KBM Tatap Muka di Sikka Terapkan Prokes Ketat

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka di sekolah tingkat SD dan SMP yang baru diluncurkan oleh Bupati Sikka, Provinsi Nusa Tengggara Timur, wajib dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes) pencegahan Covid-19 secara ketat.

Sebelum launching, Bupati Sikka mengeluarkan surat edaran tertanggal 31 Agustus terkait Strategi Pembelajaran Tatap Muka Pada Masa Transisi Pandemi Covid-19 Tahun Ajaran 2020/2021 yang berisi 22 poin, terkait pembelajaran tatap muka di sekolah untuk jenjang SD dan SMP.

Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo, saat lauching KBM tatap muka di sekolah SD Inpres Wairklau,Kota Maumere, Selasa (1/9/2020).-Foto: Ebed de Rosary

“Setiap kepala satuan pendidikan wajib mengisi daftar periksa pada laman Dapodik atau EMIS, untuk menentukan kesiapan satuan pendidikan,” sebut Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo, dalam surat yang diterima, Kamis (3/9/2020).

Robi, sapaannya menyebutkan, kesiapan tersebut meliputi 7 poin, di antaranya ketersediaan sarana  sanitasi dan kebersihan seperti toilet, sarana cuci tangan dengan air mengalir dan mampu mengakses fasilitas layanan kesehatan seperti puskesmas, klinik, rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya.

Bupati Sikka juga meminta kepada kepala satuan pendidikan yang belum memenuhi semua daftar periksa tidak boleh melakukan pembelajaran tatap muka, serta wajib memiliki tim satuan darurat Covid-19.

“Sekolah harus meminta persetujuan orang tua yang dituangkan dalam berita acara tentang pelaksanaan KBM terbatas di sekolah,” ungkapnya.

Robi menambahkan, bila ada orang tua yang belum siap anaknya mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah, peserta didik tersebut dapat menggunakan metode daring dengan ketentuan orang tua menyiapkan sarana dan prasarana dibutuhkan di rumah.

Ia menegaskan, dalam poin ke enam sekolah wajib menyediakan berbagai fasilitas seperti tempat cuci tangan, sabun/handsanitizer di gerbang masuk atau di depan kelas alat pengecek suhu tubuh dan lainnya.

“Kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, orang tua/wali dan tamu yang masuk ke sekolah harus dipastikan dalam kondisi sehat, dengan indikator suhu badan normal, tidak batuk, pilek, gangguan kulit, mata, muntah, diare, tidak selera makan dan keluhan lain,” tegasnya.

Mantan Camat Nelle ini juga meminta orang tua atau wali memastikan peserta didik sebelum berangkat ke sekolah dalam kondisi sehat, serta kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, orang tua/wali dan tamu yang masuk ke sekolah wajib mentaati protokol kesehatan.

Pengecekan suhu tubuh dilakukan untuk memastikan suhu tubuh paling tinggi 37,5 derajat Celsius, dan bila lebih harus dilakukan pengecekan ulang dua kali, dengan rentang waktu lima menit.

“Bila setelah dilakukan pengecekan ulang suhu tubuh tetap melebihi 37,5 derajat Celsius, maka kepada yang bersangkutan dianjurkan untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan,” ungkapnya.

Robi juga meminta kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, orang tua/wali dan tamu dalam menggunakan  kendaraan umum ke sekolah tetap memperhatikan protokoler kesehatan.

Ia menegaskan, pengantar atau penjemput kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, orang tua/wali dan tamu diwajibkan berhenti di lokasi yang ditentukan di luar sekolah, dan dilarang menunggu atau berkerumun selama mengantar atau menjemput.

“Penggunaan ruang kelas dalam proses pembelajaran memperhatikan ketentuan, terbatas paling banyak 50 persen dari total ruang kelas yang ada pada satu waktu pembelajaran dan lainnya,” tuturnya.

Selain itu, teknis pembelajaran tatap muka selama pandemi Covid-19 dilakukan sesuai jenjang, baik PAUD, SD atau sederajat serta SMP atau sederajat maksimal jam 16.00 WITA.

Dia melanjutkan, pemberian tugas kepada peserta didik memperhatikan ketentuan kurikulum dengan prinsip tidak memberatkan siswa dan orang tua, dan menggunakan kurikulum dalam kondisi khusus di masa pandemi Covid-19 dengan hanya menitik beratkan pada literasi, numerasi dan pendidikan karakter.

“Panduan pembelajaran di kelas menyesuaikan Keputusan Kepala Badan Penelitian Pengembangan dan Perbukuan Nomor 018/H/KR/2020, tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran pada Kurikulum 2013 pada jenjang PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah untuk kondisi khusus,” terangnya.

Selanjutnya, sebut Robi, pelaksanaan penilaian tengah semester (PTS) dan Penilaian Akhir Semester (PAS), dilakukan sesuai ketentuan kurikulum dengan kalender pendidikan melalui dua cara, yakni daring dan luring.

Dikatakannya, sekolah tetap melaksanakan penilaian pembelajaran sesuai bentuk penilaian kurikulum 2013, meliputi penilaian sikap dan keterampilan sesuai ketentuan yang ditetapkan.

“Pelaksanaan evaluasi pembelajaran dapat dilakukan dengan memperhatikan ketentuan kurikulum kondisi khusus dan kalender pendidikan,” terangnya.

Pelaksanaan pembelajaran tatap muka, wajib dihentikan,  bila terdapat kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, orang tua/wali dan tamu terkonfirmasi positif Covid-19.

“Pelaksanaan pembelajaran tatap muka yang ditutup tersebut dapat dibuka kembali setelah mendapat persetujuan tertulis dari Satgas Covid-19 Kabupaten Sikka,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olah Raga (PKO) Kabupaten Sikka, Mayella da Cunha, menyebutkan setiap sekolah dari jenjang SD dan SMP atau sederajat harus mempersiapkan segala kebutuhan terkait protokol kesehatan.

Selain itu, pihak sekolah harus mengadakan rapat bersama orang tua atau wali murid terlebih dahulu sebelum pembalajaran tatap muka di sekolah bisa dilaksanakan.

“Pembelajaran tatap muka di sekolah harus ada persetujuan dari orang tua atau wali murid, melalui rapat bersama pihak sekolah dan ada berita acara yang ditandatangani bersama,” terangnya.

Lihat juga...