Masa Pandemi Implementasi QRIS di Banyumas, Meningkat

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PURWOKERTO – Antusiasme masyarakat Kabupaten Banyumas dalam memanfaatkan Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS sebagai kanal pembayaran selama masa pandemi Covid-19 ini cukup besar. Bank Indonesia (BI) Purwokerto mencatat sampai saat ini 46 persen atau lebih dari 23.000 masyarakat Banyumas telah mengimplementasikan QRIS.

Kepala Perwakilan BI Purwokerto, Samsun Hadi mengatakan, pertumbuhan jumlah merchant terimplementasi QRIS di Kabupaten Banyumas meningkat cukup tajam yaitu sebesar 73% (ytd) dari Januari 2020, dengan jumlah terbesar adalah merchant pada kalangan UMKM.

“Pengguna QRIS meningkat tajam di Banyumas, karena selain memudahkan transaksi juga aman untuk melindungi diri di tengah pandemi Covid-19,” katanya dalam acara peresmian implementasi QRIS pada pasar rakyat dan sektor pariwisata di Pendopo Sipanji, Rabu (9/9/2020).

Lebih lanjut Samsun Hadi mengatakan, BI akan terus mengkomunikasikan transaksi non tunai khususnya manfaat QRIS kepada masyarakat secara lebih luas, termasuk merchant melalui sosialisasi dan edukasi yang masif dan terstruktur, sehingga diharapkan akan meningkatkan literasi keuangan digital dan mendorong akseptansi maupun penggunaan QRIS.

Saat ini, implementasi QRIS di Kabupaten Banyumas telah dilakukan pada berbagai sektor, antara lain pada sektor pariwisata baik milik pemda maupun swasta, sektor jasa kesehatan yaitu rumah sakit, klinik dan apotek, sektor perdagangan baik pasar rakyat dengan pilot project Pasar Manis serta toko-toko retail besar maupun dalam lingkup UMKM, sektor penyediaan akomodasi makanan dan minuman yaitu perhotelan dan restoran, serta tempat ibadah dan lembaga donasi sosial.

Digitalisasi transaksi pembayaran secara non tunai tersebut, lanjutnya, dilakukan dalam rangka optimalisasi pendapatan daerah di Kabupaten Banyumas melalui implementasi QRIS pada retribusi pasar rakyat yaitu Pasar Manis sebagai pilot project dan empat lokasi wisata milik Kabupaten Banyumas yaitu Lokawisata Baturraden, Taman Balai Kemambang, THR Pangsar Soedirman, dan Taman Rekreasi Andhang Pangrenan (TRAP). Disamping itu transaksi digital secara non tunai melalui aplikasi juga mulai diterapkan untuk pajak restoran dan hotel yang sebanyak 500 buah.

“Implementasi QRIS ini juga merupakan langkah awal menuju smart city. QRIS sendiri memudahkan masyarakat dalam bertransaksi karena dapat diakses oleh berbagai aplikasi pembayaran,” terangnya.

Transaksi digital secara non tunai sangat mendukung pelaksanaan akuntabilitas keuangan. Hal ini sejalan dengan semangat pemerintah daerah dalam mengelola keuangan daerah. Transaksi melalui QRIS dapat menjadi salah satu inovasi melalui e-retribusi untuk optimalisasi pendapatan asli daerah.

Samsun Hadi berharap, percepatan elektronifikasi transaksi pemkab dapat semakin diperkuat melalui koordinasi dan kolaborasi dalam naungan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) Kabupaten Banyumas. Sebab, kebutuhan transaksi non tunai sekarang ini tidak hanya merupakan tuntutan dari teknologi yang semakin berkembang, tetapi menjadi kebutuhan dalam masa-masa sulit pandemi Covid-19 seperti saat ini.

Protokol Covid-19 yang mengharuskan adanya physical distancing, mendorong kebutuhan kanal pembayaran yang cashless dan contactless, sehingga transaksi dengan QRIS menjadi salah satu solusi.

Sementara itu, Bupati Banyumas, Achmad Husein mengatakan, pihaknya berharap perbankan bisa memberikan reward dalam bentuk undian berhadiah untuk pengguna QRIS. Hal tersebut dilakukan untuk menarik minat masyarakat.

“Nanti setahun sekali diundi, hadiahnya yang menarik, seperti sepeda motor atau sejenisnya,” kata Bupati.

Lihat juga...