bisa memiliki kebun dengan jumlah pohon kelapa mencapai 50 batang. Total sebanyak 100 batang kelapa di Bakauheni bisa disewanya dalam jangka setahun.

“Kalkulasi produksi gula kelapa yang bisa dihasilkan menjadi cara menentukan harga sewa sehingga petani diuntungkan dan produsen gula kelapa bisa tetap produksi minimal sepekan tiga kali,” terang Jaenuri saat ditemui Cendana News, Selasa (8/9/2020).

Sebanyak 100 pohon disebutnya telah disewa seharga Rp2juta atau rata rata Rp20.000 per pohon. Sewa tersebut terbilang murah karena hasil buah kelapa masih menjadi hak pemilik tanaman. Sebagai produsen gula kelapa atau gula merah ia terikat perjanjian hanya memanfaatkan bunga kelapa. Bunga yang dideres atau disadap akan menghasilkan cairan bahan baku gula.

Jaenuri, pembuat gula kelapa di Dusun Pinang Gading, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan mengolah air sadapan bunga kelapa bahan baku gula, Selasa (8/9/2020). -Foto Henk Widi

Bakauheni menurutnya jadi kecamatan ketiga yang ditempatinya. Sebelumnya ia melakukan penyewaan pohon kelapa di wilayah Kecamatan Sragi dan Palas. Setiap hari dari puluhan pohon kelapa ia bisa menderes rata rata 25 hingga 40 liter air bunga kelapa. Melalui proses pengolahan diperoleh sebanyak 15 hingga 20 kilogram gula kelapa.

“Rata rata perhari bisa mendapatkan omzet Rp360ribu dengan perkilogram harga jual Rp18ribu pada level petani,” cetusnya.

Hasil produksi gula akan dibeli oleh pengepul yang sekaligus pemberi modal. Sistem modal dari tengkulak menjadikan ia harus menjual produk gula merah sekaligus untuk memotong hutang. Modal dari tengkulak dipergunakan untuk menyewa pohon,membeli bahan bakar serta biaya hidup harian. Memasuki bulan kesembilan ia menyebut modal telah kembali.

Dibantu sang istri bernama Katini, Jaenuri memproduksi gula kelapa setiap hari. Puluhan batang kelapa dipanjat olehnya setiap hari untuk mendapatkan bahan gula merah. Produksi air deresan bunga kelapa kala kemarau sedikit berkurang meski ia tetap bisa memproduksi gula kelapa. Memakai cetakan batok dan bambu gula merah yang dicetak sang istri memiliki kualitas cukup baik.

Ishak,produsen gula kelapa asal Serang,Banten mengaku menyewa puluhan pohon kelapa. Setahun ia membayar Rp1,5juta untuk pemilik kebun yang ditanami kelapa. Jenis kelapa hibrida dengan ketinggian kurang dari 5 meter memudahkan proses penderesan. Setiap hari Ishak dibantu sang istri memproduksi gula kelapa meski setiap tahun pindah lokasi.

“Saya merantau atas rekomendasi kawan banyak pohon kelapa yang berpotensi dideres,” paparnya.

Usaha kecil bermodalkan uang dari hasil pinjaman tengkulak menurut Ishak cukup membantu. Tengkulak diakuinya tidak selalu berkonotasi negatif. Sebab hasil gula kelapa akan dikumpulkan, dibeli,dipasarkan oleh tengkulak ke sejumlah pasar tradisional. Dibeli seharga Rp18.000 perkilogram ia masih bisa membayar hutang modal,sewa pohon dan biaya operasional lain.

Ishak menyebut sewa pohon dan pindah lokasi masih jadi cara terbaik bagi usahanya. Sebab sebagai petani yang tidak memiliki lahan pohon kelapa masih bisa disewa. Proses menderes pohon kelapa tidak akan mempengaruhi produksi buah. Sebab sebagian bunga kelapa akan tetap dibiarkan menghasilkan buah sehingga bisa dimanfaatkan petani.

Lihat juga...