Jasa Tranportasi di Bakauheni Kembali Terdampak PSBB Jakarta

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Sudah satu jam lebih Sarifudin menunggu penumpang. Pengemudi travel trayek Pelabuhan Bakauheni ke Bandar Lampung itu berharap pelaku perjalanan asal Pulau Jawa turun dari kapal banyak. Ekspektasi tersebut tidak sesuai realita, pasalnya ia baru mendapat tiga penumpang. Sebagai pengemudi, ia baru akan berangkat saat penumpang penuh.

Kapasitas tempat duduk travel milik perusahaan Purnagama sebanyak delapan orang. Namun imbas Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) DKI Jakarta usahanya ikut terdampak. Pukulan telak sebagai pelaku usaha jasa transportasi antarkota sudah terpengaruh pandemi Covid-19 sejak enam bulan silam.

Normalnya ia bisa mengantongi omzet sekitar Rp500ribu sekali jalan atau satu trip. Butuh waktu hanya satu jam untuk memenuhi kursi penumpang lalu berangkat ke titik tujuan. Semenjak rencana PSBB DKI Jakarta penumpang menurun drastis. Sejak Sabtu (13/9/2020) jarang pelaku perjalanan hendak menuju ke Jakarta dan sebaliknya.

“Kami para pengemudi hanya mendapat penumpang asal Banten, Jawa Barat dengan jumlah terbatas bahkan saat akhir pekan, kondisi ekonomi yang sulit membuat pelaku perjalanan menunda untuk bepergian,” terang Sarifudin saat ditemui Cendana News, Selasa (15/9/2020).

Pembatasan dalam sektor tranportasi imbas pandemi Covid-19 sebelumnya dialami pada bulan Juni silam. Kala itu pembatasan antarwilayah berimbas pengemudi, pengusaha travel tidak mendapat penumpang. Pelarangan kendaraan berpenumpang menyeberang dengan kapal ikut memengaruhi travel antarprovinsi. Kini kondisi terulang kembali, terbayang tidak ada banyak uang untuk anak istri.

Setoran kepada pemilik usaha travel bisa mencapai Rp1juta per hari. Namun dengan berkurangnya jumlah penumpang ia dan pengemudi lain berharap relaksasi. Pencatat jumlah penumpang akan mennginformasikan sejak awal sehingga satu trip perjalanan travel bisa ditentukan. Membawa penumpang terbatas berarti setoran akan berkurang.

“Kewajiban setoran, kebutuhan makanan,bahan bakar dan membawa hasil untuk keluarga kerap tidak tercapai apalagi selama masa pandemi Covid-19,” terang Sarifudin.

Kondisi tersebut tidak dialaminya sendiri, sebab ada puluhan travel, angkutan pedesaan dan bus berebut penumpang. Pengurangan jumlah pelaku perjalanan asal pulau Jawa tujuan Sumatera dan sebaliknya berdampak langsung bagi usaha transportasi. Jumlah pemasukan dari mengangkut penumpang tidak sebanding dengan pendapatan tiket.

Ivan Rizal, Ketua DPC Khusus Organda Bakauheni saat ditemui di Pelabuhan Bakauheni, Selasa (15/9/2020). -Foto Henk Widi

Ivan Rizal, Ketua Dewan Pimpinan Cabang Organda khusus Bakauheni menyebut bus dioperasikan terbatas. Saat akhir pekan yang menjadi harapan bagi bus dan kendaraan tidak berdampak positif bagi pendapatan usaha transportasi. Pengaruh PSBB DKI Jakarta ikut mengurangi pelaku perjalanan yang selama ini didominasi wisatawan.

“Saat libur panjang,akhir pekan wisatawan asal Jakarta banyak berlibur ke Lampung kini berkurang bahkan tidak ada,” cetusnya.

Sejumlah armada bus di terminal eksekutif trayek terminal Rajabasa banyak diistirahatkan. Keputusan untuk mengurangi jumlah armada dilakukan untuk efesiensi biaya operasional. Jumlah penumpang minim tak sebanding cost yang dikeluarkan karena bus melewati Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) yang berbayar.

Sempat alami kondisi normal setelah pembatasan perjalanan dilonggarkan membuat wisatawan banyak datang. Pembukaan objek wisata alam di Lampung memberi dampak bagi pelaku jasa transportasi. Namun selanjutnya pembatasan kembali dilakukan memberi dampak signifikan penurunan jumlah penumpang. Satu trip bisa menghasilkan Rp1juta kini sulit mendapatkan omzet hingga Rp500ribu.

“Meski PSBB diberlakukan pada wilayah Jakarta namun pelaku perjalanan memilih menunda hingga dilonggarkan,” cetusnya.

Imbas berkurangnya jumlah penumpang disebutnya juga pada penumpang bus antar kota antar provinsi (AKAP). Sejumlah bus yang kerap memuat penumpang dalam jumlah banyak alami penurunan. Kecuali tidak mendesak untuk keperluan penting masyarakat menunda melakukan perjalanan. Kondisi tersebut menjadi pukulan bagi pelaku jasa transportasi.

Bagi Lindawati, pemilik kantin di dermaga satu Pelabuhan Bakauheni, penumpang bus jadi konsumen tetap. Namun imbas berkurangnya penumpang dampak PSBB DKI Jakarta jumlah konsumen berkurang. Bisa mendapat omzet Rp3juta per hari kini ia sulit untuk mendapatkan hasil Rp2juta. Konsumen yang dilayani sebagian pengurus jasa penyeberangan serta para kru kapal yang ada di darat.

Lihat juga...