Pabrik di Pinggir Laut

CERPEN SUNARYO BROTO

SESEKALI menengok masa lalu. Bayangkan Bontang tahun 1974. Masih kecamatan. Belum ada jalan aspal panjang. Jalan tanah merah berdebu. Penduduknya baru 11.000 an. Kilang gas alam cair mulai dibangun. Proyek Pabrik Pupuk Terapung baru setahun diluncurkan. Waktu merambat pelan.

Pada awal tahun 1977, seorang pria tinggi besar bersama seniornya, JS ke Bontang. Dari Jakarta, mereka naik pesawat mendarat di Sepinggan Airport Balikpapan. Kemudian naik pesawat kecil Sky-Van ke Airport Bontang. Mereka dijemput lalu keluar melalui jalan hutan, logging road ke arah barat beberapa kilometer balik ke timur, kemudian lewat jalan pipa ke suatu tempat di pinggir laut, plant site, lokasi pabrik. Jaraknya sekitar 17 km.

Pria tinggi besar yang berusia 40 tahun, Danang menerawang. Dia sudah berpengalaman dalam beberapa proyek pembangunan infrastruktur dan pabrik di pabrik pupuk. Sudah bepergian ke beberapa negara dengan berbagai kepentingan.

Bahkan tinggal di Kanada beberapa tahun untuk kuliah master seusai kuliah di Teknik Mesin sebuah universitas bergengsi di Bandung.

“Proyek ini lumayan berat,” gumamnya. Kata seniornya, bisa puluhan kali beratnya dengan proyek sejenis. Ya, belum lama negara menugaskan dia bersama seniornya, menyelesaikan proyek pupuk terapung dan memulai pembangunan pabrik pupuk baru yang harus siap sebelum tanggal pendiriannya 7 Desember 1977.

Dia melihat onggokan tanah merah di pinggir laut dan ribuan besi piling berserakan. Beberapa ada genangan air bekas hujan. Di lapangan terlihat beratus-ratus, mungkin sampai ribuan pipa-pipa ukuran diameter lebih dari 50 cm.

Pipa-pipa ini kemudian hari dipakai untuk piling fondasi-fondasi pabrik pupuk yang dibangun dan lain-lain. Matahari garang meradang. Udara panas menyengat. Ya ini daerah Khatulistiwa, jarak terdekat matahari-bumi.

Laut dan langit biru di ujungnya. Selebihnya hutan bakau dan tanah rawa. Sudah ada proyek awal pemasangan pipa gas dari Tanjung Santan sepanjang 58 km. Pemukiman terdekat, Loktuan berjarak sekitar 1 km dengan penduduknya sekitar 200 orang. Hanya di situ, tempat membeli makanan dan kebutuhan harian.

Bisa dibayangkan bagaimana sepinya ketika itu. Di plant site sudah ada beberapa bangunan rumah kayu di atas tiang dengan beberapa kamar tidur. Mereka menginap di kamar itu. Kalau malam banyak nyamuk dan tikus yang harus diusir-usir.

Tempat itu namanya Pionir Camp. Ada juga bangunan ruang makan. Malam-malam di belakang ruang makan, di tempat sampah kadang ada beruang madu datang mencari sisa makanan. Monyet-monyet juga banyak terlihat di kejauhan. Sesekali babi hutan atau ular lewat memutus jalan.

“Memang ini masih setengah hutan,” gumamnya.

Mereka hanya 3 hari di situ. Untuk koordinasi dan cek lapangan. Setelah itu pulang ke Jakarta karena urusan yang lain, menyelesaikan urusan administrasi dan peralatan pabrik. Danang lebih banyak di Bontang dan JS di Jakarta.

Mereka berbagi tugas. Di lain waktu, Danang mulai mengajak beberapa teman lain. Mereka mulai merencanakan dan melaksanakan pekerjaan. Di antaranya pembelian area, pembangunan perumahan. Lahan ini tak cukup untuk perumahan yang menampung sekitar 500 orang untuk menjalankan pabrik nantinya.

