Masa Pandemi Tingkatkan Transaksi Nontunai Gunakan QRIS

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Tren masyarakat melakukan transaksi nontunai (cashless) mendorong penggunaan QRIS. Yanti, pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) sektor kuliner menyebut perkembangan pemakaian uang digital meningkat.

Literasi keuangan berbasis digital mulai mendorong dirinya sebagai pelaku usaha memakai Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS).

Peningkatan transaksi QRIS lanjut Yanti seiring dengan pengurangan penggunaan uang tunai saat pandemi Covid-19. Sebagai pedagang atau merchant toko oleh-oleh kuliner khas Lampung ia menggunakan sejumlah dompet digital. Penyedia dompet digital yang digunakan meliputi OVO, DANA, Linkaja dan Gopay. Konsumen akan melakukan pembayaran sesuai dengan dompet digital yang dimiliki.

Selama menerapkan QRIS sejak awal tahun ini dominan transaksi berbasis customer presented model (CPM). Sebab sebagian konsumen sudah jamak berbelanja memakai sistem digital dimana transaksinya dilakukan oleh pembeli dengan memperlihatkan QRIS kepadanya selaku pemilik gerai. Cara kedua dengan merchant presented mode (MPM) dengan memperlihatkan QRIS kepada pembeli saat transaksi.

“Saat ini pelanggan umumnya enggan memakai uang tunai dengan tujuan menjaga kontak fisik, solusinya penggunaan uang nontunai menggunakan sejumlah dompet digital yang dipindai dengan perangkat elektronik,” terang Yanti saat ditemui Cendana News, Kamis (10/9/2020).

Sebelumnya transaksi nontunai kerap dilakukan oleh konsumen memakai kartu kredit dan kartu debet. Namun kemudahan platform penyedia dompet digital memudahkan pelanggan. Terlebih syarat kepemilikan dompet digital tidak sesulit aplikasi pengajuan kartu kredit dan kartu debet. Tanpa memiliki rekening bahkan berbasis nomor telepon dompet digital bisa dimiliki.

Persentase penggunaan QRIS menurutnya masih terbilang rendah dibanding uang tunai. Sebab dari 100 konsumen 60 diantaranya masih melakukan pembayaran tunai, 40 konsumen menggunakan QRIS. Ia memastikan tren penggunaan uang digital akan terus meningkat seiring literasi finansial masyarakat yang berkembang.

“Tentunya kepemilikan QRIS dan uang digital seiring dengan promo belanja yang kerap diberikan, bahkan kini ada Shopeepay,” paparnya.

Sistem pembayaran digital menurutnya sudah menjadi budaya yang tidak terelakkan. Meski kebutuhan uang tunai masih tetap digunakan selama masa pandemi, metode belanja dengan QRIS terus digunakan. Bagi pelaku usaha kecil sepertinya, Yanti memastikan transaksi memakai uang digital jadi kebutuhan. Sejumlah pelaku usaha di Jalan Zainal Abidin sepertinya bahkan dominan memakai QRIS.

Lina, pelaku usaha lain menyebut penggunaan QRIS membuat ia tidak harus berkontak fisik dengan pelanggan. Konsumen akan memilih produk yang akan dibeli selanjutnya proses pembayaran dengan pemindaian. Transaksi yang telah berhasil akan diperlihatkan konsumen dan notifikasi pembayaran akan muncul pada dompet digital yang dimilikinya.

Lina (kanan) pemilik usaha penjualan oleh oleh melayani pembelian keripik pisang dengan pembayaran QRIS, Kamis (10/9/2020) – Foto: Henk Widi

“Konsumen saya dominan generasi milenial yang telah memiliki literasi finansial dengan memakai QRIS,” cetusnya.

Dalam sehari ia bisa melayani sekitar 100 transaksi memakai QRIS sisanya tunai. Pembeli yang belum menggunakan QRIS umumnya warga yang telah memiliki telepon seluler namun belum menginstal aplikasi dompet digital. Tetap menerima uang tunai Lina menerapkan protokol kesehatan dengan menggunakan hand sanitizer.

Pengguna QRIS untuk pembayaran dilakukan juga oleh Mang Udin di pasar Teluk Betung, dia mengaku lebih praktis. Menjual es buah dan es kelapa muda dengan harga Rp13.000 ia tak harus menyediakan uang kembalian. Sebelumnya ia harus menyiapkan uang kembalian Rp2.000 bagi yang menyerahkan uang Rp15.000. Ia memakai QRIS dengan dompet digital Dana, Shopeepay, Gopay, Linkaja, OVO.

“Saya kini cukup melayani pemesanan dengan pemesanan memakai aplikasi, pengecekan dilakukan oleh anak setiap transaksi,” cetusnya.

Penggunaan QRIS saat pandemi disebutnya juga memberi rasa aman bagi pelanggan. Sebab kontak fisik saat menyerahkan uang tunai jarang dilakukan. Sistem pembayaran digital dalam sehari menurutnya bisa melayani sebanyak 300 porsi minuman. Selain diminum pada warung miliknya sebagian minuman dikirim memakai jasa ojek online.

Lihat juga...