Keterbatasan Ekonomi Tak Halangi Lufi Raih IPK Tertinggi

Editor: Makmun Hidayat

PURWOKERTO — Keterbatasan ekonomi dan keluarga yang tanpa orang tua, ternyata tidak menyurutkan semangat Lufiana Sanjaya untuk terus mengukir prestasi. Anak yatim piatu yang kuliah dengan beasiswa dari program bidik misi ini bahkan berhasil meraih IPK 3,95 dan tertinggi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).

Selama mengikuti prosesi wisuda di Auditorium Ukhuwah Islamiyah UMP, Sabtu (26/9/2020), Lufiana terus berusaha menahan tangis. Rasa haru tak kuasa dibendung, beberapa kali ia harus menghapus air matanya.

“Rasanya sesak sekali, teringat ibu, ayah dan melihat kakak saya yang sudah banyak membantu biaya kuliah saya selama ini dan ia menyempatkan diri untuk datang ke Purwokerto, karena ia tinggal dan bekerja di Karawang,” tuturnya.

Lufi, sapaan Lufiana, merupakan anak ke-4 dari 5 bersaudara dan tinggal di Desa Karanggintung, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas. Ayahnya, Losuliang sudah meninggal sejak ia masih kelas 2 Sekolah Dasar (SD). Lufi sendiri mengaku tidak terlalu mengingat sosok ayahnya, karena ia masih kecil waktu ditinggal sang ayah.

Setelah ayahnya meninggal, ibunya, Sarmini harus menafkahi 5 anaknya, hingga akhirnya ia berangkat menjadi buruh migran. Lufi pun tumbuh besar tanpa kasih sayang dari kedua orangtuanya. Hingga saat Lufi kelas 9 SMP, ibunya pun menyusul ayahnya.

“Sepeninggal ibu, saya tinggal di rumah kakak saya yang nomor tiga, ia hanya ibu rumah tangga biasa. Kemudian yang membantu biaya kuliah saya, kakak saya nomor dua, ia pun sebenarnya sudah berkeluarga dan bekerja di Karawang,” cerita Lufi.

Sejak kecil, Lufi memang paling pandai diantara kakak-kakaknya. ia selalu meraih juara di sekolah, hingga saat SMA, salah satu gurunya menyarankan agar ia kuliah dan mengajukan beasiswa melalui program bidik misi.

“Saya sangat terbantu dengan beasiswa tersebut dan setiap bulan juga mendapat uang saku Rp650.000. Namun, uang tersebut tidak cukup, karena saya harus kos dan untuk biaya kos sampai Rp500.000 per bulan. Sehingga untuk biaya hidup selama kuliah dan keperluan lainnya dibantu oleh kakak,” katanya.

Kakak Lufi, Rian Anggoro sengaja datang untuk menyaksikan wisuda adiknya. Lufi merupakan salah satu dari 12 wisudawan yang beruntung bisa hadir langsung dalam prosesi wisuda di UMP.

“Saya sudah pulang ke Banyumas beberapa hari lalu dan sudah melakukan isolasi mandiri di rumah. Saya memang ingin menyaksikan adik saya wisuda, karena ia merupakan satu-satunya sarjana di keluarga kami, sejak kecil Lufi memang paling pintar,” kata Rian.

Meskipun sudah berkeluarga dan memiliki satu orang anak, setiap bulan Rian selalu menyisihkan penghasilannya untuk Lufi. Sebelum pandemi Rian bisa mentrasfer uang sampai Rp1.500.000 per bulan untuk Lufi. Namun, setelah pandemi Covid-19, kerja lemburannya berkurang, sehingga penghasilannya pun berkurang. Jatah bulanan untuk Lufi maksimal hanya bisa diberikan Rp1 juta.

“Ibu saya sebelum meninggal pernah berkata, kalau bisa anaknya ada yang menjadi sarjana dan sekarang keinginan beliau terwujud,” tuturnya.

Walaupun selalu mendapat dukungan dari kakaknya, Lufi sendiri tidak mau terus bergantung. Saat ini ia sudah mengirimkan beberapa lamaran kerja. “Kalau nanti sudah kerja, saya ingin bisa membalas budi kakak saya, walaupun ia tidak pernah meminta, tetapi saya ingin bisa bergantian membantu dia. Dan nanti kalau adik bungsu saya ingin kuliah, saya juga akan dukung sepenuhnya,” ungkapnya.

Lihat juga...