Kantor Pos di Jalan Kenari

CERPEN TJAK S. PARLAN

PADA suatu hari dia menelepon mantan istrinya dan menanyakan kabar putri kecilnya. Sejak dia memeluknya di depan pagar halaman dengan perasaan getir dan tangan mungil putri kecilnya itu melambai kepadanya dua tahun silam, mereka jarang sekali berjumpa.

“Dia bersama Anwar, berjemur di atas.”

“Oh, ini pukul berapa?”

Jeda sebentar. Suara bersin-bersin menyusup ke ujung gawai.

“Kami terserang flu ringan. Anwar menyarankan agar sering-sering berjemur.”

“Hanya flu ringan, kalian akan baik-baik saja,” tanggapnya. “Saya sebenarnya ingin mengusulkan sesuatu untuk mengusir kebosanan. Apa dia tidak terlihat bosan?”

Suara bersin-bersin kembali menyusup ke ujung gawai. Beberapa hari sebelumnya dia juga mengalami hal yang sama. Namun, setelah minum obat dan makan-minum lebih terkontrol dari biasanya, gejala itu pun mereda. Tidak sebatas itu.

Dia juga mengunjungi seorang dokter untuk memastikan kondisi kesehatannya. Flu-batuk yang awalnya diterima sebagai penyakit biasa, belakangan kerap dicurigai sebagai aib sekaligus mala petaka. Sudah dua bulan sejak wabah mematikan itu menyerang seluruh kota, orang-orang harus mengurung dirinya di dalam rumah. Sekolah-sekolah, kantor-kantor, sejumlah pabrik diliburkan sampai segala sesuatunya membaik.

“Bagaimana mungkin dia tidak bosan,” jawab mantan istrinya. “Dia paling tidak suka berdiam lama-lama di rumah.”

“Ya, saya mengerti. Dia pasti bisa melalui semua ini.”

“Kau punya ide tentang apa?”

Dia tidak segera menjawab, seperti tidak yakin dengan apa yang ada dalam pikirannya. “Saya mulai menulis surat lagi,” ujarnya kemudian. “Seminggu ini sudah lima surat.”

“Maksudmu, kau ingin mengatakan bahwa kau bisa jatuh cinta pada masa pandemi seperti ini?”

Dia tertawa mendengar tanggapan perempuan yang pernah sangat dicintainya itu. Dia teringat surat-surat yang pernah ditulis untuk perempuan itu ketika dia jatuh cinta untuk pertama kalinya—dan perempuan itu selalu membalas surat-suratnya.

“Saya menulis surat untuk kawan-kawan lama,” jawabnya.

“Kau bisa menulis. Saya pernah senang membaca surat-suratmu. Tapi kau bisa mengirimi kawan-kawanmu e-mail kan? Kau tidak perlu repot-repot keluar rumah untuk pergi ke kantor pos. Semua orang harus di rumah sekarang.”

Dia tersenyum kecil, membayangkan perempuan itu akan mengomelinya sepanjang hari. Namun, itu tidak akan terjadi. Perempuan itu telah hidup bersama Anwar—seseorang yang kini menjadi ayah bagi putri kecilnya.

“Tidak apa-apa sesekali keluar rumah. Orang-orang tetap kehabisan susu, air minum, roti, atau mie instan. Tidak perlu terlalu khawatir. Saya akan tetap menjaga diri dengan baik.”

“Lakukanlah kalau begitu. Kau memang tidak bisa terlalu lama berdiam di rumah…”

Ada suara-suara lain di ujung gawai. Mungkin mereka sudah selesai berjemur. Mantan istrinya mengakhiri pembicaraan setelah mengucapkan ‘sampai jumpa’ dengan terburu-buru.

