Inilah Terobosan Kemenag Kota Malang Luncurkan Lima Inovasi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MALANG – Menjawab tantangan di masa pandemi agar tetap dapat memberikan pelayanan prima (service excellence) kepada masyarakat, Kementerian Agama (Kemenag) kota Malang meluncurkan lima inovasi berbasis teknologi, yakni Sip MADU, Ditamanis, LeGo, SuruQ dan Dipo.

Kepala Kemenag Kota Malang, Dr. Muhtar Hazawawi, M.Ag, menyebutkan, dengan diluncurkannya lima inovasi tersebut Kemenag kota Malang ingin memberikan transformasi layanan kepada masyarakat. Dari yang dulunya pelayanan dilakukan secara manual dan harus datang ke kantor, sekarang bisa dilakukan secara online dimana saja tanpa harus datang langsung ke kantor Kemenag kota Malang.

“Kepuasan masyarakat menjadi hal yang paling utama bagi kami, sebab semua urusan dari lahir sampai mati ada di Kemenag,” sebutnya usai launching inovasi sekaligus deklarasi pencanangan zona integritas wilayah bebas korupsi dan wilayah birokrasi bersih melayani di lingkungan kantor Kemenag kota Malang, di MAN 2 Malang, Kamis (17/9/2020).

Dijelaskan Muhtar, sistem perpustakaan madrasah terpadu (SiP MADU) merupakan sebuah inovasi yang memiliki keunggulan untuk menjawab tantangan di era pandemi covid-19 yang hari ini belum selesai.

Di antaranya mampu mengintegrasikan sistem perpustakaan madrasah se-kota Malang dan membangun katalog perpustakaan madrasah bersama sekaligus bisa menjadi sumber belajar digital bersama. Terdapat pula layanan pinjam antarperpustakaan.

“Adanya inovasi SIP Madu ini juga akan memberikan gambaran bahwa madrasah di kota Malang sudah mempunyai model dan sistem pembelajaran berbasis IT,” ucapnya.

Selanjutnya inovasi Digitalisasi Data Madrasah, Guru dan Lembaga Keagamaan Islam (DITAMANIS) dimaksudkan bagaimana masyarakat kota Malang dapat mengakses data terkait madrasah, guru, maupun pondok pesantren dalam satu aplikasi.

Menurutnya Ditamanis dapat memberikan layanan data madrasah normal dari RA, MI, MTs, maupun MA baik negeri maupun swasta. Layanan peta data lembaga keagamaan Islam meliputi pesantren, madrasah diniyah dan lembaga pendidikan Alquran serta memberikan layanan data guru agama baik ASN maupun non ASN.

“Ada juga layanan online pendaftaran izin operasional lembaga keagamaan Islam,” terangnya.

Legalisir Online (LeGO) adalah inovasi yang ada di KUA, dimana selama ini setiap harinya ratusan orang datang ke KUA hanya untuk mengurus legalisir kutipan akta nikah dan dokumen lainnya. Tapi sekarang melalui inovasi LeGo ini legalisir kutipan akta nikah dapat dilakukan secara online.

“Aplikasi LeGo dapat diakses melalui PC maupun ponsel Android atau Iphone,” sebutnya.

Inovasi selanjutnya adalah Surat Rekomendasi Umrah ber QR Qode (SuruQ) yang dibuat untuk mencegah terjadinya pemalsuan surat rekomendasi umrah. Karena selama ini masih marak terjadi kasus pemalsuan rekomendasi.

“Kita masih ingat ada kasus pemalsuan tentang surat rekomendasi dan masalah-masalah umrah lainnya di Indonesia. Maka dengan SuruQ ini bisa menjamin keakuratan data sekaligus mencegah adanya pemalsuan surat rekomendasi. Terakhir inovasi Disposisi Online (DiPO) yang tidak lagi membutuhkan kertas untuk memberikan disposisi karena cukup dilakukan secara online,” tandasnya.

Sementara itu, Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI, Prof Dr H Muhammad Ali Ramadhani, STP, MT, yang secara langsung me-launching inovasi-inovasi tersebut menyebutkan bahwa produk-produk inovasi yang dibuat Kemenag kota Malang sesungguhnya merupakan sebuah solusi dari persoalan yang saat ini tengah dihadapi bersama.

Kehadiran musibah atau persoalan akan mengarahkan kepada kemampuan manusia untuk selalu bergerak, berpikir dan melakukan sesuatu.

“Teknologi hadir dalam kehidupan kita tidak untuk memperumit hidup manusia, tetapi justru untuk membantu hidup manusia. Ke depan saya harapkan inovasi Kemenag kota Malang ini bisa langsung terintegrasi dengan aplikasi yang ada di Kemenag pusat, agar lebih memudahkan masyarakat,” imbuhnya.

Lebih lanjut Walikota Malang, Sutiaji, mengaku sangat mengapresiasi inovasi-inovasi yang diberikan Kemenag kota Malang dalam upaya memberikan pelayanan prima kepada masyarakat.

“Kita harus bisa membaca situasi yang terjadi saat ini dan menciptakan inovasi-inovasi sebagai solusi dari permasalahan yang terjadi. Karena kalau kita tidak berinovasi maka kita akan tertinggal,” ucapnya.

Menurutnya, pengembangan ke depan diharapkan inovasi-inovasi tersebut bisa menjadi satu dalam sebuah aplikasi sehingga tidak perlu ada banyak aplikasi.

“Kalau bisa dijadikan satu dalam suatu aplikasi jadi tidak perlu sendiri-sendiri,” pungkasnya.

Lihat juga...