Manfaatkan Pasar Online, Pedagang Batu Akik Bertahan dari Kelesuan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Booming batu akik pernah melanda Kota Semarang pada tahun 2015. Pada masa itu, puluhan pedagang akik bermunculan. Mereka menjajakan dagangan di berbagai tempat dan kesempatan. Bahkan Pemerintah Kota Semarang, sampai menyediakan lokasi khusus di Pasar Dargo Semarang, sebagai sentra batu akik.

Setiap hari, ratusan penggemar akik, dipastikan memadati pasar batu akik terbesar di Kota Semarang tersebut. Mereka tidak hanya datang dari Kota Semarang, namun juga berbagai wilayah di sekitarnya.

Berbagai jenis batu akik dan batu mulia, yang ditawarkan pedagang di Pasar Dargo Semarang, Selasa (8/9/2020). Foto: Arixc Ardana

Namun itu dulu, kini saat masa keemasan tersebut lewat, kondisinya berbalik arah. Meski puluhan kios penjual batu akik dan batu mulia di pasar Dargo Semarang masih tertata rapi, namun jumlah pengunjung atau pembeli bisa dihitung dengan jari.

Sehari-hari pasar tersebut lengang, hanya ada satu dua orang yang datang melihat-lihat koleksi batu akik yang dipajang oleh para pedagang.

“Memang kondisinya sekarang seperti ini, sepi, meski tetap ada yang datang, lihat-lihat, atau bahkan membeli,” papar Anang, pedagang sekaligus pemilik kios Arjuna Permata saat ditemui di Pasar Dargo Semarang, Selasa (8/9/2020).

Dijelaskan, pembeli batu akik dan batu mulia di pasar Dargo memang turun drastis, dibanding lima tahun lalu, saat demam batu akik melanda Kota Semarang.

“Ramai-ramainya itu 2015, kemudian mulai turun. Mulai 2016 sampai pertengahan tahun 2019 sepi, saking sepinya, banyak pedagang yang pindah, tidak berjualan lagi disini. Dulu ada banyak, sekitar 50-an pedagang, sekarang paling tinggal 20 pedagang,” lanjutnya.

Meski demikian, kondisi tersebut kini perlahan-lahan mulai berubah. Meski pengunjung atau pembeli yang datang langsung ke lokasi tidak berubah, tetap sepi, namun para pedagang batu akik kini sudah beralih ke pasar digital atau market online.

“Sekarang sudah stabil, khususnya pasar online. Saya punya toko di semua aplikasi online. Jangkauan pasarnya lebih luas, tidak hanya di Indonesia saja, namun juga sampai luar negeri. Dalam sebulan, setidaknya saya kirim 5 hingga 10 paket batu akik ke luar negeri. Kalau dalam negeri rata-rata sebulan 20 kali,” terang Anang.

Sementara, soal harga jual, dirinya mengaku hal tersebut, tergantung dari jenis batu yang dipilih, serta bahan emban atau cicin pengikat batu yang digunakan.

“Kalau sekarang ini yang sedang tren, atau paling dicari jenis batu mancanegara. Misalnya batu pirus dari wilayah Persia. Batu ini banyak dicari karena keindahan varian warna birunya dengan urat hitam,” lanjutnya.

Batu tersebut dijual mulai dari harga Rp 50 ribu, hingga termahal sekitar Rp 1,5 juta. Harga tersebut sudah termasuk cincin pengikat.

“Kalau untuk kualitas bagus rata-rata diharga Rp 250 ribu, sedangkan yang terbaik memang dari harga Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta ke atas,” imbuh Anang.

Peralihan fokus jualan ke pasar online juga disampaikan Hariyanto. Diakuinya, sebanyak 80 persen penjualan batu akik dari toko yang dikelolanya, terjual lewat online.

“Jualan online menjadi solusi kita untuk tetap bisa bertahan. Kebanyakan batu akik yang dijual lewat online. Kalau pun ada pembeli yang datang ke pasar Dargo, itu biasanya pembeli lama atau pelanggan setia, bisa juga pembeli baru tapi hanya sekedar lihat-lihat,” jelasnya.

Maka tidak mengherankan, jika pasar online menjadi pilihan seluruh pedagang batu akik di pasar tersebut. “Penjualan di sini secara online 75 persen hingga 80 persen, sisanya secara langsung,” tambahnya.

Sementara untuk jenis batu akik yang paling diminati, dirinya mengaku hampir semua jenis batu punya pasar dan penggemar sendiri. Termasuk batu nusantara, seperti kecubung, bacan atau kalimaya. Demikian juga batu mancanegara, misalnya pirus, rubi, atau topaz.

“Harapan kita, sebagai pedagang tentu pasar akik ini bisa tetap bertahan. Jika dulu sempat booming, lalu turun drastis, dan sekarang sudah mulai stabil. Batu-batu ini khususnya yang dari Indonesia, juga menjadi kekayaan bangsa. Jadi jangan sampai malah hilang, karena tidak ada peminatnya,” jelasnya.

Lihat juga...