Perjalanan dari Balikpapan ke Bontang tidak selamanya mulus. Kadang harus menggunakan speed boat dan harus menginap di separuh jarak, Tanjung Santan.

Semua harus diselesaikan secara paralel karena waktu harus bergegas. Rekrut calon pekerja dan mengajari operasi maupun pemeliharaan pabrik. Melaksanakan proyek pembangunan pabrik dengan menyelesaikan masalah proyek sebelumnya yang tidak tuntas.

Desain awal pabrik pupuk terapung di atas kapal dan harus membuat desain baru dengan di atas lahan. Menyesuaikan sebagian alat. Ini juga tak mudah. Semua ilmu engineering, rekayasa harus keluar. Dan ini yang harus dipikirkan.

“Sebagian besar peralatan pabrik sekarang ada di beberapa negara di Eropa,” pikirnya.

Danang bersama JS lalu pergi ke Eropa pada bulan Februari 1977. Mereka mendatangi ke lokasi dan hanya melihat dari jauh peralatan-peralatan pabrik yang terserak di beberapa pelabuhan di Amsterdam, Antwerpen, Hamburg dan Brunsbuttel, Liverpool dan lain-lain.

Mereka membentuk tim teknis. Sebelum dapat melihat peralatan dari dekat, mereka dihadang sejumlah buruh di Liverpool. Mereka menuntut pembayaran dan memprotes bahwa yang boleh bekerja di situ harus para buruh pelabuhan di situ.

Satu persoalan harus diselesaikan dulu. Perlu waktu dan biaya. Perlu negosiasi dan nyali. Masalah satu selesai baru bisa melihat peralatan. Danang prihatin karena keadaan peralatan yang terserak begitu saja dibiarkan selama sekitar 4 tahun yang dibeli sejak tahun 1973.

Apalagi ketika musim winter, bisa karatan semuanya. Bisa dibayangkan besi-besi bergeletakan di pinggir laut? Diguyur air bertahun-tahun. Disentuh embun, dipanggang matahari.

Mereka harus mengamankan alat supaya tidak makin rusak. Tidak korosi. Lalu dilakukan pekerjaan preservasi, memperbaiki tiap peralatan, agar kedap udara. Mengecat bagian-bagian luarnya agar tidak berkarat. Memberikan tekanan positif terhadap semua vessels, absorbers, condensers dan heat exchangers dengan menginjeksikan gas Nitrogen bertekanan kepada tiap vessels dan heat exchangers tersebut agar bertekanan positif, menghindari udara lembab dari luar masuk ke dalamnya.

Diperiksa mesin-mesin satu per satu dan dicek packing-nya. Bila permukaannya rusak, diperbaiki kembali. Alat-alat tersebut kemudian dikumpulkan dan dikelompok-kelompokkan di masing-masing tempat serta pelabuhan untuk segera bisa dikirimkan ke Bontang.

Di tengah kesibukan merawat peralatan, tiba-tiba datang palu godam menghantam kepala. Ada kendala hukum. Tim tiba-tiba digugat Pengadilan Tinggi Inggris pada Maret 1977. Ada apa lagi ini? Mengapa harus terjadi? Mata Danang menerawang, menatap ribuan item peralatan berserakan di pinggir laut. Saling bertimbunan.

Seperti juga masalah ini. Tapi the show must go on. Semua tetap dihadapi meski harus bertanya ke banyak ahli bagaimana menghadapi pengadilan di negeri asing.

Danang dan JS harus mendatangi sidangnya di Central Criminal Court of England and Wales di Jalan Strand, London yang biasa disebut Old Bailey. Musim dingin barusan lewat Februari. Mereka harus menghadapi wajah-wajah dingin, asing dan berbadan besar.

Penggugatnya adalah kelompok perusahaan yang memberi kredit kepada proyek sebelumnya serta para vendors yang menyuplai peralatan pabrik pupuk terapung yang belum dilunasi pembayarannya. Isi gugatannya adalah pembayaran yang belum lunas kepada para kreditor dan vendors dari pemilik proyek sebelumnya di daratan Eropa dan Inggris.

