Pasokan Air Terbatas, Sungai jadi Tumpuan Irigasi Petani Lamsel

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Musim kemarau berdampak bagi sebagian petani padi di Lampung Selatan (Lamsel) dengan pasokan air terbatas. Sejumlah sungai jadi harapan bagi petani untuk irigasi tanaman pertanian.

Agus Sanusi, petani di Desa Bandar Agung menyebut memanfaatkan aliran sungai Way Sekampung. Saat kemarau ia justru bisa menanam padi dengan sistem pompanisasi.

Agus Sanusi, salah satu petani di Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan memanfaatkan lahan di tepi sungai untuk menanam padi, Senin (14/9/2020) – Foto: Henk Widi

Saat musim hujan Agus Sanusi menyebut lahan pertanian di wilayah tersebut kerap terendam banjir. Sebaliknya saat kemarau dengan debit air sungai yang lancar ia bisa menanam padi. Jenis padi IR64 menjadi varietas yang cocok untuk ditanam kala kemarau.

Meski harus mengeluarkan biaya ekstra untuk bahan bakar mesin alkon menanam padi kala kemarau justru menguntungkan.

Saat musim penghujan lahan pertanian miliknya merupakan lokasi untuk kolam budidaya ikan air tawar. Saat kemarau surutnya air kolam dimanfaatkan sebagai lahan budidaya padi. Tingkat kesuburan tanah bekas budidaya ikan air tawar menurutnya cukup tinggi. Sebab kotoran ikan dan kiambang yang mengendap berpotensi menjadi pupuk organik.

“Saat kemarau sebagian petani di bantaran sungai Way Sekampung beralih melakukan budidaya padi karena pasokan air masih tetap stabil selama satu kali siklus tanam padi, tingkat kesuburan tanaman meningkat,” terang Agus Sanusi saat ditemui Cendana News, Senin (14/9/2020).

Penanaman padi musiman menurut Agus Sanusi hanya dilakukan setahun sekali. Masa tanam padi sejak awal September menurutnya diprediksi bisa dipanen pada awal tahun mendatang.

Memanfaatkan sungai untuk budidaya padi dilakukan sebagai selingan untuk budidaya udang vaname. Budidaya padi dilakukan di luar tanggul sementara tambak udang vaname dilakukan di dalam tanggul.

Sumino, petani padi lainnya di desa tersebut mengaku memanfaatkan sungai Way Sekampung saat kemarau. Kala penghujan ia bahkan memilih menggunakan lahan sawah miliknya untuk budidaya udang vaname. Sistem irigasi memanfaatkan pasang surut air sungai. Ketika sungai surut ia bisa memanfaatkan air tawar untuk lahan sawah.

“Proses budidaya padi di lokasi pasang surut memanfaatkan air sungai agar tetap bisa menanam padi,” cetusnya.

Sumino menyebut pemanfaatan air sungai untuk pertanian dilakukan dengan sistem sedot. Selain bersumber dari sungai Way Sekampung ia menyebut sungai Way Pisang jadi sumber pengairan untuk petani kala musim kemarau. Petani di bantaran sungai Way Sekampung dan Way Pisang memilih menanam komoditas hortikultura jenis sayuran, buah-buahan.

Sumino, salah satu petani di Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan memanfaatkan sungai Way Sekampung untuk pengairan lahan sawah saat musim kemarau, Senin (14/9/2020) – Foto: Henk Widi

Penanaman padi saat musim kemarau diakui Sumino memiliki potensi lebih berhasil. Sebab saat penghujan dengan debit air sungai meningkat petani di wilayah tersebut rentan terkena banjir.

Kualitas gabah kering panen yang dihasilkan saat penghujan kerap lebih menurun. Sebaliknya saat kemarau kualitas gabah lebih bagus dengan kadar air lebih sedikit.

“Masa kemarau yang diprediksi hingga akhir tahun dimanfaatkan petani untuk menanam padi dengan teknik mekanis memakai mesin untuk pompanisasi,” beber Sumino.

Petani yang memanfaatkan air sungai Way Asahan bernama Atin menyebut saat kemarau ia masih bisa panen. Namun memasuki masa padi berbulir pasokan air terbatas. Meski telah melakukan sistem pompanisasi hasil panen padi miliknya tidak maksimal. Hasil gabah kering panen menurutnya kurang berisi imbas telat proses penyiraman.

“Sebagian petak sawah yang kurang air kualitas gabahnya kurang bernas, tapi di bagian yang pasokan air lancar cukup berisi,” cetus Atin.

Atin mengaku tetap bersyukur, pasalnya ia masih bisa panen saat kemarau. Usai panen ia akan memanfaatkan lahan sawah di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan tersebut untuk menanam palawija. Jenis tanaman yang cocok di antaranya kacang hijau, kedelai, kacang panjang dan sejumlah sayuran. Sejumlah sayuran tersebut disiram dengan memanfaatkan sungai Way Asahan.

Lihat juga...