LAPAN Waspadai Potensi Cuaca Antariksa yang Mempengaruhi Kondisi Bumi

Cahaya berwarna hijau dan merah dari Aurora terlihat dari Whitehorse, Yukon, Kanada, Senin (3/9/2020). Aurora muncul akibat interaksi semburan massa korona (CME) matahari dengan lapisan medan magnet Bumi – foto Ant

JAKARTA – Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN),  mewaspadai sejumlah potensi cuaca antariksa, yang kemungkinan dapat berdampak terhadap bumi.

“Karena cuaca antariksa itu juga suatu fenomena astronomis yang sangat mempunyai pengaruh, dampak yang cukup signifikan terhadap sistem teknologi, yang berbasis antariksa dan ground segment di ruas bumi,” kata Kepala Pusat Sains Antartika LAPAN, Clara Y. Yatini, Senin (31/8/2020).

Ia mengatakan, LAPAN masih perlu memperhatikan cuaca antariksa, karena cuaca antariksa berasal dari matahari. Dan bintang di pusat tata surya tersebut terkadang dapat melontarkan partikel-partikel yang akan dengan jelas mempengaruhi bumi.

Contoh salah satu lontaran partikel yang akan dapat mempengaruhi bumi yaitu, yang disebut dengan Coronal Mass Ejection (CME) atau lontaran massa corona. Jika lontaran massa corona tersebut sampai ke Bumi, partikel-partikel tersebut akan mengakibatkan gangguan di geomagnet, dan akan mempengaruhi pengukuran medan magnet Bumi.

Clara menyebut, cuaca antariksa yang disebut dengan solar flares atau semburan matahari, dapat melontarkan radiasi energi tinggi yang bisa berpengaruh terhadap komunikasi. Sementara itu, cuaca antariksa berupa bintik matahari, tidak ada pengaruh langsung terhadap bumi. Tetapi bintik matahari itu mempunyai keterkaitan erat dengan semburan matahari, sehingga bintik matahari tersebut juga perlu diwaspadai. “Apabila di atasnya kemudian terjadi ledakan, maka akan berpengaruh terhadap kondisi antariksa yang ada di atas bumi,” kata Clara.

Sementara itu, berbagai dampak yang terkait dengan semburan partikel maupun radiasi yang berasal matahari, dapat berpengaruh terhadap satelit, terhadap orbit satelit, karena satelit itu akan mengalami hambatan yang lebih besar apabila ada partikel-partikel dari Matahari. “Kemudian, ada juga gangguan gelombang radio, sintilasi dan bisa juga ada radiasi terhadap penumpang pesawat,” katanya.

“Dan ini yang sedang kami teliti, bagaimana radiasi partikel ini berpengaruh terhadap penumpang pesawat, terutama yang melewati kutub,” pungkas Clara. (Ant)

Lihat juga...