Semua asset dari proyek pabrik pupuk terapung termasuk yang ada di pelabuhan-pelabuhan, disita oleh Pengadilan Tinggi Inggris.

Mereka menunjuk Biro Hukum di London dan menugaskan beberapa orang lawyer untuk menyusun berkas menghadapi gugatan mereka. Berkas gugatan tersebut tebalnya sekitar 10 cm. Ketika berkas gugatan dibacakan di pengadilan memakan waktu berhari-hari, Danang dan JS selalu hadir dalam persidangannya di Gedung Old Bailey.

Mereka harus menghadapi persoalan hukum tersebut. Selama beberapa minggu Danang dan JS berada di London.
Di samping dituntut oleh Pengadilan Tinggi Inggris, tim juga dituntut oleh Pengadilan Belgia dan Pengadilan Jerman untuk kasus yang sama hanya detil dari gugatannya masing-masing berlainan.

“Mau apa lagi? Ya Allah, kuatkan hamba-Mu ini,” doanya tiap hari.

Waktu tetap berjalan. Akhirnya persoalan hukum bisa selesai. Pada Juli 1977, Menteri Keuangan, menyelesaikan utang piutang dengan para kreditor yang ada di Eropa dan Inggris. Gugatan Pengadilan Tinggi Inggris dicabut dan peralatan pabrik bisa dikuasai kembali, bebas untuk dikirim ke Bontang. Danang dan JS bisa menghela nafas sebentar. Lega.

Masih ada persoalan lain, dua kapal  untuk pondasi pabrik amoniak dan urea yang harus dipikirkan. Kapal Mary Elizabeth yang panjangnya 350 meter ada di Liverpool sudah dipreteli peralatan-peralatan kapal yang tidak diperlukan, dan diletakkan di pelataran pelabuhan.

Kapal tersebut sudah mulai dilubangi dan ditambah baja-baja penyangga untuk menempatkan peralatan pabrik amoniak. Untung peralatan di dalam kapal masih belum ada yang dipasang. Peralatannya masih terserak di Pelabuhan Liverpool. Bahkan ada beberapa peralatan yang masih dalam penyelesaian pembuatannya di beberapa tempat di Inggris, antara lain Second Stage Shift Converter dan beberapa vessels masih dalam pengerjaan di kota Darlington di Inggris Tengah.

Dalam kondisi semacam itu semua peralatan untuk pabrik amoniak serta beberapa peralatan kelengkapan kapal harus dicopot dan terkumpul di area pelabuhan Liverpool. Kapalnya sudah siap untuk dijual dan di-scrap.

Kapal satunya, Dominique ada di pelabuhan Ghent, Belgia. Panjangnya 250 meter, keadaannya lain lagi. Sudah sekitar separuh dari semua peralatan untuk pabrik urea terpasang di dalam kapal. Bahkan untuk fondasi beberapa peralatan di dalam kapal sudah dicor dengan beton.

Untuk itu semua peralatan yang sudah terpasang dipreteli kembali dan dikumpulkan di darat bersama dengan sebagian perlengkapan kapal yang tidak dibutuhkan, untuk dipreservasi dan dikirim ke Bontang. Sementara setelah kapal selesai dipreteli, sudah siap untuk dijual sebagai scrap.

Kedua kapal tersebut merupakan aset negara menurut peraturan yang berlaku. Oleh karena itu menjualnya harus melalui prosedur dan persyaratan penjualan aset negara. Suatu tim penjualan kapal yang dibentuk oleh Departemen Keuangan dikirimkan ke Eropa. Mereka pergi ke Eropa dan melakukan tender penjualan kapal-kapal tersebut di London. Perlu waktu beberapa minggu untuk menjual kapal.

Peralatan yang belum selesai difabrikasi masih banyak. Pada umumnya peralatan-peralatan yang ukurannya kecil, sebagian berupa alat-alat electronik, instrumentasi dan lain-lain. Fabrikasi alat-alat tersebut ada yang di Jerman, Perancis, Swiss.

