Jaga Kesehatan Gigi Harus Dilakukan Sejak Dini

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Umumnya orang akan datang ke dokter gigi setelah merasakan adanya gangguan pada gigi, baik itu gigi berlubang maupun gusi bengkak. Padahal menjaga kesehatan gigi ini sangat penting dilakukan sedini mungkin karena berpengaruh pada kesehatan dan juga rasa percaya diri.

drg. Freissy Nurul Afifa, menyatakan, menjaga kesehatan gigi harus dilakukan sejak dini, yaitu pada masa anak-anak.

“Pada anak, gangguan gigi, seperti gigi berlubang atau yang disebut karies bisa menyebabkan terganggunya kondisi gizi anak,” kata Freissy saat talk show kesehatan gigi oleh Lembaga Kesehatan Cuma-cuma Dompet Duafa (LKC DD), Rabu (16/9/2020).

drg. Freissy Nurul Afifa saat talk show kesehatan gigi yang diselenggarakan oleh LKC DD, Rabu (16/9/2020) – Foto: Ranny Supusepa

Gangguan gizi disebabkan anak yang mengalami gangguan pada gigi akan mengganggu proses pengunyahan makanan.

“Selain itu, akan mampu mengganggu fungsi bicara. Dan saat beranjak dewasa, akan mempengaruhi rasa percaya diri. Karena gigi yang berlubang akan menyebabkan adanya bau pada mulut,” ujarnya.

Lebih jauh, gangguan pada gigi bisa mempengaruhi perkembangan otak dan banyak saraf di mulut yang terhubung dengan saraf anggota tubuh lainnya.

“Sehingga gangguan pada gigi akan mempengaruhi bagian tubuh lainnya,” ujarnya lagi.

Untuk mencegah adanya gangguan pada gigi, harus dilakukan tahapan perawatan sejak kecil dan dilakukan secara rutin.

“Hindari konsumsi gula yang berlebih dan mengkonsumsi makanan minuman yang mengandung kalsium serta vitamin D,” ucapnya.

Dan tidak lalai dalam menyikat gigi minimal pada dua waktu, yaitu sebelum tidur di malam hari dan setiap selesai makan.

“Gunakan pasta gigi setiap kali menyikat gigi dan lakukan sesuai dengan aturan menyikat gigi yang benar. Jika dibutuhkan, bisa dibantu juga dengan dental floss atau benang gigi untuk mengeluarkan sisa makanan yang terselip di antara gigi. Dan kontrol ke dokter gigi, setidaknya enam bulan sekali, untuk memantau adanya lubang pada gigi yang tak terlihat oleh mata biasa,” kata Freissy.

Dalam menyikat gigi anak, ia menyatakan sudah bisa dilakukan sejak umur satu tahun.

“Jika anak sudah menyikat giginya sendiri tetap harus diawasi oleh orang tua, setidaknya hingga umur 8 tahun. Ini untuk memastikan bahwa cara menyikat giginya benar dan menggunakan takaran pasta gigi yang tepat,” urainya.

Menyikat gigi yang benar adalah dengan menggunakan gerakan melingkar yang berfungsi untuk membersihkan plak yang menempel antara gigi dan gusi.

“Lakukan pada setiap sisi, dari depan lalu ke sisi kiri dan kanan. Jangan lupa untuk menyikat sisi dalam dari gigi, dengan cara menyikat gigi secara vertikal sehingga tidak ada plak yang menempel,” urainya lagi.

Yang terpenting, lanjutnya, jangan menyikat gigi terlalu keras. Karena berpotensi untuk melukai gusi.

“Masa menyikat gigi yang efektif adalah dua menit. Untuk memastikan semua bagian gigi telah tersikat dengan baik,” tandasnya.

Pasta gigi, pada umumnya, mengandung fluoride, yang merupakan mineral mikro yang terdapat pada tulang dan gigi.

“Fluoride ini akan menjaga enamel gigi dengan cara memperlambat hilangnya mineral pada gigi, mencegah adanya lubang pada gigi dan mencegah pertumbuhan bakteri,” ucap Freissy.

Namun, perlu dipantau pula takaran pasta gigi yang dipergunakan.

“Fluoride dalam jumlah berlebih berpotensi menimbulkan fluorisis pada gigi. Sehingga, penting untuk memperhatikan jumlah penggunaan fluoride ini. Amannya adalah 0,06 mg per kilogram berat badan,” ujarnya lagi.

Dalam pengaplikasiannya, untuk anak satu tahun dengan berat 10 kg, takarannya adalah seukuran biji beras atau sekitar 0,1 mg.

“Sehingga jika kita kalkulasikan, sekali menyikat gigi 0,1 mg. Kalau dua kali 0,2 mg. Jika dibandingkan dengan dosis aman, dengan berat 10 kg, dosis yang diizinkan maksimal adalah 0,6 mg per hari. Jadi masih di bawah batas aman,” pungkasnya.

Lihat juga...