KKP Dorong Pengembangan Tambak Udang di Muara Gembong Bekasi

Editor: Koko Triarko

BEKASI – Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya (DJPB) KKP, Slamet Soebjakto, berharap lahan-lahan di Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi masyarakat, dan diarahkan pada usaha budi daya berbasis sustainable aquaculture.

“Dengan selalu menerapkan Best Management Practices (BEP) dalam usaha budi daya tambak udang, maka usahanya akan berhasil”, jelas Slamet, dalam rilis diterima Cendana News, Sabtu (12/9/2020).

Dikatakan, usaha budi daya tambak udang yang dilakukan pokdakan Mina Mekar Sejahtera bisa ditiru oleh petambak udang lainnya di Kecamatan Muara Gembong, yang masih menerapkan sistem konvensional.

Menurutnya, komoditas udang diharapkan bisa sebagai prioritas produksi perikanan budi daya terhadap perekonomian nasional, dengan tetap mengacu pada prinsip produksi yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Direktur Jenderal Perikanan Budi daya (DJPB) KKP, Slamet Soebjakto. –Foto: M Amin

DJPB telah menyiapkan strategi peningkatan produksi udang nasional, yakni melalui intensifikasi teknologi untuk mendorong tambak konvensional di-up grade, sehingga memiliki produktivitas optimal.

Dari yang semula kurang dari 1 ton per hektare, satu siklus dalam pengelolaan tambak konvensional, dinaikkan sedikit menjadi tambak semi intensif, maka hasilnya diperkirakan bisa mencapai 5-6 ton/Ha/ siklus.

Pemilihan udang juga didasari pertimbangan, salah satunya potensi lahan produktif yang luas, yakni sekitar 2,96 juta Ha, saat ini baru termanfaatkan sekitar 0,6 juta Ha.

“Kondisi demikian tentu menjadi PR kita bersama, bagaimana potensi tersebut dapat lebih dioptimalkan, sehingga produksi udang bisa lebih digenjot secara signifikan”, tegas Slamet.

Kelompok pembudidaya ikan (pokdakan), Mina Mekar Sejahtera di Kecamatan Muara Gembong, mulai menggeluti usaha budi daya tambak udang vaname sejak 2018, dengan sistem konvensional.

Namun pada 2020 ini, pokdakan Mina Mekar Sejahtera melakukan revitalisasi model tambaknya dari konvensional menjadi tambak intensif.

Ketua Pokdakan Mina Mekar Sejahtera, Ikhsan, mengatakan alasan beralih menjadi petambak udang intensif karena awalnya selama dua tahun produksi yang ia jalani mengalami kegagalan panen.

“Selama usaha budi daya tambak udang vaname dengan sistem konvensional, produktivitas kami 100-200 kg/ Ha”, ujar Ikhsan saat dikonfirmasi melalui pesan singkat whatsapp.

Ikhsan optimis, mulai beralih ke tambak udang insentif menggunakan lahan seluas kurang lebih 10 Ha, dengan 43 petakan kolam luas masing-masing kolam 1.000 m2, dan diisi benih udang vaname dengan kepadatan 200 ekor/m2 .

Luas lahan kolam budi dayanya hanya kurang lebih 4,3 Ha, sedangkan sisanya untuk kolam treatment dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Jumlah anggota sebanyak 75 orang yang mayoritas merupakan penduduk asli Muaragembong.

“Dengan selalu menerapkan standar operasional prosedur (SOP) dalam pengelolaan proses produksi usaha budi daya tambak udang, kami optimis bisa berhasil meningkatkan produktivitas kami dan mendapatkan keuntungan berlipat-lipat,” jelasnya.

Dia berharap, produksi melalui teknik yang dilaksanakan bisa mencapai 70 ton/ tahun, sehingga diperkirakan akan memperoleh omzet sekitar Rp5,6 miliar per tahun.

Ikhsan memilih usaha budi daya tambak udang, karena udang merupakan komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan peluang pasar ekspor yang tinggi.

“Meski pandemi Covid-19 masih terus berlangsung, namun usaha budi daya tambak udang tetap menjadi andalan usaha budi daya di Indonesia,” tegas Ikhsan.

Selain itu, menjadi petambak udang vaname adalah usaha yang menjanjikan dan ikut berkontribusi pada upaya penyerapan tenaga kerja. Apalagi, saat ini banyak orang ter-PHK akibat dampak Covid-19.

Lihat juga...