Pandemi Corona Industri Film Indonesia Ikut Terguncang

Pihaknya juga harus berpikir keras menyusun berbagai langkah ke depan, termasuk membuat perencanaan dan strategi serta mendesain ulang untuk memulai kembali kegiatan produksi di masa pandemi COVID-19.

Kegiatan produksi yang batal dimulai di awal April 2020, kini mulai masuk praproduksi film di Agustus 2020.

“Sekarang ini bikin pusing bagaimana memulai kembali dan dengan adanya pemikiran bahwa ada pandemi di tengah kita dan harus dipikirkan protokol kesehatan dari segala lini, kita tidak hanya bicara soal produksi tapi juga distribusi film,” katanya.

Dalam masa pandemi COVID-19, kata dia, produksi film tidak bisa selamanya berhenti. Untuk itu, harus ada adaptasi dan perubahan yang dilakukan.

Satu yang harus dipikirkan, katanya, adalah protokol kesehatan sangat melekat dengan desain produksi. Itu berbicara banyak aspek, di antaranya jumlah orang atau kru, jenis adegan, protokol yang harus dilakukan, dan berbagai desain ulang sebelum pengambilan gambar.

Bahkan, pihaknya harus mengalokasikan dana tambahan khusus untuk melakukan protokol kesehatan selama kegiatan produksi film.

“Kita harus menyisihkan dana tambahan khusus protokol kesehatan, seperti sebelum produksi semua kru harus menjalani tes PCR,” katanya.

Di pihaknya, semua kru wajib mengikuti uji usap sebelum kegiatan produksi film, bahkan setiap hari selama kegiatan produksi film berlangsung.

Misalnya, dengan kru 90-100 orang, maka setiap hari ada sekitar 10 orang yang wajib ikut tes usap dengan metode PCR, demikian Shanty Harmain ​​​​​. (Ant)

Lihat juga...