Menggali Potensi SDA dan Bencana di Laut Selatan Jawa

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Upaya untuk mengembangkan Laut Selatan Jawa harus didasarkan pada potensi yang dimiliki, yang bisa diketahui dengan melakukan kajian dan eksplorasi. Jika potensi positif, maka bisa dikembangkan dan jika potensi bencana, maka harus dipersiapkan mitigasinya.

Peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Laut, Ir. Subaktian Lubis, menyebutkan, seperti wilayah lainnya di Indonesia, membicarakan potensi Laut Selatan Jawa akan berbicara tentang potensi sumber daya migas, sumber daya mineral, sumber bencana geologi, pencemaran laut dan samudra sebagai sumber EBT.

“Potensi pertama yang terungkap melalui kajian, yaitu potensi gas hidrat. Gas hidrat ini, umumnya merupakan gas methan yang terperangkap pada batuan penutup yang bersifat plastis pada cekungan tersier,” kata Subaktian, dalam Sarasehan Kelautan, Selasa (29/9/2020).

Ia mengungkapkan, bahwa dari kajian air seismic gun, diperkirakan cadangan hipotesis sementara pada perairan selatan Sumatra Selatan dan Jawa Barat mencapai luas 22.000 kilometer persegi.

Peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Laut, Ir. Subaktian Lubis, saat menjelaskan tentang potensi di Laut Selatan Jawa, saat Saresehan Kelautan, Selasa (29/9/2020). –Foto: Ranny Supusepa

“Potensi ke dua adalah gas biogenik methan di laut dangkal, yang berasal dari hewan atau tumbuhan yang terperangkap di lapisan permukaan holosen. Sifat lapisan holosen ini plastis dan tidak tembus air dan udara. Sehingga keberadaan gas biogenik, bisa terlihat dari kantung-kantung gas di dasar laut,” urainya.

Di daratan, kantung udara gas biogenik ini bisa menjadi salah satu sumber energi, yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Walaupun, mayoritas masyarakat malah menganggapnya sebagai hal yang membahayakan. Pemanfaatannya bisa untuk kompor gas dengan menyesuaikan spuyer kompor atau untuk generator listrik, seperti yang dilakukan di Kalimantan Selatan.

“Potensi ke tiga di dasar laut, yaitu mineral dasar laut, seperti kerak Mangan, yang diangkat dari kedalaman 3936 meter di Laut Banda. Atau Kobalt dan Nikel. Walaupun mayoritas adalah Mangan. Atau jalur Timah, jalur Tembaga. Tapi, potensi ini belum terlihat di wilayah selatan Jawa. Saya cenderung penyebabnya adalah karena belum dilakukan survei secara mendalam,” papar Subaktian.

Dari segi potensi energi laut, pada 2011, Dewan Energi Nasional meratifikasi potensi energi yang berasal dari laut, secara praktis adalah 49.000 MW, yang terbagi menjadi panas laut 43 ribu MW, arus laut 4.800 MW dan gelombang laut 1,200 MW. Dan, diperbaharui pada 2017 oleh KESDM, yang menyatakan angkanya adalah 60.8 GW, dengan rincian panas laut 41 GW, arus laut 17,9 GW dan gelombang laut 1,9 GW.

“Jika dimiliki fasilitasnya, maka eksplorasi potensi ini bisa dilakukan. Baik menggunakan ADCP untuk mengukur arus, seperti yang dilakukan di Nusa Penida tahun 2016 atau dengan teknologi lainnya,” paparnya lebih lanjut.

Untuk potensi bencana geologi, tentunya alasan dilakukannya kajian adalah untuk membangun mitigasi bencana untuk menghindari dampak negatif.

“Data historis menunjukkan berbagai bencana yang sudah terjadi. Yang penting dari data ini adalah menyikapi daerah yang kosong, yang memiliki potensi pelepasan dahsyat sebagai akibat tidak adanya pelepasan dalam kurun waktu yang panjang. Daerah kosong ini banyak terpantau di daerah selatan laut Jawa dan Selat Sunda,” kata Subaktian.

Dan, hal lainnya yang perlu diwaspadai adalah potensi pencemaran laut, yang umumnya berasal dari tumpahan minyak dari kapal yang lalu lalang di wilayah tersebut.

“Contohnya, apa yang terjadi pada 2015, terjadi pencemaran minyak di perairan Cilacap. Pencemaran ini terjadi cukup masif, sampai-sampai melibatkan masyarakat dalam proses pembersihannya,” ujarnya.

Dalam kasus tumpahan minyak ini, lanjutnya, yang terpenting adalah menyusun suatu respons berbasis win-win solution, sehingga proses pencemaran bisa dilakukan secara cepat.

“Dari semua potensi yang ada di laut, perlu didorong untuk melakukan survei pada beberapa potensi yang hingga saat ini belum dilakukan, seperti potensi gas hidrat dasar laut dan gas biogenik laut dangkal. Dan, melakukan mitigasi bencana geologi maupun mitigasi pencemaran laut,” pungkasnya.

Lihat juga...