Panen Padi Musim Kemarau Permudah Petani Melakukan Pengeringan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Suyatinah, petani di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, menyebut, panen padi saat musim tanam kemarau atau musim gadu mempermudah petani di Lampung Selatan melakukan pengeringan.

Memanen padi pada lahan sawah seluas seperempat hektare, ia menjemur padi secara bertahap.

Pengeringan secara manual dilakukan Suyatinah pada Gabah Kering Panen (GKP) sebelum disimpan. Panen musim gadu menurutnya pada sebagian lahan persawahan diserang hama wereng. Imbasnya bulir padi sebagian tidak berisi atau gabug. Suyatinah mengaku beruntung pada lahan pertama populasi hama wereng bisa dikendalikan.

Pemanenan padi saat musim gadu sebutnya memberi keuntungan kualitas GKP lebih baik. Sebab kadar air pada gabah yang dipanen lebih rendah ditambah proses pengeringan secara manual. Hasil gabah yang dikeringkan selanjutnya akan disimpan dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG). Ia memilih menyimpan stok GKG untuk kebutuhan keluarga.

“Cuaca panas saat masa panen gadu untungkan petani dalam proses panen hingga pasca panen, kualitas gabah hingga beras yang dihasilkan juga meningkat. Berimbas harga jual akan lebih tinggi dibanding masa tanam penghujan atau rendengan,” terang Suyatinah saat ditemui Cendana News, Senin (28/9/2020).

Suyatinah menambahkan hasil panen sebanyak satu ton akan disimpan di gudang. Selama masa pandemi ia menyebut menyimpan cadangan pangan berupa gabah lebih tepat. Sebab kualitas gabah yang baik bisa disimpan maksimal selama satu tahun. Sebagian gabah akan digunakan sebagai bibit dan dijual dalam bentuk beras setelah digiling.

Keuntungan panen kala kemarau, sebut Suyatinah, proses pemanenan hingga pengeringan lebih cepat. Sebagian petani memilih menggunakan proses pemanenan padi manual, memakai mesin dos dan combine harvester. Penggunaan alat pemanen modern memungkinkan dilakukan karena lahan lebih kering. Usai dipanen pengeringan bisa dilakukan langsung di sawah.

“Saat musim panen rendengan kemarin sebagian tanaman roboh, proses panen lambat dan kualitas GKP jelek berkadar air tinggi, pengeringan lambat,” papar Suyatinah.

Harga jual GKP di level petani kala musim panen gadu, bilang Suyatinah, cukup baik. Kualitas kadar air rendah membuat pengepul berani membeli seharga Rp4.200 per kilogram atau Rp420 ribu per kuintal. Harga berpotensi naik saat panen berkurang hingga mencapai Rp45.000 per kilogram. Harga tersebut lebih tinggi dari panen sebelumnya hanya mencapai Rp3.700 per kilogram.

Suyatinah mengaku, memilih menjual dalam bentuk beras. Kualitas beras yang baik saat masa tanam gadu cukup baik dengan warna beras putih dan utuh. Harga beras usai digiling sebutnya dibeli oleh agen seharga Rp8.000 per kilogram.

Sementara di level pengecer bisa dijual seharga Rp10.000 hingga Rp12.000 per kilogram. Hasil pengeringan sempurna membuat agen banyak membeli beras dari penggilingan.

Iis Sumaryanto, pemilik lahan sawah di Desa Pasuruan mengaku, sebagian tanaman padi miliknya diserang wereng. Memiliki lahan seluas setengah hektare dengan hasil panen 3 ton ia mengaku berkurang hanya mencapai 2,7 ton.

Imbas wereng sebagian lahan ambruk dan sulit dipanen. Jerami yang ambruk akan menyulitkan proses pemanenan. Meski diserang wereng dibanding panen musim rendengan kualitas gabah lebih bagus.

“Kemarin kala panen rendengan gabah rontok karena jerami ambruk, kini masih bisa dikeringkan dengan cepat,” cetus Iis Sumaryanto.

Penanganan cepat sebelum wereng menyerang dilakukan pemanenan. Sulaiman, buruh panen menyebut, normalnya varietas Ciherang bisa dipanen usia 120 hari.

Sulaiman, buruh panen memotong padi varietas Ciherang pada lahan milik Suyatinah di Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Senin (28/9/2020) – Foto: Henk Widi

Namun sebelum usia tersebut padi bisa dipanen untuk dikeringkan. Pemanenan lebih cepat dilakukan agar padi tidak rontok. Usai dipanen cuaca panas yang mendukung menjaga kualitas gabah kering sempurna.

Panen saat kemarau sebutnya, memudahkan proses pengangkutan. Sebab motor bisa masuk ke dalam sawah untuk bisa mengangkut gabah usai dipanen.

Proses perontokan gabah saat kemarau bisa dilakukan dengan sistem lembur pada malam hari. Usai dipanen gabah akan dikeringkan langsung memakai terpal di lahan sawah.

Lihat juga...