Nelayan Ende Minta Pemerintah Datangkan Investor Beli Gurita

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

ENDE – Menurunnya harga jual gurita dari Rp40 ribu per kilogram sebelum pandemi Covid-19 dan terus menurun hingga Rp30 ribu per kilogram tahun 2019 hingga Rp15 ribu per kilogram saat pandemi Corona membuat nelayan gurita mengalami kerugian.

Nelayan gurita di Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berharap pemerintah bisa mendatangkan investor dan membeli gurita tangkapan nelayan sebab selama ini nelayan menjualnya ke pabrik di Kabupaten Sikka.

“Selama ini masa pandemi Corona hanya satu pabrik saja yang mau membeli gurita dari nelayan,” sebut Fudin Ali, penampung gurita Kampung Arubara, Kelurahan Tetandara, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende, NTT, Rabu (16/9/2020).

Penampung gurita di Kelurahan Tetandara, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende, NTT, Fudin Ali saat ditemui di rumahnya, Rabu (16/9/2020). Foto: Ebed de Rosary

Fudin katakan, pihaknya sebagai penampung mau tak mau menjual gurita tangkapan nelayan di Ende ke pabrik penampung di Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka saja meskipun harga jualnya rendah.

Para penampung pun kata dia, tidak mengetahui kualitas gurita sesuai spesifikasi yang dibutuhkan oleh pabrik dan harga per spesifikasinya sehingga bila gurita ditolak pabrik, pihaknya terpaksa menjual ke pasar.

“Saya tidak pernah sortir gurita dari nelayan karena tidak mengetahuinya dan biar pabrik saja yang sortir. Kalau dulu sebelum Corona semua gurita dibeli tapi sekarang sangat ketat,” ujarnya.

Fudin memaparkan, ada 4 kelas sesuai dengan ukuran yang disyaratkan pabrik kelas A, B, C, D sampai reject dan untuk menentukan klasifikasi gurita per kelasnya ia mengaku tidak tahu.

Dalam seminggu dia membawa minimal 20 kilogram gurita yang dibeli dari neleyan untuk dijual ke pabrik dimana gurita dibelinya per karung dan disimpan di bak penampung yang ditaruh dengan es batu.

“Saya menimbang menggunakan karung tetapi kalau di dalam karung ukurannya lebih banyak kecil, satu kilogram ke bawah, maka saya rugi. Saya tidak sortir dulu biar di perusahaan saja yang sortir,” ungkapnya.

Fudin jelaskan, gurita yang sobek perusahaan tidak terima. Apalagi sobek di gigi juga kadang turun kelas, dan tidak diterima sehingga gurita yang tidak terjual dibawa kembali maupun dijual di pasar Ende.

Dirinya berharap, kalau bisa penampung diberitahu klasifikasi kualitas gurita yang diterima dengan harganya agar para penampung seperti dirinya tidak mengalami kerugian, dan bisa disampaikan kepada nelayan.

“Kalau bisa pemerintah mendatangkan banyak investor untuk membeli gurita agar ada persaingan harga. Ataukah memberitahukan kepada perusahaan agar bisa menaikkan harga beli gurita agar nelayan tidak dirugikan. Sebab kadang nelayan tidak setiap hari mendapatkan gurita,” harapnya.

Sementara itu, Imran Tabri, nelayan pemancing gurita di Desa Persiapan Maurongga, Kecamatan Nangapanda mengaku sejak Corona malas menangkap gurita dalam jumlah banyak.

Imran mengaku hanya menangkap beberapa ekor saja untuk dijual kepada pengendara yang melintas di jalan negara Trans Flores Ende-Ngada ataukah menjual ke rumah makan dan pasar di Kota Ende.

“Saya menahan diri untuk memancing gurita dalam jumlah banyak, sebab harganya anjlok. Sementara memancing juga capek. Kami nelayan jadinya rugi kalau harga terus mengalami penurunan. Kalau bisa pabrik yang membeli gurita ada juga di Ende,” ucapnya.

Lihat juga...