‘Manusia Silver’ Itu Bernama Nanang

Editor: Koko Triarko

BEKASI – Fenomena ‘manusia silver’ beberapa bulan terakhir terlihat marak di beberapa persimpangan atau pun lampu merah rawan kemacetan di wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat.

Kehadiran mereka yang khas, tanpa suara dengan gaya mematung dilengkapi beragam aksesori dan pelengkap lainnya, terkesan unik. Sesekali pengendara yang melintas di tengah kemacetan memasukkan uang di kardus atau kaleng khusus tempat tadah uang sumbangan.

Cendana News mewawancarai salah seorang pelaku ‘manusia silver’ saat tengah mangkal di Jalan Jati Raya Jatikramat arah Pondok Gede, tepatnya di persimpangan Jalan Ratna, Sabtu (12/9/2020) sore. Manusia Silver itu bernama Nanang, usia 16 tahun.

Awalnya, Nanang, memasang wajah tidak suka, saat didekati. Tapi setelah diajak ngobrol, akhirnya dia mau diajak berbincang seputar manusia silver yang akhir-akhir ini marak hingga ke perkampungan.

Dia mengaku enggan diwawancarai, karena khawatir banyak pemberitaan selama ini tentang ‘manusia silver’ yang miring. Bahkan, sampai ada larangan memberi uang kepada ‘manusia silver’, seolah virus dan lainnya.

“Kami sebenarnya memiliki komunitas, Namanya, Komunitas Anak Silver Kota Bekasi. Jumlah kami banyak. Tapi grup saya ada 20 orang, tempat lain juga banyak menyebar,” ucapnya kepada Cendana News, Sabtu (12/9/2020) sore.

Nanang mengatakan, rata-rata ‘manusia silver’ di Kota Bekasi berasal dari luar daerah. Dia sendiri dan kelompoknya berasal dari Cirebon, sengaja datang ke Kota Bekasi untuk mencari nafkah dengan menjadi manusia silver.

Tapi, imbuhnya, akhir-akhir ini fenomena ‘manusia silver’ di Kota Bekasi banyak ditiru oleh anak usia sekolah dasar yang ikut turun ke jalan mengitari perkampungan dan lainnya, meminta ke rumah-rumah. Komunitasnya sudah melarang anak-anak menjadi ‘manusia silver’. Tapi, mereka mengaku dipaksa oleh ibunya.

Suka cita lainnya adalah soal banyaknya kasus manusia silver di Kota Bekasi. Tak jarang ada yang hanya kedok menjadi manusia silver, tapi mereka mencuri motor. Hal tersebut pernah kejadian, hingga mereka yang benar-benar mencari nafkah dengan menjadi manusia silver di jalan, kesusahan dan tak jarang diusir saat masuk perkampungan.

“Kami tidak pernah masuk ke kampung-kampung untuk keliling, kami murni di jalanan padat dan berdiri tanpa kata di tengah jalan. Kalau kasih, ya alhamdulillah, tidak pun kami tidak paksa. Karena kami hanya berdiri tanpa kata, yang memberi hanya mereka yang peduli saja,” ujarnya.

Dikonfirmasi biaya yang dikeluarkan untuk sekali tampil menjadi manusia silver, Nanang yang putus sekolah tersebut mengaku harus keluar Rp20 ribu untuk peralatan, seperti cat sablon, minyak dan lainnya.

“Kalau untuk penghasilan tidak menentu sekali tampil. Kadang 70 ribu, kadang lebih tergantung orang bersimpati saja,” tuturnya.

Nanang tidak ingin menjadi manusia silver, jika ada pekerjaan yang bisa memberi penghasilan. “Kami ini ga ada kerja, sekolah aja putus. Bagaimana mau cari kerja dengan ijazah? Lagian, sekarang kerjaan susah, banyak yang dipecat karena Corona,” ucapnya.

Nanang mengaku untuk membersihkan cat yang melekat di tubuhnya membutuhkan waktu setengah jam, dengan menggunakan sabun pencuci piring. Tapi, saat mandi disabun lagi biar bersih. Sampai saat ini, Nanang mengaku belum merasa gejala apa pun pada kulitnya.

Lihat juga...