Kopi Racikan Warga Malang tak Bikin Perut Kembung

Editor: Koko Triarko

MALANG – Bagi para pecinta kopi yang ingin merasakan racikan kopi ala barista, namun dengan harga yang ramah di kantong, bisa langsung datang ke Himung Kopi.

Tidak seperti di tempat kopi pada umumnya, Andik Destanto (37) sebagai pemilik Himung Kopi, justru membuka dagangan kopinya di pinggiran trotoar yang berada di kawasan Mergosono, kota Malang, dengan menggunakan armada sepeda.

Andik menceritakan, meracik kopi layaknya barista sebenarnya merupakan hal yang baru bagi dirinya yang keseharian bekerja sebagai satpam di salah satu pabrik.

“Dulu saya tahunya hanya kopi bubuk dicampur gula, kemudian disedu air panas. Tapi kemudian ada teman saya yang mengatakan, membuat kopi sebenarnya harus ditimbang dan suhunya juga harus diukur. Rasanya juga tidak hanya sekadar pahit, tapi ada juga yang asam,” katanya, saat ditemui di rumahnya, Sabtu (19/9/2020).

Owner Himung kopi, Andik Destanto, meracik kopi nusantara di rumahnya, Sabtu (19/9/2020). -Foto: Agus Nurchaliq

Dari situ, kemudian Andik merasa penasaran dan mulai tertarik untuk belajar membuat kopi. Beberapa kedai kopi ia datangi untuk melihat secara langsung cara meracik secangkir kopi dari para barista.

“Setelah saya melihat cara meraciknya di kedai kopi, kemudian saya praktikkan di rumah dan testerkan kepada teman-teman,” ucapnya.

Kurang lebih sekitar dua tahun ia belajar tentang kopi, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk menjual kopi setahun yang lalu.

Berbagai jenis kopi nusantara dijual mulai dari kopi Malangan, seperti kopi Arjuno, kopi gunung Kawi, kopi Dampit, Sumbermanjing. Selain itu ada juga kopi Bali, kopi Flores, kopi Toraja, kopi Aceh maupun kopi Medan.

“Karena ingin memperkenalkan kopi nusantara, jadi saya menjual kopi yang mewakili kopi dari setiap pulau di Indonesia,” terangnya.

Menurutnya, cara meracik dan penyajian setiap jenis kopi berbeda-beda sesuai karakter masing-masing kopi.

“Pada umumnya, untuk penuangan air panas ke kopi tidak langsung dituang semua, tetapi dituang dulu 30 gr air panas kemudian didiamkan 30 detik (proses bluming) untuk mengangkat gas co2 dari bubuk kopi supaya jika diminum tidak bikin kembung. Lalu, setelah proses bluming, baru tuangkan air sesuai rasio, dan selera konsumen mau dikasih gula atau tidak,” ujarnya.

Menurutnya, kopi Dampit paling laris karena lebih halus dan rasanya tidak sekadar pahit, tapi seperti ada rasa coklatnya. Ini yang menjadi ciri khas kopi Dampit.

Terkait harga, bisa dikatakan harga kopi yang ditawarkan Andik tidak membuat kantong kering. Ia hanya mematok harga Rp5-8 ribu per cup kopi dengan varian kopi yang dijual kopi tubruk (arabika dan robusta), vietnam drip, kopi susu, dan beberapa menu minuman lainnya.

Menurutnya, harga kopinya tersebut disesuaikan dengan para konsumen yang kebanyakan meruapak tukang becak, penjual koran, ‘polisi cepek’, tukang parkir, tukang sampah dan juga mahasiswa.

“Pertimbangannya karena saya melihat konsumen yang ada disini,” ucapnya.

Selain itu, karena kopinya berasal langsung dari petani sehingga harganya lebih murah. Kemudian selama berjualan, Andik tidak menggunakan listrik, tidak ada karyawan dan tempatnya juga tidak sewa.

“Jadi saya tidak perlu memikirkan bayar karyawan atau sewa tempat, sehingga harganya bisa lebih murah,” ungkapnya.

Disampaikan Andik, di masa pandemi ini hasil penjualan kopinya justru lebih banyak dibandingkan sebelum pandemi. Jika sebelum pandemi yang terjual hanya 30 cup kopi per hari, pada saat pandemi justru meningkat sampai 70 cup per hari, dengan omzet per hari kurang lebih Rp400 ribu.

“Ini semua karena media sosial, banyak konsumen yang datang ke sini membuat video dan kemudian di-upload, jadi banyak orang yang tahu,” terangnya.

Dipilihnya sepeda untuk sarana berjualan kopi, menurutnya karena selain belum ada yang melakukannya di Malang, juga agar lebih mudah untuk mobilisasi tempat.

“Awalnya saya inginnya menggunakan gerobak dan berjualan di depan stasiun kota Malang. Tapi karena ternyata biaya untuk membuat gerobak mahal, akhirnya saya modifikasi sepeda yang ada di rumah untuk berjualan kopi. Yang penting di sepeda ada tempat untuk membawa kompor dan ada meja barnya juga,” ucapnya.

Lebih lanjut, ayah dari satu orang anak ini berharap konsumennya yang datang ke Himung kopi tidak hanya sekadar ngopi, tapi juga sekaligus belajar tentang kopi. Mereka bisa menanyakan apa saja tentang kopi.

“Saya punya keinginan orang yang beli kopi ke saya bisa pulang dengan membawa ilmu tentang kopi. Minimal bisa membedakan arabika dan robusta,” harapnya.

Sedangkan untuk nama Himung, sebenarnya berasal dari bahasa Kalimantan yang berarti gembira, bahagia.

“Jadi nama itu diambil untuk mengobati rasa rindu istri saya kepada kampung halamannya di Kalimantan. Kalau saya sendiri asli Malang,” katanya.

Sementara itu, Rahadi, salah satu pembeli mengakui kopi buatan Andik tidak membuat perut kembung. Karena biasanya setelah minum kopi, perut menjadi kembung.

“Awalnya sempat khawatir sakit lambung kambuh lagi, tapi ternyata aman dan lambung tidak sakit,” akunya.

Disebutkan, Himung kopi buka pada Sabtu, Minggu dan Selasa pukul 08.00-12.00 WIB.

Lihat juga...