Panen Kala Kemarau Tingkatkan Mutu Jagung Pipilan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Hasil panen jagung milik petani di Lampung Selatan (Lamsel) alami peningkatan mutu imbas minimnya kadar air. Pemanenan dilakukan saat kadar air mulai menurun untuk mendapatkan standar mutu jagung siap jual.

Sobri, petani di Desa Sukabaru, Kecamatan Penengahan menyebutkan, standar kadar air jagung pipilan layak jual mencapai 14 %. Masa panen berbarengan dengan musim kemarau mendukung petani dalam pengeringan. Dipanen saat usia mencapai 120 hari dalam kondisi tongkol berkelobot mempermudah pengeringan alami.

Mutu jagung pipilan dengan kadar air 14% membuat ia bisa menjual dengan harga mencapai Rp3.700 per kilogram. Jagung pipilan dengan kadar air rendah tersebut masuk dalam kategori asalan.

“Selama musim panen hujan tidak pernah turun berdampak positif bagi petani jagung karena pengeringan bisa lebih cepat, minimal empat hari setelah panen sebelum dipipil memakai mesin, tapi kini dua hari usai panen bisa langsung dipipil,” terang Sobri saat ditemui Cendana News, Senin (7/9/2020).

Jagung yang masih berada di tongkol merupakan hasil pemanenan oleh buruh petik. Satu karung jagung berisi ratusan tongkol bisa menghasilkan rata rata 20 kilogram biji jagung pipilan. Satu hektare lahan jagung saat musim kemarau ia bisa mendapat hasil 8 ton jagung masih bertongkol. Saat digiling diperoleh sekitar 5 hingga 6 ton jagung pipilan.

Sobri memilih menjual biji jagung setelah proses pengeringan. Kadar air pada saat panen mencapai 18 % disebutnya akan bisa diturunkan hingga mencapai 14 %. Ia berani melakukan spekulasi menyimpan jagung kering karena selama dua pekan terakhir selama panen tidak pernah turun hujan.

“Petani yang paham akan menahan untuk menjual jagung pipilan karena saat dijual ke pabrik potongan kadar air berpotensi merugikan petani,” tegas Sobri.

Udin, petani lainnya menyebut kualitas biji jagung saat musim kemarau lebih baik. Namun sebagian tanaman yang memasuki masa pembuahan kekurangan air berimbas tongkol kecil. Kualitas kadar air saat panen pada biji jagung diakuinya cukup baik meski untuk penjualan dengan sistem gelondongan akan memiliki hasil timbangan lebih sedikit.

“Saat hasil panen memiliki tongkol yang besar dengan potensi biji lebih banyak, petani memilih menjualnya pipilan,” beber Udin.

Meski kualitas biji jagung meningkat bagi sebagian petani, penjualan sistem gelondongan tetap jadi pilihan. Mendapatkan hasil sebanyak 300 karung dengan harga jual Rp80.000 ia bisa mengantongi hasil Rp24 juta. Cara tersebut lebih efesien karena ia tidak harus menyewa mesin pemipil. Satu ton jagung yang dipipil menurutnya membutuhkan biaya Rp250ribu.

Harga komoditas jagung menurutnya masih ditentukan oleh pabrik. Petani hanya mengandalkan pergerakan harga jagung menyesuaikan kebutuhan. Saat pabrik pengolahan jagung memiliki cukup banyak stok harga berpeluang anjlok.

“Petani tidak memiliki kuasa menentukan harga, meski kualitas biji jagung bagus namun harga masih belum maksimal,”cetusnya.

Hasil penjualan jagung diakui Udin akan dipergunakan untuk modal penanaman berikutnya. Biaya operasional pengolahan jagung, penanaman, pemupukan hingga pemanenan diperoleh dari penjualan jagung panen sebelumnya.

Harga jual jagung pipilan ,gelondongan yang menjanjikan dimanfaatkan oleh para buruh ngasak. Rusman, petani yang tidak memiliki lahan memilih mencari jagung yang tidak terpanen. Sistem ngasak untuk mengumpulkan jagung sisa memberinya hasil. Sebab perkarung jagung bisa dijual olehnya seharga Rp50.000.

Sistem ngasak dilakukan pada lahan yang telah dipanen menjelang batang jagung dibakar.

Lihat juga...