Hari itu juga dia mengemas surat-suratnya. Dia melakukannya dengan rasa senang yang cukup aneh. Dia membayangkan bagaimana reaksi kawan-kawan lamanya ketika membaca suratnya. Dia berharap seseorang akan membalas suratnya lalu melakukan hal yang sama: menulis surat dan mengirimkannya.
***

DIA mulai terbiasa keluar rumah, dua atau tiga kali dalam seminggu untuk pergi ke kantor pos. Kantor pos itu berada di kawasan yang ditumbuhi pohon-pohon kenari besar di sisi kiri-kanan jalan. Mungkin karena itulah jalan itu dinamai Jalan Kenari.

Dia selalu merasa lebih segar setiap kali melewati jalan itu. Setiap sore atau pagi orang-orang senang berjalan kaki atau mengayuh sepeda di sepanjang trotoarnya yang lebar. Namun, ketika kota ditutup karena wabah yang tidak kunjung mereda, jalur itu benar-benar lengang. Terkadang hanya terlihat satu-dua orang melintas dan berhenti di halaman kantor pos tua yang letaknya di ujung jalan.

Hari itu kantor pos terasa lebih sepi. Gedung tua bergaya art deco yang menjadi ciri khas utamanya, mengirimkan suasana lengang dari masa lalu ketika dirinya memasuki halaman parkir. Seorang satpam yang selalu menyarankan untuk mencuci tangan sebelum memasuki ruangan, dua orang perempuan 30-an tahun yang melindungi wajahnya dengan masker dan selalu menatap layar komputer yang berkedip-kedip, segera menandai kehadirannya.

“Mengirim dokumen lagi, Pak?” sapa seorang petugas loket—perempuan yang rambutnya ikal dan berwarna cokelat karamel.

Dia tersenyum seraya mengeluarkan sepucuk amplop berwarna cokelat dari dalam tas ranselnya. “Makin sepi, ya?” ujarnya.

“Beginilah,” jawab perempuan itu. “Isinya dokumen lagi, ya?”

“Sebenarnya hanya surat biasa.”

“Sepertinya ini menyenangkan. Kebiasaan Bapak berkirim surat-surat seperti ini.”

“Di sini lebih menyenangkan,” tanggapnya. “Sesepi apapun pastilah bertemu orang-orang. Mereka mungkin mengirim buku, kado ulang tahun, dokumen penting, atau sekadar surat-surat biasa. Saya tidak bisa membayangkan jika kantor ini tutup. Orang seperti saya pastilah tidak punya alternatif lain untuk menyapa kawan-kawan lamanya.”

“Tidak ada yang menyenangkan pada masa seperti ini. Tapi kami harus di sini. Kangen juga pada waktu-waktu ketika tempat ini dikunjungi orang banyak. Mereka mengantre pada tanggal-tanggal tertentu untuk segala macam urusan. Tapi, jujur saja, Pak,” perempuan itu berhenti sejenak dan memelankan suaranya, “Belakangan, kami lebih tenang ketika tidak banyak yang datang.”

Dia mengernyitkan dahi. Dalam situasi normal, obrolan semacam itu tidak pernah terjadi antara petugas loket dan seorang nasabah. Namun, dia menyadari sepenuhnya bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja.

“Ya, saya paham, tapi dengan jarangnya orang berkunjung seperti sekarang, pelayanan jadi lebih terasa manusiawi.”

“Maksud Bapak?”

“Ya, saya bisa mengobrol ringan dengan Anda. Seperti ketika saya mengobrol dengan tetangga atau kawan lama,” jawabnya seraya tersenyum.

Perempuan itu berusaha menahan tawanya dan mulai mengerjakan bagiannya: menyalin ulang alamat yang tertera di amplop, mencetak resi pengiriman, dan menyerahkan sebuah salinan kepadanya untuk dibubuhkan tanda tangan. “Maaf, Pak. Saya jadi seperti sedang curhat,” ujar perempuan itu kemudian.

Kali ini dia tertawa. “Berarti orang-orang di sini tidak suka dengan kehadiran saya, ya?”

