Masa Pandemi, Penjualan Es Buah di Maumere Mulai Bergairah

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Pedagang es buah di Kota Maumere yang setia berjualan es buah saban hari bisa dihitung dengan jari sementara pedagang es buah lainnya hanya berjualan saat bulan puasa saja.

Dampak merebaknya pandemi Covid-19 membuat para penjual es buah yang rutin berjualan di beberapa lokasi strategis di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami penurunan penjualan.

“Sehari sebelum pandemi Corona bisa mendapatkan pemasukan Rp500 ribu sampai Rp2 juta. Sejak Corona menyebar pendapatan turun hingga mencapai Rp300 ribu sampai Rp500 ribu,” ungkap Astuti, penjual es buah di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Selasa (15/9/2020).

Astuti mengaku, penjualan menurun drastis sejak bulan April sampai Juni 2020 karena sekolah, kampus dan perkantoran banyak ditutup. Pasar pun kata dia sepi pembeli, karena masyarakat dianjurkan membatasi kegiatan di luar rumah.

Ia memaparkan, penjualan mulai meningkat semenjak diberlakukan new normal pertengahan Juni 2020. Dengan harga jual Rp5 ribu per gelasnya, penjualan mulai mendekati normal selepas bulan Agustus dimana dalam sehari bisa mendapatkan pemasukan Rp1 juta.

“Sekarang sudah mulai normal meskipun pendapatannya tidak seperti semula sebelum Covid-19. Hampir semua sekolah hanya belajar tatap muka di sekolah 2 hari saja dan pegawai kantor pun banyak yang masih takut berbelanja,” terangnya.

Astuti mengaku optimis penjualan es buah kembali normal mengingat saat memasuki musim kemarau dan panas yang menyengat membuat usahanya banjir pembeli.

“Tentu sebagai pedagang kita harus optimis sehingga meskipun ada wabah Corona saya tetap berjualan. Saat Corona ini paling sehari hanya untung bersih Rp300 ribu saja sudah bersyukur sekali,” ungkapnya.

Penjual es buah di Pasar Alok, Kota Maumere, Suryani bernasib lebih baik. Dirinya mengaku penjualan es buahnya tidak terlalu anjlok sebab sehari maksimal 60 gelas es buah terjual.

Penjual es buah di Pasar Alok, Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Suryani saat ditemui di tempat usahanya, Selasa (15/9/2020). Foto: Ebed de Rosary

Saat pandemi Corona merebak, kata dia, sehari paling laku 30 gelas saja dan mulai ada peningkatan mencapai 60 gelas dimana rata-rata es buah harganya sama dimana-mana Rp5 ribu per gelas.

“Kalau sedang ramai bisa laku terjual 60 gelas dan dapat uang Rp1,8 juta. Kalau sepi paling laku hanya 40 gelas saja tetapi itu pun masih lumayan dan bisa untung sedikit,” ucapnya.

Suryani menawarkan es buah biasa dan es biau cincau melon dengan rasa yang unik dan disukai pembeli. Meski harga tetap dan penjualan menurun, ia mengaku tetap semangat berjualan karena keuntungan tetap diperoleh.

“Ada saja yang beli apalagi setiap hari Selasa yang merupakan hari pasar mingguan bisa laku lebih dari 60 gelas kalau sedang mujur. Lumayanlah sehari bisa untung minimal Rp200 ribu sampai Rp300 ribu,” ucapnya.

Lihat juga...