MUI Dorong Ekonomi Kerakyatan Berbasis Rumah Tangga

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Ketua MUI Bidang Pengembangan Ekonomi Umat, Lukmanul pada launching program Muslimah Preuner yang digelar MUI secara webinar di Jakarta, Senin (21/9/2020) sore.foto: Sri Sugiarti.

JAKARTA — Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendorong penguatan-penguatan ekonomi kerakyatan berbasis rumah tangga, dan diharapkan umat Islam dapat menjadi pengendali roda perekonomian nasional.

Ketua MUI Bidang Pengembangan Ekonomi Umat, Lukmanul Hakim mengatakan, selama ini roda ekonomi berbasis rumah tangga kurang mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Sehingga program muslim preuneur harus terus digalakkan.

“Muslim preuner bisa dijadikan satu tonggak ekonomi berbasis rumah tangga, dalam meningkatan penghasilan dan kesejahteran ibu-ibu rumah tangga,” ujar Lukman pada launching program Muslimah Preuner yang digelar MUI secara webinar di Jakarta, Senin (21/9/2020) sore.

Dia menegaskan, MUI bergerak melalui perekonomian berbasis rumah tangga. Ini suatu upaya yang gerakannya terlihat kecil tetapi jika dilakukan masif akan sangat mempengaruhi perekonomian Indonesia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan usaha besar, totalnya sebanyak 64,5 juta. Dimana sebesar 62,1 juta atau sekitar 97 persen itu usaha mikro. Sementara usaha kecil tercatat 1,1 persen atau 5,7 juta, dan usaha menengah sekitar 0,09 persen atau 3,7 juta, serta usaha besar sebesar 0,01 persen atau 3,5 juta.

Namun kata Lukman, meskipun data usaha besar di Indonesia hanya 0,01 persen, tapi menguasai kapital ekonomi sebesar 97 persen.

Sehingga MUI melalui Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat berupaya terus mendorong pelaku UMKM untuk berkembang.

“Kami yakin usaha mikro yang 97 persen itu di masa mendatang bisa memberi dampak terhadap perekonomian nasional,” imbuhnya.

Apalagi sekarang ini dengan kekuatan umat Islam yang bergerak di bidang ekonomi bisa membuat jejaring atau pemasaran.

“Ini tentu akan menjadi prioritas kita dan memperkuat posisi ekonomi umat Islam, khususnya rumah tangga,” ujarnya.

Menurutnya, penguatan ekonomi berbasis rumah tangga menjadi tanggungjawab semua elemen bangsa. Yakni bagaimana penguatan ini dalam bukti nyata dapat diwujudkan.

Saat ini, MUI sedang mengerjakan penguatan ekonomi berbasis pesantren dan komunitas.

Lukman pun mencontohkan, salah satu pesantren di Bandung Barat yang dengan bantuan pendampingan managemen berbasis rumah tangga dapat mengembangkan usaha sayur mayur di lingkungan pesantren tersebut.

“Bahkan dalam situasi pandemi Covid-19 ini justru pesantren tersebut melakukan ekspor ke berbagai negara dari hasil produk pertanian sayurnya. Ini berkat jejaring pemasaran ternyata sangat penting,” ungkapnya.

Selain itu, tambah dia, banyak teknologi pangan juga meningkat dalam situasi Covid-19. Yakni sebut dia, seperti komoditi perikanan.

“Jadi mungkin ada teknologi perikanan berbasis rumah tangga yang justru meningkat di tengah Covid-19 ini,” ujarnya.

Selain itu juga sektor pertanian masih meningkat seperti padi, jagung dan kedelai. “Tiga produk pertanian ini tetap meningkat di tengah kondisi pandemi,” tambahnya.

Bahkan produk froozen food menurutnya, bertahan di tengah badai Covid-19.

“Produk froozen ini cukup bertahan meskipun tidak meningkat tajam,” ujarnya.

Padahal pada awal pandemi Covid-19, jelas dia, produk ini menurun drastis sehingga harga jual di bawah harga dasar. Tetapi belakangan pada kuartal II 2020, produk froozen ini meningkat pemasarannya.

“Ya mungkin karena work from home (WFH) ibu-ibu dan keluarga masak di rumah sehingga permintaan meningkat,” ujarnya.

Lukman berharap usaha kecil berbasis rumah tangga juga bisa membantu peningkatan perekonomian Indonesia.

“Jika usaha berbasis rumah tangga ini dilakukan masif akan sangat berpengaruh pada perekonomian Indonesia. Umat Islam jadi pengendali roda perekonomiannya,” tutup Lukmanul Hakim yang menjabat staf khusus Wapres Bidang Ekonomi dan Keuangan.

Lihat juga...