Kaya Varian, Dinkop UKM Gencar Promosikan Kopi Purbalingga

Editor: Makmun Hidayat

PURBALINGGA — Banyaknya potensi kopi di Kabupaten Purbalingga membuat Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dinkop UKM) semakin gencar mempromosikannya. Kopi diharapkan bisa menjadi salah satu produk unggulan Kota Perwira tersebut.

Kepala Bidang UMKM Dinkop UKM Purbalingga, Adi Purwanto mengatakan, salah satu produk kopi Purbalingga bahkan sudah siap untuk merambah pasar nasional. Yaitu kopi hasil fermentasi para pelaku usaha kopi yang diberi nama kopi wine.

“Kopi wine ini merupakan bentuk inovasi dari pelaku usaha kopi di sini dan dari sisi rasa serta kualitas sudah mampu bersaing untuk pasar nasional, sehingga kita dorong untuk melakukan promosi secara terus-menerus,” kata Adi Purwanto, Selasa (1/9/2020).

Kepala Bidang UMKM Dinkop UKM Purbalingga, Adi Purwanto di Purbalingga, Selasa (1/9/2020). -Foto: Hermiana E. Effendi

Menurut Adi, kopi inovasi baru tersebut memiliki ciri khas rasa sendiri, sehingga diyakini akan mampu menciptakan segmen pasar tersendiri, di luar kopi robusta dan arabika yang sudah dulu dikenal luas. Harganya juga di bawah kedua jenis kopi tersebut.

Selain kopi yang dihasilkan pelaku usaha kopi di Desa Losari, Kecamatan Rembang tersebut, Dinkop UKM Purbalingga juga mendorong pengembangan kopi luwak. Kopi jenis ini banyak ditemukan di Desa Kramat, Kecamatan Karangmoncol dan harganya cukup mahal.

Salah satu pelaku usaha kopi luwak, Faiz mengatakan, biji kopi luwak diperoleh dari hutan dan cukup sulit mendapatkannya, hal inilah yang menyebabkan harga kopi luwak menjadi mahal.

“Biji kopi luwak ini diperoleh dari hutan yang banyak terdapat tanaman kopi dan masih ada luwak atau musang liar. Biji bisanya didapat dari kotoran luwak di hutan, sehingga cukup sulit untuk mendapatkannya dan rasanya juga beda dengan kopi olahan biasa,” tuturnya.

Lebih lanjut Faiz menjelaskan, biji kopi yang terdapat pada kotoran luwak berbau wangi dan berisi biji-biji kopi yang sudah dimakan oleh luwak liar bersamaan dengan buah-buahan lain. Sehingga rasanya juga istimewa dan harganya mahal.

Di Desa Kramat sendiri masih terdapat hutan kopi yang cukup luas. Biasanya luwak membuang kotoran di depan pohon kopi yang sudah berbuah matang. Untuk berburu kotoran luwak yang terdapat biji kopi ini tidaklah mudah, dibutuhkan keahlian khusus. Sehingga dalam satu bulan, Faiz mengaku hanya bisa mendapatkan sekitar 1-2 kilogram kopi luwak.

Namun, jerih payah mencari kopi luwak ini terbayarkan dengan harga jual yang fantastis. Untuk satu kilogram kopi luwak harganya mencapai Rp 300.000 hingga Rp 500.000.

Adi Purwanto mengatakan, pecinta kopi di Kabupaten Purbalingga dan sekitarnya sudah sangat banyak, sehingga untuk pengembangan kopi luwak maupun kopi varian lainnya pangsa pasar masih terbuka lebar.

“Kita terus mendampingi dan mendorong pelaku usaha kopi untuk mengembangkan usahanya, sekarang kedai-kedai kopi atau cafe sudah banyak bermunculan dan menjadi lahan subur bagi pelaku usaha kopi,” pungkasnya.

Lihat juga...