Nestapa Pelajar di Daerah Pelosok Pesisir Selatan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

PESISIR SELATAN — Para pelajar di daerah pelosok di Desa Gantiang Mudiak Selatan Surantih, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, sudah sekian tahun lamanya sulit menikmati jaringan telekomunikasi.

Meski ketika di berbagai daerah telah menikmati jaringan internet 4G tapi di daerahnya itu sambungan telpon sulit untuk didapat.

“Sekarang anak-anak diwajibkan untuk belajar secara online. Sementara di sini kondisi tidak mendukung hal itu, mujur ada toleransi dari guru dengan cara mengambil tugas ke sekolah,” kata Habib warga Gantiang, Rabu (24/9/2020).

Ia menyebutkan, keperluan jaringan internet semakin terasa semenjak adanya sistem yang harus diikuti seiring majunya zaman. Buktinya kini dengan adanya sistem belajar secara online belum terlaksana seperti yang telah dijelaskan. Akibatnya nestapa masyarakat yang ditinggal di daerah pelosok jauh dari kata baik-baik saja.

“Jangan soal jaringan internet yang menyulitkan anak-anak kami untuk belajar. Akses jalan ke kampung saya itu juga kurang memadai. Beginilah nasib kami yang tinggal di daerah pelosok,” ujarnya.

Habib menjelaskan, dengan adanya kondisi yang demikian, supaya para pelajar tetap mendapatkan jaringan internet, mereka harus keluar dari desa dan menuju ke arah kawasan penduduk yang memiliki titik jaringan internet.

Jarak yang ditempuh anak-anak cukup jauh bahkan nyaris 5 kilometer. Terkadang ada juga yang harus mendaki perbukitan demi untuk mendapatkan jaringan telekomunikasi.

“Jadi kondisi terus dijalani dari hari ke hari. Bagi kami di sini percuma punya ponsel pintar yang canggih, sementara tidak bisa dimanfaatkan. Padahal dalam kondisi seperti ini seharusnya bisa membantu anak-anak yang belajar,” ungkap dia.

Secara terpisah, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Pessel, Junaidi, mengakui saat telah dilakukan pembangunan tower BTS di nagari/desa Gantiang Mudiak. Daerah itu memang sudah lama mengalami isolasi dari telekomunikasi.

Menurutnya adanya pendirian tower itu untuk menjawab keluhan masyarakat pada beberapa kampung dan nagari blank spot.

Untuk itu pihaknya secara bertahap akan melakukan pemasangan tower BTS melalui kerjasama PT Telekomunikasi Selular.

Selain di desa Gantiang Mudiak itu, pembangunan tower BTS itu juga akan dilakukan dalam waktu dekat ini pada tiga titik lainnya, dari delapan titik yang dibutuhkan pada beberapa nagari dan Kecamatan Sutera.

“Diperkirakan pembangunan ini selesai hingga Desember 2020. Jadi diharapkan kepada masyarakat untuk bersabar,” tegas dia.

Junaidi mengatakan terkait kondisi yang dialami oleh para pelajar itu, memang tidak bisa ditapik. Namuh dengan telah adanya pembangunan tower itu beberapa harapan baru bagi masyarakat di pedesaan tersebut.

“Dengan tuntasnya pembangunan tower BTS ini nanti, maka masyarakat di nagari ini akan benar-benar terbebas dari blank spot, serta juga bisa menikmati jaringan internet,” ujarnya.

Lihat juga...