Lestarikan Lingkungan Bersihkan Kali Cikarang jadi Area Produktif

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BEKASI – Kondisi Kali Cikarang dulu sangat memprihatinkan, menjadi alasan sejumlah orang yang memiliki hobi sama memancing untuk membentuk komunitas yang dinamakan #SaveKaliCikarang.

Menjaga Kali Cikarang, awalnya hanya diinisiasi beberapa orang saat memancing. Saat itu mereka beranggapan segala sesuatu berubah karena pandemi Covid-19, sehingga mereka mencari waktu lebih produktif dengan cara memancing.

“Pergerakan awal membersihkan Kali Cikarang adalah gagasan sederhana dari perkumpulan hobi pemancing saat pandemi Covid-19. Tapi mimpi itu kini terwujud,” ujar Eko Djatmiko salah satu inisiator #SaveKaliCikarang kepada Cendana News, Rabu (16/9/2020).

Eko Djatmiko, salah satu inisiator Komunitas #SaveKaliCikarang, ditemui di salah satu shelter jaga Kali Cikarang, Rabu (16/9/2020) – Foto: Muhammad Amin

Eko mengisahkan bahwa awalnya dari lokasi memancing, selalu menyiarkan kegiatan yang dilakukan melalui media sosial, baik siaran langsung atau hanya postingan biasa. Tapi banyak tanggapan dan menanyakan lokasinya, sebab indah, banyak rindang pohon bambu.

Berawal dari hal itu, terbentuklah komunitas #SaveKaliCikarang sebagai respon komentar di media sosial. Alam yang dianggap biasa saja, kotor dan banyak sampah, akhirnya terbersit untuk coba dibersihkan, misalnya bantaran yang ada di hutan bambu atau Warung Bongkok Kali Cikarang di Desa Sukadanau Cikarang Barat.

Menurutnya, aksi bersih hutan bambu Warung Bongkok tersebut, langsung mendapat respon dari warga setempat untuk turun membantu. Karena mereka melihat ada potensi ekonomi setelah bersih. Gerakan tersebut murni swadaya, warga bersih kali.

“Alhamdulillah wilayah di hutan bambu Desa Sukadanau, Cikarang Barat, kurang lebih satu hektar sekarang sudah bersih. Hal tersebut dikerjakan hanya dalam waktu satu bulan,” ungkap Eko.

Lahan hutan bambu Warung Bongkok tersebut adalah bantaran sungai yang keberadaannya persis di belakang makam umum. Oleh warga setempat dikenal serem hanya dijadikan tempat buang sampah.

Tapi sekarang, lokasi angker di bantaran Sungai Cikarang tersebut sudah menjadi tempat berteduh, ngopi dan menikmati rerimbunan keasrian pohon bambu. Eko mengatakan bahwa secara kualitas air Kali Cikarang dibanding sungai di Bekasi lainnya, lumayan paling bagus, masih terjaga.

Pergerakan Komunitas SaveKaliCikarang tersebut, tidak berhenti sampai disitu. Terus melakukan pengembangan untuk menjaga lingkungan dengan membersihkan Kali Cikarang. Setidaknya saat ini, sudah ada enam kilo meter bantaran Kali Cikarang dibersihkan dengan cara susur sungai, dan melibatkan banyak relawan pecinta lingkungan.

Mereka secara swadaya membeli perahu karet untuk melakukan susur Kali Cikarang. Dalam bersih Kali Cikarang, Eko mengaku sudah seratus ton lebih tumpukan sampah yang menyumbat aliran Kali Cikarang berhasil diangkat. Mereka juga dibantu oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi seperti penyediaan alat berat dan truk sampah.

“Ketika bicara soal lingkungan hidup, ternyata banyak yang peduli. Dari berbagai komunitas dan relawan bergabung dengan satu tujuan untuk menyelamatkan dan menjaga lingkungan dari pencemaran,” tukasnya.

Sehingga akhirnya komunitas tersebut, saat ini sudah memiliki enam shelter. Posko tersebut selain menjaga ekosistem Kali Cikarang dari sampah juga terus memberikan edukasi terutama kepada warga dan anak usia dini.

Eko Djatmiko mengakui bahwa melihat Bekasi hari ini adalah masalah sampah khususnya sampah di sungai. Dia mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan untuk menghindari banjir yang terus terjadi setiap tahun. Tentu perlu ada langkah nyata.

“Persoalan banjir sebenarnya simpel, setelah diinventarisir diketahui penyebabnya. Seperti masalah sampah, bangunan liar dan lainnya. Tidak adanya ruang terbuka buat air pulang, penyumbatan dan penyempitan,” paparnya.

Saat ini komunitas tersebut juga telah mendirikan lembaga sendiri yang diberi nama Bambu Foundation sebagai lembaga hukum untuk bekerjasama dengan berbagai pihak secara formal.

Lihat juga...