Lestarikan Bahasa Jawa, Disbud Gunung Kidul Gelar Pelatihan Pranatacara

GUNUNG KIDUL  – Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Gunung Kidul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan pelatihan pranatacara atau pembawa acara dalam bahasa Jawa yang diharapkan mendukung budaya di wilayah itu.

Kabid Sejarah Bahasa dan Sastra Disbud Gunung Kidul, Sigit Pramudyanto, di Gunung Kidul, Kamis, mengatakan peserta pelatihan ini sebanyak 32 peserta yang sebagian besar berusia muda mengikuti pelatihan yang digelar sejak 15 September 2020.

Mereka merupakan perwakilan dari karang taruna hingga kelompok sadar wisata (pokdarwis) dari seluruh pedukuhan di Bejiharjo.

“Peserta pelatihan diberi materi bagaimana menjadi pembawa acara berbahasa Jawa, lengkap dengan pakaian adat formal,” kata Sigit.

Ia mengatakan tujuan utama dalam pelatihan ini adalah upaya regenerasi. Sebab menurutnya sebagian besar pembawa acara bahasa Jawa di Gunung Kidul sudah berusia tua. Hal ini bisa menyebabkan pranatacara bahasa Jawa semakin langka.

“Itu sebabnya pelatihan kami lakukan, sekaligus pembinaan bahasa dan sastra Jawa sebagai upaya pelestarian budaya,” kata Sigit.

Penanggung jawab acara dari Desa/Kalurahan Bejiharjo, Sujarwo, mengatakan pelatihan ini sebagai upaya peremajaan.

Saat ini di Bejiharjo sendiri kebanyakan pranatacara bahasa Jawa sudah berumur, sehingga dibutuhkan regenerasi.

“Sebagian besar peserta pelatihan belum memiliki pengalaman sebagai pembawa acara,” katanya.

Ia mengatakan peserta pelatihan mendapatkan materi secara lisan dan tulisan. Pada hari terakhir ini pun tiap peserta mencoba tampil untuk menjadi pembawa acara, sembari dinilai penampilannya.

“Pelatihan ini jadi modal awal peserta untuk menjadi pembawa acara dalam kegiatan apa pun. Mulai dari pernikahan, syukuran, hingga hajatan tingkat pedukuhan. Jadi ilmu dari pelatihan ini bisa digunakan sesuai kebutuhan, terutama yang menggunakan adat Jawa secara formal,” katanya.

Bejiharjo menjadi lokasi pertama untuk pelatihan pranatacara tahun ini. Kelurahan ini dipilih lantaran statusnya sebagai desa budaya. Menyesuaikan situasi saat ini, pelatihan pun dilaksanakan dengan protokol kesehatan COVID-19. (Ant)

Lihat juga...