Kiat Petani di Lamtim Manfaatkan Lahan Kala Kemarau

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Masa peralihan atau pancaroba dari penghujan ke kemarau berdampak bagi petani di wilayah Lampung Timur (Lamtim). Sunari, petani di Desa Negeri Agung, Kecamatan Gunung Pelindung mengaku petani menggunakan mongso atau waktu. Menyesuaikan kearifan lokal pengelolaan lahan pertanian sesuai musim dilakukan agar tetap produktif.

Petani asal Pati, Jawa Tengah menyebut mengaplikasikan cara tradisional dalam pengolahan lahan. Dalam warisan kearifan lokal petani asal pulau Jawa ia menghitung masa (mongso) untuk menanam. Saat masa penghujan atau rendengan ia memilih menanam padi. Kala kemarau atau mongso ketigo ia menanam jenis palawija. Cara tersebut diterapkan selama puluhan tahun.

Menghitung mongso dalam pemanfaatan lahan jadi solusi tetap produktif. Pemilihan jenis tanaman sesuai tingkat kebutuhan air jadi solusi lahan pertanian tetap digarap. Pengolahan lahan tetap menggunakan traktor, cangkul untuk menggemburkan tanah. Penambahan pupuk organik dari kotoran ternak jadi tambahan untuk merehabilitasi lahan.

“Selama setahun sebelumnya lahan sawah menggunakan pupuk kimia yang berimbas penurunan kualitas tanah, saat mongso ketigo atau kemarau jadi kesempatan untuk mengembalikan kualitas tanah dengan pemakaian pupuk organik,” terang Sunari saat ditemui Cendana News, Rabu (2/9/20020).

Kearifan lokal petani dalam rotasi jenis tanaman, pupuk dan air menurutnya menjaga kualitas tanah. Kondisi tanah yang terimbas kemarau dengan banyak rekahan menambah oksigen dalam tanah. Sebab sebelumnya kerap terendam air berimbas tanah lebih keras atau bantat. Kondisi sawah didominasi tanah liat,pasir tetap bisa diolah dengan pasokan air terbatas.

Pembuatan belik atau sumur dangkal di sejumlah titik pada lahan sawah tetap bisa dilakukan. Ia memilih tidak memakai fasilitas sumur bor karena biaya instalasi yang mahal. Penggunaan mesin pompa untuk mengalirkan air ke bak penampungan untuk penyiraman dianggap lebih efisien. Penebaran pupuk kandang pada lahan pertanian terbukti menyuburkan tanah.

“Usai diolah dengan traktor saya taburi lahan dengan abu sekam yang telah dibakar, dolomit dan pupuk kandang,” cetusnya.

Sunari menerapkan kearifan lokal yang diterapkan keluarganya sebagai petani dengan pilihan komoditas yang tepat. Ketergantungan menanam padi diselingi dengan menanam labu, terong, kacang tunggak, kacang hijau dan ubi jalar. Semua jenis komoditas tanaman pangan itu memiliki toleransi pada kondisi lahan kekurangan air. Meski kemarau ia tetap bisa mendapatkan hasil panen untuk dijual serta kebutuhan konsumsi.

Fasilitas saluran irigasi yang kering tidak menjadi kendala bagi petani di wilayah tersebut. Sebab rotasi penanaman hortikultura mempergunakan air lebih efisien. Sistem penyiraman kocor dengan pencampuran pupuk organik lebih maksimal. Penghematan air dan tenaga bisa dilakukan dalam proses penanaman pada lahan pertanian miliknya.

“Penyiraman dengan air seminim mungkin tetap bisa meningkatkan produktivitas tanaman,” cetusnya.

Petani lain bernama Rusman menyebut memilih mengistirahatkan lahan sawah miliknya. Lahan sawah yang tidak digarap sementara digunakan sebagai tempat menumbuhkan rumput. Sumber pakan alami untuk ternak kambing, kerbau dan sapi diperoleh tanpa harus menanam. Rumput yang dibiarkan tumbuh bisa berguna untuk pupuk alami.

Lahan sawah yang diistirahatkan menurut Rusman menyesuaikan mongso. Masa pemanfaatan lahan menyesuaikan musim menurutnya jadi cara untuk menjaga kualitas tanah. Ia memilih tidak menggarap lahan sawah karena masih memiliki lahan tanaman karet dan komoditas lain. Kebutuhan pakan ternak tetap bisa dipenuhi dari lahan miliknya meski kemarau.

Lihat juga...