Pandemi Paksa Pelaku UKM Tradisional Beralih ke Sistem Digital

Editor: Makmun Hidayat

YOGYAKARTA — Pandemi Covid-19 diketahui telah mengubah pola kerja para pelaku UKM di berbagai daerah. Perubahan pola ini mau tidak mau harus dilakukan pelaku UKM agar usaha mereka tetap bisa berjalan di tengah situasi sulit yang tengah terjadi saat ini. 

Salah seorang pelaku UKM, Fauzi (44) warga Dusun Karangnongko, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta mengakui hal tersebut. Bagaimana tidak, pengrajin mebel kayu Jati ini, ikut merasakan dampak luar biasa yang ditimbulkan pademi Covid-19 sejak beberapa bulan terakhir.

“Sejak adanya corona, usaha sepi. Pesanan mebel jauh berkurang. Omzet juga menurun drastis. Mencapai sekitar 50 persen lebih. Di masa New Normal ini memang jumlah pesanan mulai ada peningkatan. Walaupun belum bisa kembali normal seperti sebelum adanya pandemi,” ujarnya kepada Cendana News Selasa (1/9/2020).

Biasa mencapai omzet hingga Rp50juta lebih setiap bulannya, Fauzi kini mengaku hanya memiliki omzet kurang dari Rp25juta per bulan. Orderan borongan kusen kayu yang biasa ia dapatkan dadi para pengembang perumahan semakin berkurang. Begitu juga pesanan mebel dari konsumen langsung seperti meja kursi, almari, dan sebagainya.

“Untuk stok bahan kayu melimpah. Hanya saja pesanan yang sepi. Karena itu sekarang saya mulai menawarkan jasa pembuatan mebel kayu secara online. Untuk menjaring pelanggan baru. Kalau tidak begitu ya sulit untuk dapat pelanggan,” jelas bapak 3 anak ini.

Perubahan pola pemasaran dari semula menggunakan cara tradisional, ke cara digital itu dilakukan Fauzi sejak pandemi Covid-19 merebak. Ia yang selama ini terbiasa dengan pola lama pun, harus membiasakan diri memanfaatkan teknologi berupa telepon pintar serta media sosial untuk kepentingan usahanya.

“Ya harus membiasakan diri. Kalau biasanya hanya menunggu pelanggan datang ke tempat usaha ini. Sekarang harus aktif menawarkan ke grup-grup jual beli Facebook. Awalnya memang sudah, tapi saat sudah terbiasa mulai terasa manfaatnya,” katanya.

Dengan perubahan pola baru dalam hal pemasaran itu, Fauzi kini mulai kembali mendapatkan pelanggan. Meski begitu, ia mengaku masih terkendala dalam beberapa hal teknis, seperti bagaimana mengemas produk-produk mebel buatannya. Sehingga ia berharap ada pihak-pihak terkait seperti pemerintah untuk membantu pelaku UKM misalnya dengan menggelar pelatihan-pelatihan atau semacamnya.

“Kalau menjuak secara online itu kan pelanggan tidak bisa melihat langsung produk yang kita tawarkan. Kecuali hanya melalui foto saja. Sementara kalau datang langsung ke lokasi kan bisa melihat dengan mata kepala sendiri. Jadi benar-benar tahu kualitas produk seperti apa. Itu yang jadi kendala,” ungkapnya.

Mengatasi hal itu, sementara ini Fauzi mengaku hanya memanfaatkan media sosial sekedar untuk memasarkan produknya saja. Sementara ia tetap menjalankan transaki secara langsung dengan sistem tatap muka. Meski begitu tetap berharap suatu saat nanti, ia bisa benar-benar melakukan transaksi penjualan dengan platform digital yang telah banyak tersedia.

“Sementara ini ya hanya memakai Facebook untuk menawarkan saja. Tapi setelah itu pelanggan tetap saya minta datang ke lokasi. Agar benar-benar melihat sendiri dan tahu kualitas produk mebel di sini. Sehingga harga jualnya juga tetap stabil sesuai kualitas yang saya miliki,” pungkasnya.

Lihat juga...