Namun ada juga peralatan besar yang belum rampung difabrikasi yaitu Second Stage Shift Converter yang difabrikasi di kota Darlington di Inggris. Oleh karena itu tim juga ikut mengusahakan agar fabrikasi alat tersebut segera dirampungkan. Setelah alat ini rampung difabrikasi di kota Darlington, maka alat ini mulai diangkut menuju ke Pelabuhan Liverpool.

Dalam perjalanan, karena beratnya alat yang lebih dari 100 ton, pengirimannya menggunakan trailer low boy yang lebarnya melebihi lebar normal kendaraan biasa. Oleh karena itu pengiriman alat harus mendapat pengawalan polisi lalu-lintas Inggris yang naik sepeda motor dan mobil patroli polisi sebagai voorrijder di depan maupun di belakang konvoi.

Asumsinya, apa-apa yang dilakukan di negara-negara maju itu selalu lancar dan mulus. Tetapi ternyata lain lagi yang terjadi. Pada suatu tikungan jalan antara Darlington dan Liverpool, alat yang beratnya 180 ton ini terlepas ikatannya dari trailer low boy dan menggelinding ke bawah menuju suatu halte atau stasiun kereta api kecil yang letaknya lebih rendah dari jalan raya.

Untungnya alat tersebut berhenti persis di depan gedung stasiun, dan selamat tidak menggelinding ke kereta api yang sedang lewat. Bisa dibayangkan kalau sampai menabrak stasiun? Bisa tambah persoalan. Bisa menggagalkan proyek.

“Terima kasih Tuhan,”  ucapnya sambil bersyukur.

Ada bagian alat yang rusak. Beberapa alat untuk pemasangan temperature indicator dan tekanan retak atau patah. Kejadian ini terjadi pada tanggal 4 Agustus 1980. Untuk memperbaiki kerusakan ini, tidak bisa dilakukan reparasi setempat, karena metode heat treatment, perbaikan alat tersebut memerlukan pengerjaan di workshop fabrikator.

Oleh karena itu seluruh peralatan bejana bertekanan tersebut harus dikirim kembali ke fabrikatornya di Darlington. Untuk urusan ini memakan waktu kira-kira satu tahun dan biaya ratusan ribu dollar.

Delay bukan hanya dari transportasi dan reparasi di fabrikator tetapi pencarian sarana transportasi yang cocok untuk alat tersebut ke Bontang juga memakan waktu.  Tim mempercayakan pengiriman peralatan pada kontraktor yang ditunjuk.

Dalam rencana kerjanya selain Engineering, Procurement, Construction kontraktor juga membuat perencanaan pengiriman equipment yang ada di beberapa kota pelabuhan di Eropa ke Bontang. Salah satu kegiatan prioritas pengiriman equipment tersebut adalah mengangkut peralatan yang paling berat dan panjang.

Pengangkutan pertama menggunakan kapal MV Gloria Virentium dari Perusahaan Holscher yang membawa reaktor amoniak yang beratnya lebih dari 500 ton, reaktor urea, absorbers, strippers, heat exchangers, compressor dan lain-lain.

Kapal ini mempunyai perlengkapan crane untuk mengangkat dan menurunkan barang-barang yang beratnya lebih dari 500 ton. Ketika tiba di Bontang dan dilakukan pembongkaran heavy lift pertama pada tanggal 25 September 1980.

Sampai bulan Juli 1981 masih ada 2.037 ton peralatan di Eropa dan 1.700 ton di Inggris yang harus dikirimkan ke Bontang. Tim mencari kapal dan menawar harga pengiriman tercepat.

Pengiriman equipment berikutnya adalah menggunakan kapal MV Langkuas yang membawa 1.400 ton dan pada 21 Agustus 1981 tiba di Bontang. Kemudian MV Pueurto Princess mengangkut equipment sebanyak 2.900 ton, dan tiba di Bontang pada 28 September 1981. Pengangkutan berikutnya menggunakan kapal MV. Cluden mengangkut 2.930 ton peralatan, dan tiba di Bontang pada 8 Oktober 1981.