“Bukan begitu, Pak,” tanggap perempuan itu. “Justru sebaliknya, kalau Anda datang berarti tempat ini masih sepi. “Lagi pula, siapa yang akan menulis surat pada zaman seperti ini?”

Dia tergelak dan perempuan itu pun menahan tawa. Dia meninggalkan kantor pos dengan langkahnya yang enteng melambai kepada satpam dan mengayuh sepedanya pelan-pelan menyusuri jalanan.
***

UNTUK pertama kalinya setelah enam bulan, pemerintah kota merilis data yang menggembirakan: tidak ditemukan satu pun kasus baru warga yang terjangkit wabah. Lalu pada suatu hari kota pun mulai dibuka.

Orang-orang merayakannya dengan keluar ke jalan-jalan. Mereka mengunjungi tetangga, kawan lama, keluarga, rekan kerja, atau kekasih. Ada juga yang menandai hari itu dengan berdoa di rumah-rumah ibadah. Namun, dia memiliki rencana yang lain.

Dia pernah berjanji pada dirinya sendiri: jika pandemi berakhir, hal pertama yang ingin dilakukannya adalah datang ke kantor pos lebih pagi dari biasanya. Namun, dia terlambat bangun. Sampai di kantor pos suasana terlihat lengang.

Di halaman parkir ia melihat sebuah bunga papan—sepertinya sebuah ucapan selamat untuk kebahagiaan seseorang. Ketika wajahnya muncul di pintu masuk, seorang petugas loket—yang tidak asing lagi baginya—memberi isyarat kepadanya agar bergegas. Dia tahu, kantor pos hanya buka setengah hari setiap Sabtu.

“Masih ada waktu, kan?”

Petugas loket itu mengiyakan. Sambil melayaninya, petugas loket itu bercerita bahwa hari itu harus bertugas sendirian. Hatinya terusik mendengar cerita itu. Itu hari yang istimewa dan dia ingin merayakannya dengan melihat wajah seseorang.

Dia begitu penasaran dengan wajah yang selalu tertutup masker itu sehingga dia berjanji bahwa suatu hari dia harus melihatnya.

“Dia menjalani hari bahagianya hari ini,” jelas petugas loket itu. “Sudah direncanakan sejak lama, tapi karena wabah, pernikahannya terpaksa ditunda.”

Dia mengangguk-angguk kecil. Pikirannya tersedot ke tempat yang lain—ke sosok perempuan yang diharapkan kehadirannya.

“Anda sendiri, kenapa tidak merayakan hari ini seperti yang lainnya? Ke luar, ke jalan dan melemparkan masker ke dalam tong sampah.”

Penjaga loket itu tersenyum tipis. “Saya akan pulang dan tidur setelah kantor ini tutup. Rhinitis saya kambuh. Tanpa ada wabah ini pun, saya tetap sering memakai masker.”

Dia sedikit menyesal telah menyinggung soal masker. “Tuhan maha baik,” hiburnya. Dia akan melindungi para penderita rhinitis dari segala macam wabah.”

Perempuan itu kembali tersenyum tipis dan terlihat lebih lega karena seluruh kewajibannya sudah tuntas. Dia sendiri segera berlalu dari kantor pos itu.

Di halaman parkir, dia menoleh sekali lagi pada papan. Dia mengeja nama yang tertera di sana seraya mengingat-ingat seseorang: mengapa begitu mirip—pikirnya. Dan yang muncul di benaknya kemudian adalah wajah mantan istrinya. ***

Tjak S. Parlan, lahir di Banyuwangi, 10 November 1975. Menulis cerpen, puisi, feature perjalanan, novel. Sehari-harinya juga mengerjakan perwajahan buku. Bukunya yang sudah terbit antara lain Kota yang Berumur Panjang (Kumpulan Cerpen Basa-basi, 2017), Sebuah Rumah di Bawah Menara (Kumpulan Cerpen Rua Aksara, 2020). Bermukim di Ampenan, Nusa Tenggara Barat.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...