Masih Banyak Sekolah di Sikka Belum KBM Tatap Muka

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Meskipun Pemerintah Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui bupati Sikka telah me-launching Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah, masih banyak sekolah yang belum melaksanakan kegiatan tersebut.

Pihak sekolah beralasan masih melakukan rapat bersama orang tua murid terlebih dahulu yang tergabung dalam Komite Sekolah agar bisa dibahas bersama proses KBM selama masa pandemi Covid-19.

“Kami masih mengadakan rapat bersama pihak sekolah terlebih dahulu baru diterapkan KBM di sekolah. Rapat akan dilaksanakan Hari Kamis dan Jumat dalam minggu ini,” kata Maria W. Parera, orang tua murid SD Inpres Nangameting, Kota Maumere, Selasa (1/9/2020).

Orang tua wali murid SD Inpres Nangameting, Maria W. Parera saat ditemui, Senin (1/9/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Maria menyebutkan, orang tua murid juga sebenarnya setuju dilaksanakan KBM di sekolah apalagi Kabupaten Sikka sudah memasuki zona hijau sehingga aktivitas di era new normal bisa berjalan dengan penerapan protokol kesehatan.

 Apalagi selama ini kata dia, pembelajaran berkelompok juga  membuat para murid rentan tertular Covid-19 karena tidak ada yang melakukan kontrol saat para murid melaksanakan belajar bersama di rumah warga dan fasilitas umum.

“Memang perlu ada pengkajian dan persetujuan orang tua wali murid terlebih dahulu sebelum dilaksanakan KBM di sekolah.Orang tua murid juga perlu mengetahui syarat apa saja yang dibutuhkan,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SD Inpres Nangameting, Kota Maumere, Yustina Ina Deran, dalam suratnya kepada orang tua murid mengucapkan banyak terima kasih atas partisipasi dan dukungan orang tua sebagai wujud kerja sama dengan pihak sekolah selama proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Yustina mengatakan, Maumere sudah dinyatakan zona hijau, oleh karena itu peserta didik sudah dapat melakukan pembelajaran secara tatap muka langsung di sekolah dan sesuai anjuran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, SD Inpres Nangameting menerapkan pembelajaran sistem shift.

“Ketentuannya, jumlah peserta didik dapat dibagi dalam kelompok terbatas (shift) di mana maksimal dalam satu kelompok ada  14 peserta didik, “ sebutnya.

Yustina menambahkan, untuk shift pertama akan melaksanakan pembelajaran di sekolah pada pagi hari mulai jam 07.30 sampai 09.30 WITA sedangkan shift kedua akan melalanakan pembelajaran di sekolah pada pukul 10.00 hingga 12.00 WITA.

Ia menjelaskan, satu jam pelajaran berdurasi 120 menit atau 2 jam serta mata pelajaran yang diberikan pada pembelajaran normal untuk semua tema dan agama, sedangkan PJOK diberikan tugas untuk diselesaikan di rumah.

“Kami akan melaksanakan raat bersama orang tua atau wali murid pada Kamis dan Jumat ini sebelum mulai diterapkan proses pembelajaran secara tatap muka di sekolah kembali,” ungkapnya.

Disaksikan Cendana News, beberapa SD dan SMP yang ada di Kota Maumere, Kabupaten Sikka banyak yang belum melaksanakan proses belajar mengajar di sekolah secara tatap muka.

Sekolah-sekolah tersebut rata-rata masih menunggu adanya keputusan rapat bersama dengan orang tua wali murid terlebih dahulu serta melengkapi perlengkapan yang dibutuhkan seperti alat pengukur suhu tubuh, tempat cuci tangan dan masker.

Pihak sekolah juga beralasan masih menunggu dilakukan pembersihan sekolah dan penyemprotan disinfektan terlebih dahulu di segenap ruangan dan kompleks sekolah sebelum KBM tatap muka dilaksanakan.

Lihat juga...