Setelah itu masih tersisa sebanyak 3.500 ton di Eropa yang kemudian diangkut bertahap menggunakan kapal-kapal lain. Pengiriman equipment tersebut sebagian melalui transshipment di Singapura. Keseluruhan barang yang dikirim ke Bontang bukan hanya peralatan yang berserak di beberapa tempat, tetapi juga peralatan dan barang-barang yang diperlukan tambahan untuk desain perubahan yang dilakukan kontraktor.

Akhirnya semua peralatan tiba di Bontang pada 1981 dan pekerjaan proyek bisa dilakukan lagi. Sebelumnya, pada pertengahan November 1979 telah dilakukan pemancangan pertama pabrik pupuk oleh Menteri Perindustrian. Tim proyek bekerja merangkai alat, memasang pipa, memasang isolasi hingga terangkai sebuah pabrik yang berdiri megah. Perlu waktu lama merangkai peralatan pabrik.

Baca Juga

Jarik Januari

Singensumonar

Gumincuk

Tim secara paralel harus menyiapkan pekerjanya untuk nanti bisa mengoperasikan pabrik. Pada Maret dan Juli 1980 dilakukan rekrut di Surabaya, Ujung Pandang, Medan, Jakarta dan Balikpapan. Mereka datang bergelombang meninggalkan kampung halaman dan keluarga tercinta menuju tanah harapan di sebuah kawasan pinggir hutan dan pinggir laut.

Ya memang harus ada harapan supaya semangat tetap dalam dada. Tanpa itu bisa pulang lebih awal sebagai orang gagal.

Mereka dilatih sebagai operator pabrik dan mereka yang mengoperasikan pabrik urea. Ada sekitar 500-an orang yang tercatat sebagai pekerja pada tahun 1981-an. Mereka tersebar di kantor Jakarta, Balikpapan dan paling banyak di Bontang.

Mereka perlu pelatihan di kelas dan praktik di pabrik urea sejenis yang ada di Palembang. Sebagian dari mereka juga dikirim ke beberapa negara Asia dan Eropa untuk pelatihan proses pabrik sampai beberapa bulan. Bergelombang, mereka dikirim bergantian. Ada sekitar satu tahun untuk menyiapkan pekerja ini supaya bisa siap mengoperasikan pabrik.

Proyek konstruksi pabrik ini molor waktunya. Proyek pabrik ini adalah proyek grass root yang membangun pabrik untuk pertama kali dan berdiri sendiri. Semuanya harus diusahakan sendiri termasuk untuk utilitiesnya, air, steam (uap) dan listriknya. Begitu pabrik jadi pembangunannya maka harus dicoba-coba dulu supaya stabil operasinya.

Setelah semua terangkai dan dicek oleh ahlinya maka pabrik siap untuk dijalankan. Awalnya menyediakan boiler kecil, kurang lebih sebesar truk tangki minyak. Boiler ini memproduksi steam 7 kg/Cm2 dengan temperatur sekitar 160 C.

Steam ini untuk memanasi unit desalinasi, yang memproduksi air tawar dari air laut. Air tawar ini digunakan sebagai air umpan boiler, Boiler Feed Water (BFW). BFW sebagai umpan Boiler Denaeyer yang memproduksi steam 40 kg/Cm2. Steam digunakan untuk menggerakkan turbin di pembangkit listrik. Ada juga genset kecil dengan tenaga diesel untuk produksi listrik lampu penerangan dan beberapa peralatan kecil.

Setelah mempunyai listrik, air dan steam, tim dapat melakukan kegiatan pre commissioning (Pra Percobaan Operasi) di pabrik amoniak tahun 1983. Setelah itu dilakukan commissioning dengan mengoperasikan alat per alat sendiri. Ada rombongan tim yang bertugas membantu start up pabrik supaya lancar.

Masing-masing ada pendampingnya. Dari Kadep, Kabag, Supervisor, Foreman dan Senior operator yang mengajari cara mengoperasikan pabrik. Foreman mendampingi foreman, Senior operator mengajari cara kerja operator.
Commissioning pabrik banyak masalah. Semua harus diselesaikan.

