MUI Ingatkan Ideologi Komunis tak Bisa Hilang

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhyiddin Junaidi, mengatakan, Indonesia sudah mengalami beberapa kali pemberontakan kebiadaban dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Dan, akhir-akhir ini kita menyaksikan adanya ‘revival of PKI’ atau gaya baru PKI dengan berbagai atribut dan simbol-simbol.

“Nampak kembali komunis dengan gaya baru, dengan new cassing. Banyak kita sudah saksikan begitu masif pemberitaan tentang komunisme,” ujar Muhyiddin, pada acara webinar bedah buku Banjir Darah : Wakaf Mulia VS Komunis Bengis’, di Jakarta, Rabu (30/9/2020).

Salah satunya, sebut dia, ada buku yang dikarang oleh para kader keluarga PKI yang saat ini sudah menjadi dewan terhormat, yakni buku ‘Aku Bangga Jadi Anak PKI’ dan lain sebagainya.

Ini, menurutnya bukan sekadar hoak, tapi fakta dan nyata. Dan, terakhir yang menghebohkan, mereka mengajukan Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) yang jelas-jelas mengusung paham komunisme.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhyiddin Junaidi, pada acara webinar bedah buku Banjir Darah : Wakaf Mulia VS Komunis Bengis’, di Jakarta, Rabu (30/9/2020). -Foto: Sri Sugiarti

“Alhamdulillah kita siap, semua elemen bangsa yang ada di Indonesia bersatu dan menolak RUU tersebut. Lalu kita bertanya, mengapa yang mengajukan RUU itu dibiarkan saja dan tidak mendapatkan sanksi apa-apa? ” tegasnya.

Padahal, menurutnya, TAP MPRS Nomor 25 tahun 1966 jelas melarang melakukan komunikasi dan kerja sama dengan partai komunis. Larangan memakai atribut komunisme  dan berbagai simbol komunis di Indonesia juga diberlakukan. Dan, hingga kini larangan itu masih berlaku.

Namun, Muhyiddin sangat menyayangkan TAP MPRS hanya tinggal kenangan, karena mereka bangga memakai atribut PKI, dan juga banyak yang berpendapat, bahwa komunis atau PKI sudah tidak ada di bumi Indonesia.

“Betul PKI-nya sudah dilarang, tapi ideologi itu tidak mungkin hilang. Tapi kita harus tetap waspada, karena tanda-tanda gaya baru komunis sudah nyata terlihat,” ujarnya.

Maka, Muhyiddin mengingatkan agar umat muslim belajar di dalam Alquran, bagaimana kisahnya kaum Ad, kaum tsamud, kaum Lud, Firaun, dan Namrud.

Dalam kisah tersebut, dijelaskan banyak orang yang melakukan lesbianisme, gay, sodomi. Dan, orang-orang itu dihancurkan oleh Allah SWT, sehancur-hancurnya.

Ada juga di Hamas yang sangat terkenal saat ini di Yordania dan Israel, yaitu Laut Mati.

“Laut mati itu sebetulnya bagian yang tidak terpisahkan dari azab yang Allah SWT diturunkan kepada kaum nabi Lud. Karena mereka melakukan pembangkangan, pelanggarang, kemaksiatan, dan kemunkaran, dihabiskan tidak ada yang tersisa,” urainya.

Muhyiddin juga merasa heran, kenapa kini masih banyak yang menyimpang dan mendukung LGBT, bahkan perusahaan besar dengan kampanye yang modern dan progresif seakan kesetaraan gender dan sebagainya.

“Jadi, odeologi komunisme masih hidup walaupun partainya sudah dilarang. Maka, atribut komunisme juga mulai dinampakkan di negara kita. Ini apa artinya? Merupakan peringatan bagi pemuka agama, bahwa kita tidak boleh santai, tidak boleh terjebak dengan slogan yang manis yang biasa disampaikan oleh kader PKI,” ungkapnya.

Kembali dia mengingatkan, bahwa memang kerap kali mereka mengatakan kalau komunisme di dunia sudah mati, baik itu di Cina, Uni Soviet, dan Korea Utara.

“Itu salah besar. Cina dalam pemerintahannya semuanya dikendalikan oleh partai komunis Thiongkok, tetapi sistem ekonominya liberal. Semua yang melakukan kegiatan ekonomi di bawah pengawasan Partai Komunis Thiongkok,” ujarnya.

Indonesia sudah beberapa kali dikhianati oleh PKI, sehingga Muhyiddin mengingatkan agar jangan lengah. Harus meningkatkan kewaspadaan, khususnya hari ini, 30 September, di mana kebiadaban PKI terjadi membunuh para jenderal.

Muhyiddin berharap, buku Banjir Darah ini dapat mengedukasi bangsa dan umat Islam Indonesia, terutama generasi muda.

“Ada 65 juta warga Indonesia yang masuk dalam kategori umur muda. Mereka kadang tidak paham lagi tentang PKI, dan menganggap tidak berbahaya,” ujarnya.

Karena itu, menurutnya edukasi sejarah menjadi tanggungjawab moral kita untuk mendidik generasi muda. Yakni, kita harus menyampaikan informasi yang benar sesuai fakta, bukan hoaks. Sehingga, mereka  paham tentang kebiadaban dan kekejaman komunisme, terutama di Republik Indonesia tercinta ini.

Lebih lanjut Muhyiddin mengatakan, bahwa 75 persen isi kandungan Alquran berkaitan dengan sejarah. Dan, bangsa yang besar adalah bangsa yang paham sejarahnya.

Dia juga mengingatkan, jangan sampai sejarah itu ditulis oleh para politikus yang kadang terbawa oleh arus plat politiknya.  “Yang kadang hitam bisa jadi putih, serta putih bisa jadi hitam. Kita  serahkan kepada pakar untuk menulis sejarah komunisme  di Indonesia,” tandasnya.

Muhyiddin juga menyayangkan, sebagian orang yang menyangka, bahwa film pengkhianatan G30S/PKI adalah sebuah produk konspirasi untuk menjelek-jelekkan kelompok tertentu.

HaI itu, menurutnya tidak benar karena masih banyak saksi yang hidup saat ini yang menyaksikan tentang kebiadaban pengkhianatan PKI pada 30  September 1965, itu.

“Buku Banjir Darah ini penting untuk betul-betul dipahami oleh bangsa dan rakyat Indonesia, terutama oleh generasi muda. Buku ini sebagai bukti, bahwa kebiadaban PKI terekam dengan fakta yang jelas dan benar, didukung oleh data yang valid,” ujarnya.

Muhyiddin berharap, agar rakyat Indonesia selalu belajar sejarah, dan tidak berdiam diri melihat kemunkaran dan kezaliman di depan mata. Karena jika kita berdiam diri, Allah SWT akan menurunkan azab kepada kita secara merata.

“Dengan belajar sejarah negara kita, insyaallah kita akan tetap bersatu untuk menghalau paham komunisme. Karena komunis antiagama dan bertentangan dengan ideologi Pancasila, yaitu  Ketuhanan Yang Maha Esa,” tutupnya.

Lihat juga...