Manfaatkan Tanah Bengkok, Desa Pakujati Berdikari di Tengah Pandemi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BREBES – Di tengah keterpurukan ekonomi dan pandemi yang berkepanjangan, Desa Pakujati, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes melakukan langkah inovatif untuk mendongkrak perekonomian warga. Dengan memanfaatkan tanah bengkok seluas 5,1 hektare, desa ini membangun pasar rakyat, lapangan dan wahana water boom dalam satu lokasi.

Pembangunan tersebut murni dilakukan swadaya oleh masyarakat dengan dikoordinir BUMDes setempat. Tak hanya menyerap tenaga kerja warga desa yang terdampak Covid-19, namun pembangunan pasar ini juga akan mendongkak Pendapatan Asli Desa (PADes) dari Rp 0 menjadi ratusan juta per tahun.

Pembangunan pasar rakyat yang terintegrasi dengan tempat wisata dan lapangan ini, tentu tidak lepas dari kebesaran hati Kades Pakujati, Ari Hendri Kusumo, yang dengan sukarela melepaskan tanah bengkoknya untuk dimanfaatkan demi peningkatan ekonomi warga desa.

Kades Pakujati, Ari Hendri Kusumo di lokasi pembangunan pasar, Senin (14/9/2020). Foto: Hermiana E. Effendi

“Kades dan perangkat desa sudah mendapatkan gaji, jadi sudah seharusnya tanah bengkok dipergunakan untuk kepentingan rakyat dan desa, saya hanya ingin mengembalikan hak rakyat saja. Dan semua pengelolaan pasar serta water boom nantinya di bawah BUMDes,” tutur kades muda ini, Senin (14/9/2020).

Salah satu pengurus BUMDes, Karno Wiyogo, menjelaskan, ada 100 kios dan 64 los yang dibangun untuk pasar. Kios dan los disewakan selama 10 tahun dengan harga Rp 3 juta untuk kios dan Rp 1 juta untuk los. Diutamakan penyewa adalah warga Desa Pakujati.

“Alhamdulillah warga desa percaya kepada kami dan saat ini untuk kios sudah laku semua, untuk los juga sudah banyak yang laku, total sudah 95 persen. Dari uang pembayaran sewa tersebut, kita mulai membangun pasar, ditargetkan akhir tahun ini proses pembangunan pasar sudah selesai,” terangnya.

Sekretaris BUMDes, Imam Masruri, menambahkan, BUMDes ikut menyumbang dana untuk pembangunan pasar. Pihaknya merasa optimis pasar akan ramai, sebab lokasi pasar sangat strategis. Dimana lima desa sekitar jika akan menuju pasar terdekat, yaitu Pasar Grengseng di Kecamatan Paguyangan, akan melalui Desa Pakujati. Dan para pedagang warga Pakujati yang berjualan di Pasar Grengseng juga sudah menyewa kios di lokasi pasar yang sedang dibangun.

Pembangunan pasar ini sudah berlangsung sejak awal bulan Agustus. Menurut Kades, sampai tahap ini belum ada bantuan atau campur tangan baik dari pihak Pemkab Brebes, Pemprov Jateng ataupun lainnya. Sehingga semua murni swadaya warga desa yang memberikan modal awal untuk pembangunan pasar.

Pihak desa, lanjutnya, juga tidak bisa mengalokasikan dana desa untuk membantu pembangunan pasar, karena selama masa pandemi ini, alokasi dana desa hanya diperuntukkan bagi 3 hal, yaitu penanggulangan Covid-19, pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan padat karya. Desa Pakujati sendiri hanya mendapatkan dana desa senilai Rp 1,4 miliar.

“Dana desa itu sangat membebani APBN dan kemungkinan tidak akan abadi, suatu saat akan berhenti. Harapan saya, saat pemberian dana desa terhenti, desa kami sudah bisa mandiri dan berdikari sendiri, sudah mempunyai PADes yang besar,” kata Kades yang baru menjabat selama 6 bulan ini.

Lihat juga...