Gas alam dari Tanjung Santan harus dialirkan pada pipa besar sepanjang 58 km. Gas alam sebagai bahan baku utama sudah dimasukkan ke Primary Reformer tetapi belum tentu berhasil dan dicoba lagi. Udara sebagai bahan baku yang lain juga sudah dimasukkan ke Secondary Reformer tetapi juga belum berhasil. Juga peralatan lain. Begitu terus, trial dan error start up pabrik dilakukan. Banyak sekali kasus yang terjadi saat melakukan start up pabrik.

Saat itu pertengahan tahun 1983. Kegiatan commissioning pabrik sudah dilakukan dan siap operasi. Sudah dilakukan steam blowing dan flushing selama sekitar tiga bulan. Kegiatan start up pabrik berjalan maju-mundur karena banyak permasalahan di pabrik.

Para operator bekerja secara shift, bergantian karena pabrik beroperasi 24 jam setiap hari. Tidak jarang ketika selesai bekerja meninggalkan pabrik, operator berharap agar besok ketika kembali bekerja ke pabrik progres kegiatan start up telah berlanjut.

Namun saat datang di hari berikutnya dengan melihat dari kejauhan cerobong pabrik mengeluarkan uap, dia sudah bisa menduga bahwa pabrik pasti mati lagi dan ternyata setelah sampai di pabrik, benar, pabrik mati dengan masalah yang baru lagi.

Demikian seterusnya pabrik dioperasikan terus. Keringat para operator dan manajemen pabrik berleleran. Dilingkupi hawa panas Khatulistiwa. Mungkin juga air mata rindu pada kampung halaman. Setahun sekali mereka boleh cuti menengok keluarga dan kampung halaman. Berkat semangat dan kegigihan para pekerja maka satu demi satu masalah pabrik dapat diatasi.

Akhirnya semua usaha menampakkan hasilnya. Produksi pertama amoniak pada 30 Desember 1983 disambut suka cita. Bertahun-tahun mereka merindukan menetesnya amoniak dari pabrik itu. Zat amoniak ini berbau seperti air kencing dan beracun tetapi banyak kegunaannya.

Baunya –maaf- seperti di toilet terminal yang paling jorok se-Indonesia masih ribuan kali lipat lagi baunya. Namun kondisi operasi pabrik masih belum stabil dan pabrik masih sering mati. Waktu mengoperasikan pabrik juga sering terjadi black out, matinya seluruh listrik.

Dengan black out yang paling menjadi ancaman adalah compressor pendingin di tangki amoniak. Kalau tangkai amoniak tidak didinginkan bisa meledak dan seluruh Bontang bisa keracunan. Kalau listrik mati mereka harus mengamankan sistem pendingin di tangki amoniak.

Setelah menghasilkan amoniak lalu dikirim sebagai bahan baku urea dan mulai start up pabrik urea. Pabrik urea mengalami hal yang sama dengan pabrik amoniak. Perlu waktu lama untuk trial and error, start up dan mengoperasikan pabrik.

Ada saja masalah yang harus ditangani. Juga masalah lain yang perlu dicarikan jalan keluar. Kadang tidak hanya masalah teknis tetapi juga menyangkut manusia dan lainnya. Setelah melewati berbagai cobaan, pabrik urea dapat berproduksi perdana pada 15 April 1984.

Bayangkan saja sekali start up perlu waktu 6-7 hari untuk menghasilkan amoniak dan perlu waktu 4-5 jam untuk memproduksi urea. Kalau start up gagal perlu diulang lagi. Mereka sudah belasan kali melakukan start up. Berhari-hari. Bisa dibayangkan keringat dan air mata yang mengalir.

Para operator dan manajemen tentunya bergembira bisa menjalankan pabriknya. Mereka sambut dengan sujud syukur. Dengan wajah bergembira. Keringat dan air mata tuntas sudah dengan harga yang dibayar. Sesekali mereka juga mengenangkan rekan mereka yang telah tiada.

