Nasib Usaha Produk Kulit di Padang Panjang Terkatung-katung

Editor: Makmun Hidayat

PADANG — Tidak adanya kunjungan wisatawan asing ke Sumatera Barat akibat pandemi Covid-19, berdampak ke berbagai usaha.  Salah satunya usaha suvenir dari kulit, Minang Kayo, yang berada di Kota Padang Panjang karena pelanggannya sebagian besar adalah wisatawan asal Malaysia.

Owner Minang Kayo Masroni mengatakan usahanya kini dalam kondisi terkatung-katung semenjak tidak ada lagi kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Sumatera Barat akibat pandemi Covid-19. Produk yang dijualnya dalam bentuk tas, sepatu, sandal, jaket, dompet yang terbuat dari kulit asli itu bahkan sempat tutup akibat Covid-19.

“Sewaktu PSBB di Sumbar dulu usaha harus tutup dan para pekerja kita harus dirumahkan dulu. Bagi saya di momen itu sangat mengkhawatirkan, karena tidak ada satu pun produk kulit yang terjual padahal ekonomi keluarga saya bergantung pada penjualan usaha ini,” ujar dia ketika dihubungi dari Padang, Selasa (15/9/2020).

Masroni mengakui bahwa selama ini usahanya berkembang karena memiliki pelanggan yang setia dari wisman seperti dari Malaysia. Nama usaha Minang Kayo seakan sudah dikenal di kalangan masyarakat di Malaysia, sehingga setiap ada wisman asal Malaysia ke Sumbar selalu datang ke showroom Minang Kayo.

Owner Minang Kayo Masroni yang ditemui sebelum adanya Covid-19. -Foto: M Noli Hendra

Ketika kondisi masih normal, penjualan produk kulitnya bisa memperoleh omset sebesar Rp10 juta dalam satu pekan. Namun semenjak dilanda pandemi penjualannya benar-benar anjlok dan bahkan nilai penjualan hanya bisa memperoleh Rp2 juta per bulannya.

Dengan nilai Rp2 juta itu diperkirakan hanya sekitar dua produk yang terjual. Sebab harga-harga produk kulit yang dijualnya mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

“Sekarang strategi jual kita adalah dengan sistem online dan mengharap pembeli lokal yang datang. Tapi masih saja tidak mendapatkan respon yang baik karena ekonomi masyarakat Sumbar sendiri turut terganggu adanya Covid-19,” jelas dia.

Promosi penjualan yang dilakukan oleh Minang Kayo ini memanfaatkan media sosial serta iklan penjualan turut dipasang ke sejumlah toko online. Upaya itu dilakukannya agar penjualan tetap berlangsung meski pembeli yang berada di luar daerah Padang Panjang bisa memesan secara online.

Namun usaha itu sampai saat ini masih dikatakan belum bisa mengimbangi pendapatan dalam kondisi normal dulu. Kendati demikian Minang Kayo tetap buka dan melayani pembeli lokal yang datang ke showroom-nya yang berada dekat dari Mifan Padang Panjang itu.

Diakui Masroni rasa was-was terjadi penularan Covid-19 tetap ada mengingat orang yang datang dari berbagai daerah di Sumatera Barat. Untuk mengantisipasi terjadinya hal itu, Minang Kayo menerapkan protokol kesehatan, seperti cuci tangan serta wajib menggunakan masker, baik pekerja maupun pelanggan yang datang.

“Ya meski sudah seperti itu belum bisa dikatakan penjualan nya positif. Tapi harus bagaimana lagi, pekerja harus saya bayarkan gaji nya dan keluarga butuh biaya juga, jadi mau tidak mau berbagai upaya akan dilakukan untuk meningkatkan penjualan,” sebutnya.

Melihat sedikitnya penjualan produk kulit asli di Minang Kayo ini, Masroni menyatakan produksi pun dibatasi. Saat ini produksi yang dilakukan untuk mengisi jumlah stok di showroom yang mulai menipis seperti sepatu kulit.

Karena memang di Minang Kayo sepatu kulit menjadi salah satu produk yang cukup laris, setelah tas dan juga sandal dan dompet.

Banting Stir Jadi Pemasok Bahan Kulit

Masroni mengatakan kendati dari sisi produk kulit aslinya mengalami penjualan yang sangat minim, dalam waktu dua pekan ke depan merencanakan akan mencoba memperkencang produksi bahan kulit saja, tapi harus diolah menjadi produk seperti tas maupun yang lainnya.

“Saya berencana mau jadi pemasok bahan kulit di Sumbar ini. Jadi kita akan mengolah kulit sapi itu lalu dijual ke berbagai pelaku usaha yang juga memproduksi tas dan produk lainnya dari kulit asli,” ungkap dia.

Ia melihat peluang itu cukup bagus melihat usaha kulit di Sumbar selama ini datang dari luar daerah sehingga harga jual kulit asli terbilang cukup mahal. Masroni berencana untuk memproduksi bahan kulit itu dengan kualitas terjamin bagus.

Artinya bila rencananya itu berjalan dengan baik maka harga bahan kulit dari Sumbar bisa ditekan dengan mengurangi biaya kirim barang yang selama ini datang dari luar daerah Sumbar. Pelaku usaha pun bisa memproduksi produk kulit dengan kualitas bagus dan harga yang lebih terjangkau.

“Semua ini perlu saya lakukan agar usaha Minang Kayo tetap jalan dan ekonomi keluarga saya pun tetap stabil,” sebutnya.

Sekilas Masroni juga mengaku rindu akan suara hiruk pikuk yang datang ke showroom-nya yang kebanyakan dari wisman asal Malaysia. Setelah sekian lama terasa sepi, Masroni pun merasa usahanya kini benar-benar di porak-poranda akibat pandemi Covid-19.

Sementara itu Kepala Dinas Koperasi UMKM Sumatera Barat Zirma Yusri mengatakan bahwa tidak dapat dipungkiri bahwa nasib UMKM benar-benar dilema dalam kondisi Covid-19. Sebab tumbuh kembangnya UMKM itu berasal dari mobilitas dan aktivitas masyarakat, sementara kini aktivitas masyarakat masih terbatas akibat Covid-19.

“Terkait usaha kulit di Padang Panjang itu memang usaha kulitnya itu sangat populer dan pelanggannya itu banyak dari luar negeri ketimbang di daerahnya sendiri,” aku Zirma.

Menurutnya kini dengan adanya stimulan UMKM dari pemerintah pusat diharapkan persoalan kelesuan penjualan produk selama pandemi bisa ditutupi meskipun tidak sepenuhnya bisa memenuhi kekurangan yang ada.

Namun setidaknya kata Zirma, perekonomian UMKM bisa memperlihat tren positifnya secara perlahan. Ia berharap dari sejumlah program pemerintah yang diperuntukan bagi UMKM itu benar-benar membantu UMKM yang terdampak Covid-19.

Lihat juga...