Kota Semarang Bergerak ke Zona Orange

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Hasil operasi yustisi razia masker, yang disertai rapid test, dinilai berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat, dalam penerapan protokol kesehatan. Setidaknya, hal tersebut terlihat grafik angka Covid-19 di Kota Semarang, yang mulai landai.

“Saat ini, Kota Semarang sudah mulai bergerak dari zona merah menuju zona orange, seiring dengan peningkatan kesadaran masyarakat dalam penerapan 3M yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan,” papar Kadinkes Kota Semarang, Abdul Hakam di Semarang, Minggu (27/9/2020).

Dipaparkan, meski secara keseluruhan Kota Semarang sudah zona orange, namun masih ada beberapa wilayah kecamatan, yang menunjukkan angka positif cukup tinggi.

Berdasarkan data melalui laman siagacorona.semarangkota.go.id, per tanggal 27 September 2020 pukul 16.00 WIB, jumlah angka positif aktif  atau dirawat sebanyak 540, dengan 377 merupakan warga Kota Semarang dan 163 dari luar kota.  Sedangkan untuk supek 301 dan probable 114.

“Jika dilihat peta penyebaran Covid-19 di Kota Semarang, masih ada tiga kecamatan yang tinggi yakni Kecamatan Pedurungan 51 orang, Semarang Barat 48 orang dan Ngaliyan 47 orang. Ini data terakhir Sabtu (26/9/2020) kemarin,” tandasnya.

Hakam menjelaskan tiga wilayah kecamatan tersebut masih tinggi, karena ada kluster baru yang muncul dan belum semuanya sembuh.

“Ya sudah ada yang sembuh, namun masih ada juga yang dirawat. Untuk Kecamatan Pedurungan, terbanyak dari kluster keluarga. Semarang Barat dari kluster pabrik, sedangan untuk Ngaliyan dari kluster takziah. Semuanya sudah kita tracking dan tindakan lanjutan lainnya, untuk mencegah penularan agar tidak semakin meluas,” terangnya.

Dirinya juga kembali menekan tentang pentingnya melakukan swab test. Terutama bagi kelompok rentan, antara lain ibu hamil, lansia, dan orang dengan dua penyakit penyerta (komorbid).

“Kelompok rentan ini sudah tergabung dalam Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis), berupa sistem pelayanan kesehatan dan pendekatan proaktif. Mereka secara rutin datang ke puskesmas setiap bulan, untuk melakukan pemeriksaan gula, tensi, dan lain-lain, kemudian kita sertai tes swab,” jelas Hakam.

Saat ini, swab di Kota Semarang rata-rata mencapai 3.000 tes per minggu. Angka tes swab tersebut diharapkan bisa berlipat, seiring upaya penelusuran penyebaran covid-yang semakin masif.

“Mudah-mudahan dengan berbagai upaya ini, Kota Semarang bisa segera masuk dalam zona kuning atau zona risiko rendah,” tandasnya.

Terpisah, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menjelaskan pembatasan kegiatan masyarakat (PKM), hingga operasi yustisi bersama di Kota Semarang, sudah mulai menunjukkan hasil. Dari data yang ada, tingkat penurunan penularan kasus covid-19 di Kota Semarang mencapai 78,9 persen.

“Setelah semua bergerak bersama, kemajuannya sangat bagus dan ini menjadi hasil dari ikhtiar kita bersama,” jelasnya.

Meski begitu, Ganjar meminta semua pihak tidak langsung berbangga diri. Sebab, pandemi covid-19 belum selesai, dan upaya untuk menekan penyebaran itu harus terus dilakukan.

“Saya tetap minta agar Kota Semarang, termasuk wilayah lainnya di Jateng, untuk tetap gencar melakukan testing, tracing, dan treatment (3T). Termasuk juga terus mengkampanyekan 3M kepada masyarakat, yakni memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan pakai sabun. Operasi yustisi juga saya kira bisa terus dilakukan untuk mengedukasi masyarakat,” tandasnya.

Lihat juga...