Banyak kesulitan yang dialami ketika pembangunan pabrik di Bontang. Ada gondola yang mengangkat pekerja mengayun dan menghantam Primary Reformer yang sedang dibangun sehingga terjadi korban jiwa.

Rem dari crane yang mengangkat gondola pekerja blong sehingga gondola jatuh dan menewaskan jiwa pekerja. Pekerja sedang membersihkan truk beton molen, tiba-tiba beton molen dijalankan, menelan korban jiwa. Tukang las tewas karena kesetrum aliran listrik.

Pipa steam bertekanan tinggi bocor, menewaskan jiwa pekerja, dan lain-lain. Termasuk meledaknya tangki air pendingin karena akumulasi kebocoran hidrogen dari interstage cooler syn gas kompresor yang memakan korban pekerja.

Mereka yang menangis bukan hanya rekan terdekatnya tetapi juga keluarga di tanah asal. Para pekerja rata-rata merantau belum membawa keluarganya karena suasananya masih belum menentu.

Menyaksikan itu semua Danang hanya bisa menatap pabrik, melihat asap mengepul dan suara mesin beradu. Matanya basah. Dia bahagia dan terharu. Bayangkan, tahun 1977, Danang pernah merasa ada kemungkinan tidak berhasilnya pabrik itu, mengingat rumitnya persoalan yang dihadapi saat itu.

Peralatan pabrik yang telah 4 tahun berserak di beberapa lokasi di Eropa, lalu dikumpulkan, diperbaiki dan dikirim dengan kapal-kapal besar ke Bontang. Setelah sampai di Bontang dirangkai bertahun-tahun. Lalu dicoba dioperasikan pabriknya.

Belasan kali melakukan start up yang perlu waktu 6-7 hari. Danang bangga pada para operator. Mereka bersedia berdarah-darah, keluar keringat dan air mata. Harus ada semangat yang tak pernah padam.

Hanya orang-orang pilihan dengan mental baja yang dapat menuntaskan perjuangannya. Ada beberapa kawan yang tak kuat akhirnya keluar.
***
SEKITAR 36 tahun kemudian Danang berkunjung Pabrik Kaltim-1. Dia diundang untuk menyaksikan kembali pabrik yang telah dibangunnya dan sekarang mau ditutup karena sudah tidak efisien. Ketinggalan teknologi dan sebagian alatnya sudah rusak, tidak ada penggantinya.

Dia satu-satunya direksi pertama yang masih hidup. Dia menatap Priling Tower dari pinggir laut. Dengan tatapan yang sama dengan dulu meski sudah tambah usia menjadi 82 tahun. Matanya berkaca-kaca. Seperti menatap anak yang telah dibesarkannya.

“Pabrik pupuk urea ini sejarah. Tak bisa diulang. Saat itu antara berhasil dengan gagal, sama saja. Jadi kalau proyek ini tidak berhasil, saya tidak tahu apa yang terjadi. Tentunya susah bila akan membangun pabrik pupuk yang lain. Tidak terbayangkan Bontang tanpa pabrik pupuk. Dan Tuhan sudah menetapkan takdirnya bahwa proyek ini berhasil. Nyata pada tahun 1984 keluarlah produk pertamanya. Syukur suka cita tentunya. Meski saya juga mikir biaya proyek ini luar biasa besar. Hampir 3 kali dari proyek sejenis,” katanya.

Aryo, seorang karyawan yang duduk di sebelahnya ikut takzim. Terharu dan hormat pada bapak tinggi besar di sebelah.

“Pabrik ini juga sumber ilmu seperti universitas. Berapa orang sudah lulus sarjana atau master dari sini? Berapa makalah dan kertas kerja dihasilkan dari sini dan dikirim ke berbagai acara seminar di luar negeri? Pabrik ini sudah membuat pintar pekerjanya. Mereka menjadi ahli dan bisa mengoperasikan pabrik-pabrik lain setelahnya. Bahkan banyak manajernya yang menjadi direktur BUMN, menteri. Kita harus terima kasih pada pabrik ini.”

