Nelayan di Lamsel Hadapi Dampak Angin Timur

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejumlah nelayan tangkap dan budi daya di Lampung Selatan, tengah menghadapi dampak musim Angin Timur yang bersifat merusak. Jika tak diantisipasi, kerusakan akibat angin Timur bisa menyebabkan kerugian material yang cukup besar.

Sugeng, nelayan pemilik perahu kasko di pantai Desa Legundi, Kecamatan Ketapang, menyebut angin Timur memiliki sifat merusak. Gelombang pasang membawa material pasir dan sampah menimbun sarana alat tangkap.

Gelombang pasang angin Timur atau dikenal Timuran, menurut Sugeng terjadi saat malam hari. Tali tambat, perahu kasko yang berada di tepi pantai berpotensi tenggelam. Perahu jenis ketinting yang dimiliki nelayan, sebagian diangkat ke daratan menghindari terkena terjangan ombak. Tali penambat perahu miliknya, bahkan terendam material pasir sedalam satu meter.

Sugeng, nelayan di Desa Legundi, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, mengangkat tali penambat perahu kasko yang tertimbun pasir, Kamis (24/9/2020). -Foto: Henk Widi

Sugeng menyebut, fasilitas alat tangkap nelayan tidak dikontrol. Sebab, lokasi tempat tinggal dan pantai cukup jauh. Selain gelombang pasang, kondisi angin kencang berimbas air laut masuk ke dalam perahu. Sejumlah perahu yang tidak terpakai dan ditinggalkan pemilik sementara waktu, sebagian karam dan tertimbun pasir.

“Angin Timur bagi nelayan disebut memiliki sifat menimbun, pasir yang terbawa arus gelombang akan menimbun hamparan pantai, sementara angin selatan bersifat mengeruk, sehingga pasir akan terbawa arus ke laut,” terang Sugeng, saat ditemui Cendana News, Kamis (24/9/2020).

Sebagai nelayan tangkap, Sugeng menyebut musim angin timur digunakan untuk istirahat. Melaut saat kondisi angin kencang disertai gelombang cukup berisiko. Namun seusai pergantian musim, kondisi cuaca akan membaik. Saat berganti angin barat, nelayan di pesisir pantai timur akan kembali melaut untuk mencari ikan sembilang.

Selain perahu, tali tambat, angin timur juga berdampak bagi nelayan budi daya. Pasalnya, budi daya kerang hijau dan rumput laut mengandalkan tiang pancang bambu dan kayu, tercabut.

Sugeng yang memiliki beberapa tonggak memilih melakukan perbaikan dengan tonggak kayu baru. Selain tonggak kayu, rangkaian ban bekas dan tali terseret oleh gelombang.

“Kerugian bagi nelayan tangkap dan budi daya imbas cuaca terjadi, karena kerusakan alat dan sarana budi daya,”cetusnya.

Solihin, nelayan di pantai Legundi memilih menepikan perahu ke dekat pantai. Ia mengatur jarak tali penambat dengan perahu menghindari angin timur yang terjadi saat malam hari. Antisipasi kerusakan pada perahu dilakukan dengan melakukan ronda malam hari. Sebab, aktivitas nelayan di wilayah tersebut kerap dilakukan pada siang hari.

“Nelayan tangkap kerap memasang bubu kawat dan pancing rawe dasar yang akan diangkat sore hari, setelah itu nelayan akan istirahat,” cetusnya.

Solihin menyebut, saat angin timur gelombang pasang kerap bercampur pasir. Volume pasir yang masuk pada bagian badan perahu berpotensi mengakibatkan kerusakan. Secara gotong-royong, nelayan mengangkat perahu ke daratan. Cara tersebut dilakukan menghindari perahu rusak oleh pasir dan gelombang.

Sejumlah perahu yang tetap ditambatkan pada pohon dan tonggak kayu, menurutnya berpotensi hanyut. Ia memilih menggunakan tali yang lebih kuat pada bagian haluan dan buritan. Tanpa menggunakan tali yang kuat, perahu berpotensi hanyut terbawa arus.

Kerusakan imbas gelombang pasang angin Timur, menurutnya bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Lihat juga...