Kegiatan Ibadah Umat Katolik di Lampung Kembali Dibatasi karena Pandemi

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Pandemi Covid-19 yang belum juga mengalami penurunan kasus, membuat ibadah umat Katolik di Lampung, kembali dibatasi. Kebijakan perayaan Misa atau Ekaristi dilakukan dengan sistem pembagian per lingkungan.

Pastor Apolonius Basuki, Pr., menyebut pendisplinan dilakukan untuk pencegahan Covid-19. Jadwal perayaan Ekaristi selama masa pandemi Covid-19, menurut Apolonius Basuki harus diterapkan dengan ketat. Setiap umat yang datang, meski berasal dari Paroki Ratu Damai, Teluk Betung, wajib mengikuti jadwal. Sebab, pendisplinan tersebut juga mengacu pada kebijakan pencegahan Covid-19. Gereja Katolik menerapkan protokol kesehatan selama perayaan Misa.

Pastor Apolonius Basuki, menyebut prokes dijalankan dengan memakai masker,mencuci tangan dan jaga jarak. Meski berasal dari lingkungan yang mendapat jadwal namun jika tidak memakai masker, dipersilakan untuk kembali ke rumah. Kedisiplinan umat menurutnya harus diikuti, seperti keputusan tim gugus tugas yang bahkan memberikan hukuman.

Romo Apolonius Basuki, pastor Paroki Gereja Katolik Ratu Damai menyampaikan homili atau kotbah, Sabtu (19/9/2020). -Foto: Henk Widi

“Jangan sampai ada orang asing, umat yang bukan berasal dari lingkungan yang mendapat jadwal dari lingkungan Santo Yose. Data umat yang tidak terdata diharapkan tidak misa atau diminta pulang,” terang Pastor Apolonius Basuki, Pr., dalam homilinya saat Misa Sabtu (19/9/2020) malam.

Ketegasan oleh Paroki Ratu Damai, disebutnya bisa menyesuaikan ketertiban administrasi dan rendah hati. Contoh ketegasan dalam penerapan protokol kesehatan, menurutnya harus seperti kebijakan sejumlah tim gugus tugas. Pemberian sanksi membaca Pancasila, menyanyikan Indonesia Raya hingga kerja sosial menjadi contoh kedisplinan, termasuk bagi umat Katolik.

Menyitir bacaan Alkitab, Apolonius Basuki menyebut ganjaran kebaikan dan hukuman selalu diterapkan. Sejumlah aturan bisa dilakukan mengatur individu agar bisa tertib. Bacaan Injil Santo Matius menjadi contoh, saat Yesus Kristus mengemukakan perumpamaa kerajaan surga. Terkait upah dan hari kerja, kebaikan Allah terlihat.

“Yesus Kristus mengabarkan kemurahan hati Allah dalam pekerjaan dan pelayanan tidak diukur dengan cara kerja manusia,” bebernya.

Perumpanaan tentang upah di kebun anggur yang tidak sama menjadi ajaran untuk murah hati. Manusia diajak untuk rendah hati dan menerima kebaikan hati Allah dengan cara bersyukur. Manusia akan menjadi senang, karena banyak orang bekerja. Sebab, sikap iri hati diperlihatkan oleh pekerja yang telah bekerja seharian, karena yang bekerja sejam mendapat upah sama.

Perayaan ekaristi Sabtu malam Minggu XXV di gereja Ratu Damai Teluk Betung diikuti puluhan umat lingkungan Santo Yusuf. Sebagian umat paroki yang tidak mendapat jadwal, tetap bisa mengikuti perayaan ekaristi secara live streaming.

Christeva yang berasal dari lingkungan Yakobus memilih mengikuti secara online. Ia bisa merenungkan bacaan Injil dan kotbah pastor Apolonius Basuki, Pr meski secara online.

“Sejak Covid-19, perayaan ekaristi dilakukan secara online, namun tetap dilakukan dengan khusyuk,” cetusnya.

Sejak dua pekan silam, Christeva menyebut perayaan Ekaristi dan kegiatan gereja dibatasi. Meski dibatasi, ia menyebut kegiatan untuk bertekun dalam doa rutin dilakukan. Terlebih pada Bulan Kitab Suci Nasional, sepanjang September ia telah mendapat panduan untuk merenungkan bacaan Alkitab di rumah.

Lihat juga...