Jalur Trekking ke Danau Kelimutu Belum Banyak Dikunjungi

Editor: Mahadeva

ENDE – Pengelola Taman Nasional Kelimutu (TNK), di Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) telah membuka tiga jalur trekking. Jalur tersebut siap memanjakan wisatawan yang memiliki minat khusus berjalan kaki menuju Danau Kelimutu.

Meski begitu, jalur trekking yang dikembangkan sejak 2019 lalu itu masih belum banyak dikunjungi wisatawan. Apalagi di tengah situasi pandemi Corona sejak awal 2020 lalu. Pandemi COVID-19 membuat kunjungan ke Danau kelimutu tercatat menurun drastis. “Memang belum banyak wisatawan yang memanfaatkannya, karena memang baru diluncurkan dan kemudian ada pandemi Corona. Jalur ini melewati juga kebun kopi masyarakat di dalam kawasan hutan,” kata Hironimus Minggu, warga Desa Niowula, Kecamatan Detusoko, Kabuapten Ende, NTT, Minggu (6/9/2020).

Nimus menyebut, jalur trekking sepanjang 11 kilometer tersebut jika ramai dikunjungi akan membantu memberikan pendapatan bagi warga di desanya. Terutama bagi warga yang bertugas menjadi pemandu wisata. Sebagai salah satu warga, Nimus berharap, pandemi segera berakhir, sehingga wisatawan kembali banyak yang datang ke Kelimutu. Sehingga akan banyak yang mencoba jalur treking yang fasilitasnya telah disiapkan.

“Kalau banyak wisatawan yang menggunakan jalur trekking ini ke Danau Kelimutu, maka masyarakat yang menjadi pemandu di desa kami akan mendapatkan pemasukan. Masyarakat juga bisa mendapatkan pemasukan kalau wisatawan membeli buah-buahan dan keperluan lainnya di desa kami,” tandasnya.

Kepala Balai Taman Nasional Kelimutu (TNK), Persada Agussetia Sitepu mengatakan, bersama masyarakat di tiga desa penyanggah telah disepakati keberadaan jalur trekking menuju Danau Kelimutu. Agus menyebut, saat ini sudah ada tiga jalur trekking menuju Danau Kelimutu. Jalur dari Desa Wologai, di sebelah utara, jalur di Desa Niowula di bagian barat, serta jalur di Desa Sokoria yang ada di sebelah selatan Danau Kelimutu.

Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Nusa Bunga, Flores, NTT, Philipus Kami, saat ditemui Cendana News, Minggu (6/9/2020) – Foto : Ebed de Rosary

“Kami berencana membuka beberapa jalur trekking dan masyarakat di jalur treking tersebut juga sudah dilatih sebagai pemandu. Memang saat ini belum banyak yang memanfaatkannya, dan kami terus lakukan promosi,” tandasnya.

Agus menyebut, ketiga jalur trekking sudah disurvey oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Tim SAR Ende. Sudah dinyatakan layak, sehingga mitra pariwisata sudah dapat ikut mempromosikan keberadaanya.

Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Nusa Bunga, Philipus Kami berharap, semakin banyak dibangun kerjasama antara pihak TNK dengan warga desa adat di desa-desa penyanggah. Sehingga kegiatannya dapat membantu menggerakan dan menumbuhkan ekonomi di desa-desa tersebut.

Lipus berharap, masyarakat adat bisa mendapatkan manfaat dari kunjungan wisatawan dimana kampung-kampung adat pun mulai banyak dikunjungi termasuk situs-situs sejarah. “Kerjasama yang telah dibangun antara pihak TNK dengan komunitas masyarakat adat dan pemerintah di desa-desa penyanggah harus terus ditingkatkan, agar masyarakat bisa mendapatkan keuntungan dari kunjungan wisatawan,” harapnya.

Lipus mengatakan, selain kampung-kampung adat, pembangunan ekowisata serta jalur trekking merupakan sebuah terobosan yang baik, dengan melibatkan masyarakat sebagai pelakunya. “Masyarakat juga harus terus dilatih untuk melayani wisatawan tanpa harus meninggalkan tradisi adat dan budaya mereka. Pengembangan ekowisata sangat bagus untuk desa-desa penyanggah,” pungkasnya.

Lihat juga...