Pandemi Pukul Perekonomian di Asia Timur dan Pasifik sebut Bank Dunia

Selain itu penutupan sekolah akibat COVID-19 dapat menyebabkan hilangnya waktu untuk penyesuaian belajar setara 0,7 tahun bersekolah, sehingga rata-rata seorang siswa mungkin menghadapi penurunan nilai penghasilan sebesar empat persen dari yang diharapkan, setiap tahunnya, kelak pada usia produktif.

Peningkatan utang negara dan swasta, seiring dengan menurunnya tingkat neraca perbankan dan meningkatnya ketidakpastian, juga dapat menimbulkan risiko kepada investasi yang dilakukan oleh pihak negara maupun swasta, serta kepada stabilitas perekonomian, pada saat kawasan ini justru membutuhkan keduanya.

Sementara itu proyeksi defisit fiskal yang membesar di kawasan Asia Timur dan Pasifik ikut menyebabkan peningkatan utang pemerintah pada angka rata-rata tujuh persen dari PDB pada 2020 sehingga dibutuhkan reformasi fiskal untuk menggerakkan pendapatan melalui pemungutan pajak secara lebih progresif dan pengurangan pemborosan.

Pada saat yang sama, krisis ini mempercepat berlangsungnya kecenderungan yang telah ada di sektor perdagangan, termasuk regionalisasi di kawasan Asia Timur dan Pasifik, relokasi beberapa rantai nilai global dari China, dan pertumbuhan yang lebih cepat pada layanan digital, meski kemudian situasi itu berpotensi meningkatkan kembali tekanan proteksionisme.

Kepala Ekonom Bank Dunia untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik Aaditya Mattoo menambahkan banyak negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik yang telah berhasil mencegah meluasnya penyebaran penyakit dan memberikan stimulus, meski masih harus berjuang untuk pulih dan mencapai pertumbuhan.

“Prioritas saat ini seharusnya mencakup bersekolah dengan aman untuk menjaga modal manusia, memperluas basis pajak yang sempit untuk menghindari pemotongan investasi publik, dan mereformasi sektor-sektor layanan yang dilindungi untuk mendapatkan manfaat dari berbagai peluang digital yang muncul,” katanya. [Ant]

Lihat juga...