Pelabuhan Tanjung Emas Semarang Mulai Terapkan SSm Percepat Waktu Bongkar Muat

Editor: Koko Triarko

Kepala KSOP Kelas I Tanjung Emas, Junaidi di Semarang, Senin (28/9/2020). –Foto: Arixc Ardana

SEMARANG – Penerapan sistem Single Submission (SSm) dan Joint Inspection Pabean Karantina di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, untuk proses ekspor impor pengiriman logistik, selain mempercepat waktu bongkar muat atau dwelling time, juga memangkas biaya yang dikeluarkan oleh pengguna jasa.

“Waktu tunggu barang logistik dan proses yang lebih singkat, sehingga pengguna jasa pun bisa melakukan penghematan biaya hingga RP1,7 juta tiap kontainer ukuran 20 feet,” papar Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Tanjung Emas, Junaidi di Semarang, Senin (28/9/2020).

Dijelaskan, pelabuhan Tanjung Emas Semarang menjadi pelabuhan ke dua setelah Pelabuhan Belawan Sumatra Utara yang menerapkan SSm di Indonesia.

“Selanjutnya pelabuhan Tanjung Perak dan Tanjung Priok juga akan menerapkan hal serupa,” paparnya.

Sementara, Kasie Tata Pelayanan Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Semarang, Oky Fajar Sasongko, memaparkan penerapan sistem SSm dan pemeriksaan bersama (joint inspection) secara resmi diberlakukan mulai hari ini, Senin (28/9/2020).

“Sebelumnya, pemberlakukan SSm hanya ditujukan kepada 16 perusahaan ekspor impor sebagai bentuk proyek percontohan sejak 26 Juni 2020. Mulai hari ini, (Senin-red) secara mandatori sudah berlaku penuh ke seluruh masyarakat atau pengguna jasa,” jelasnya.

Dijelaskan, SSm ini merupakan bentuk kerja sama percepatan yang dilakukan Bea Cukai, BKIPM Semarang, Balai Karantina Pertanian Semarang dan Terminal Peti Kemas (TPKS) Tanjung Emas Semarang, sebagai bentuk upaya percepatan proses pengiriman logistik nasional maupun internasional.

“Dengan SSm ini akan memangkas biaya dan waktu yang dikeluarkan oleh pengguna jasa pengiriman barang di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Sebelumnya, dalam proses pabean dan karantina membutuhkan waktu dwelling time mulai dari proses bongkar muat barang dari kapal, pengecekan barang hingga barang keluar dari pelabuhan selama 3-4 hari, kini menjadi 1 hari 23 jam,” jelasnya.

Dipaparkan, dengan adanya sistem tersebut, akan mempermudah para pengguna jasa yang sebelumnya harus mengalami repetisi (pengulangan) pengunggahan data ke masing-masing instansi terkait.

“Mulai sekarang, berkas yang dikirim langsung diarahkan pada instansi tujuan untuk dilakukan pengecekan berkas barang logistik. Selanjutnya pihak karantina, baik dari Balai Karantina Pertanian, BKIPM serta Bea Cukai akan melakukan pemeriksaan langsung bersama-sama barang logistik tersebut, sehingga waktu dwelling time menjadi lebih cepat,” jelasnya.

Lihat juga...