“Proses pengosongan tangki amoniak pernah menjadi makalah seminar di Kanada,” kata Aryo yang ingat seorang kawan pernah membawakannya.

“Pabrik ini lengkap prosesnya. Dari masuk gas menjadi zat cair lalu terakhir produknya zat padat. Ada alat transfer material dari kompresor, pompa sampai konveyor. Dari suhu minus 36 derajat Celcius sampai 1.000 derajat Celcius. Besi saja mencair. Dari tekanan minus sampai 245 kali tekanan udara normal. Kalau pukulan Mike Tyson yang paling keras itu setara 10 kali tekanan udara maka reaktor amoniak pabrik itu bisa menahan tekanan lebih dari 24 kali pukulannya. Luar biasa pabrik ini. Tapi semua tidak bisa melawan waktu. Priling Tower yang pendek ini bisa dijadikan monuman pabrik ini,” kata dia yang juga suka menulis buku.

“Makanya saya senang mendampingi bapak melihat pabrik sebagai pelaku sejarah. Mungkin bisa disebut berperan menentukan sejarah. Coba kalau bapak tidak semangat waktu menyelesaikan sengketa hukum di Eropa dan harus mengirim ribuan ton peralatan ke Bontang? Semangat itu ikut membonceng kapal dan sampai di Bontang mempengaruhi pekerja di sini,” kata Aryo. Dia menatap Aryo sambil tersenyum.

Kapal besar masih sibuk mengangkut pupuk urea untuk dikirim ke seluruh pelosok negeri. Untuk membantu petani menyuburkan lahan dan menghasilkan bahan pangan.

Langit mulai temaram dengan warna jingga menyapu cakrawala. Angin sore bertiup dari laut ke darat. Baunya khas pesisir. Udara mulai dingin.

Suara pabrik masih menderu ditiup angin. Asap masih mengepul. Sedang lampu-lampu pabrik berpendaran menghias malam yang mulai datang. Indah sekali suasana.

Waktu terus berjalan menyisakan kisah. Danang mengajak Aryo pulang. Ini hanya salah satu kisah yang patut dikenang dalam ingatan. Kisahnya menjadi tonggak sejarah kisah lainnya.  Di sebuah sudut kotaku di pinggir hutan dan pinggir laut Kalimantan Timur.  ***

Keterangan:

Vessels: bejana, tabung besar.

Absorbers: alat penyerap bentuknya tabung besar sekali.

Condensers: alat pengembun, bentuknya pipa-pipa yang saling berhubungan.

Heat Exchangers: alat penukar panas, bentuknya pipa-pipa yang saling berhubungan.

Second Stage Shift Converter: nama peralatan reaktor di pabrik amoniak yang mengubah bahan baku N2 dan H2 menjadi NH3 amoniak, bentuknya pipa-pipa besar saling terkait dalam tabung besar di menara.

Engineering, Procurement, Construction: rekayasa, pengiriman dan pembangunan.

Absorbers, Strippers: unit alat penyerap dan pengusir zat, bentuknya seperti menara tabung besar tinggi puluhan meter.

Primary Reformer:  unit peralatan di pabrik amoniak yang memecah gas alam CH4 menjadi H2, bentuknya kotak logam tinggi besar berisi puluhan pipa.

Secondary Reformer:  unit peralatan di pabrik amoniak yang memecah udara menjadi N2, bentuknya bejana besar dengan banyak pipa.

Priling Tower:  menara bulat besar setinggi sekitar 40 meter, dari atas urea berbentuk pasta dijatuhkan ke bawah membuat ukuran urea menjadi butiran.

Kisah persembahan buat Dr. Ir. Nanang S. Soetadji, MBA

Sunaryo Broto, sastrawan yang bekerja di Pupuk Kaltim Bontang. Ia pernah menerima penghargaan Nomine Tokoh Kebahasaan 2019 Kategori Pegiat Literasi Kaltim-Kaltara dari Balai Bahasa Kalimantan Timur.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...