Mengubah Rempah jadi Aneka Sirup Alami

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BEKASI – Kecintaan pada tanaman herbal menjadikan Ibu Wied, warga Grand Prima Bintara Blok C3 No 29, Kota Bekasi, Jawa Barat, mencoba mengolah berbagai bahan rempah menjadi aneka sirup alami.

“Sejak tahun 2012, saya mulai intens menekuni tanaman herbal atau rempah. Bahkan ikut Bimtek khusus tentang pengolahannya. Hal itu kemudian jadi salah satu dorongan untuk mengolah rempah menjadi produk sirup alami,” ungkap Ibu Wied Areta, ditemui Cendana News di rumahnya, Selasa (15/9/2020).

Kreasi tanpa batas terus dilakukan Ibu Wied hingga menemukan keserasian produk olahan sirup rempah alami. Setidaknya ibu asal Yogyakarta ini, sudah membuat empat varian sirup alami tanpa bahan pengawet dengan bahan baku rempah atau herbal pilihan dengan brand Wala.

Awalnya sirup alami Wala yang dibuat Ibu Wied hanya dua varian yakni Tamarine dan Secang. Saat ini sudah bertambah dua varian lagi, yaitu sirup bahan baku dasar Rosella dan Pala.

Semua varian bahan bakunya didatangkan dari luar daerah seperti asam jawa masak di pohon, gula aren dan gula kelapa asli bahan baku tersebut dipesan langsung dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah.

Begitu pula bunga rosella merah dan rosella ungu kualitas super, sengaja didatangkan dari Daerah Kediri. Sementara buah Pala segar dari Sukabumi. Bahkan kayu secang yang kini langka bisa didapatkan.

Semua sirup Wala yang dibuat dari aneka tanaman tersebut dilengkapi dengan rempah tambahan seperti jahe merah, jahe putih untuk sirup secang yang istimewa.

“Sirup Wala diramu dengan sepenuh hati, dengan cara manual di rumah dengan formula istimewa yang diharapkan bisa dinikmati dan disukai oleh segala usia,” ungkap Ibu Wied.

Sirup Wala diklaim Ibu Wied sebagai pionir produk sirup rempah alami di Kota Bekasi. Hal tersebut diketahuinya setelah dirinya mendaftarkan produk tersebut untuk berproses mendapatkan Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SIPP-IRT). Saat ini sudah selesai BAP tahap selanjutnya tinggal menunggu keluar dari Dinkes.

“Empat varian produk sirup alami Wala, sebenarnya memiliki keistimewaan bagi kesehatan. Tapi karena izin mendapatkan P-IRT salah satu syarat tidak boleh mencantumkan khasiat, tapi mereka yang paham bahan herbal pasti akan suka dan pesan lagi, setelah merasakan khasiat rempahnya,” ujarnya.

Dia mencontohkan, seperti produk ramuan sirup alami terbaru dari kreasinya yakni sirup Rosella ungu dan merah. Bahan tersebut cukup susah mendapatkan harus dari Kediri. Begitu pun sirup pala, bahan bakunya dari Sukabumi.

Diakuinya sampai saat ini belum menemukan saringan yang pas untuk menyaring partikel pada pala yang sangat halus. Namun demikian diakuinya semua butuh proses untuk menuju penyempurnaan.

Meski sudah setahun berproduksi sirup Tamarin dan Secang, Ibu Wied mengaku belum membuka pasar online ataupun outlet khusus. pemasaran hanya dari mulut ke mulut.

Dia menyebutkan saat ini banyak pesanan ada yang minta jadi reseller atau agen. Bahkan ada yang berminat mengajak kerjasama untuk mengembangkan pabrik sirup. Tapi dia mengaku masih terus berkreasi mengembangkan sirup alami secara mandiri secara rumahan.

Menurutnya di tengah Covid-19, ada pergeseran yang disebut tren kekinian dimana orang pesan Wala sirup alami untuk dijadikan bingkisan seperti hantaran dengan kemasan khusus. Dikirim ke saudara atau rekanan yang sudah lama tidak bertemu.

“Selama Covid-19 ini, saya lebih fokus karena permintaan sirup alami Wala meningkat drastis. Padahal saya belum buka penjualan online atau galeri khusus. Murni dari mulut ke mulut ataupun ikut bazar di tingkat kelurahan,” ungkap Ibu Wied.

Dia mengaku banyak saran agar dirinya menggunakan bahan pengawet buatan untuk sirup yang diproduksinya. Tapi Ibu Wied masih bertahan dengan rempah yang dipercaya mengandung bahan pengawet alami.

Ibu Wied ingin tetap mempertahankan keaslian, karena selama ini sirup Wala bisa bertahan dua bulan meski tanpa tambahan bahan pengawet. Sirup Tamarin bisa lebih dua bulan bertahan karena bahan bakunya sendiri kerap digunakan sebagai bahan pengawet alami seperti gula pasir, gula kelapa atau aren, gula batu dan asam jawa.

“Untuk harga jual dimulai dari Rp25 ribu sampai Rp35 ribu. Paling mahal Sirup Secang, dan paling murah Rosela, karena masih promosi. Semua harga tersebut memiliki ukuran 500 ml,” ujarnya.

Ibu Wied merupakan wanita karir lebih dari 25 tahun bekerja dengan berbagai lembaga internasional dan kementerian/lembaga untuk pengembangan kapasitas pemerintahan daerah dan perumusan kebijakan publik.

Dia pernah menjadi Penasihat Senior/Deputy Component Team Leader di proyek lembaga donor dan juga Direktur Eksekutif Institusi Nasional yang mempunyai fokus pada inovasi pemerintahan daerah. Evaluator dan reviewer program lembaga donor dan kebijakan publik. Selain itu juga menjadi narasumber untuk inovasi pemerintahan daerah.

Lihat juga...