Pelatihan Berkebun Hebat, Tingkatkan Kemampuan ‘Urban Farming’ Masyarakat

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang terus mendorong semangat berkebun bagi warga. Termasuk memberikan pelatihan secara gratis, bagi masyarakat yang tertarik untuk menerapkan konsep urban farming di lingkungan mereka.

“Terbatasnya lahan perkotaan, bukan menjadi penghalang bagi kita untuk bisa berkebun atau bercocok tanam. Dengan metode yang benar, kegiatan menanam di perkotaan atau urban farming pun tetap bisa dilakukan,” papar Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita G Rahayu, di Semarang, Senin (14/9/2020).

Dipaparkan, tingginya semangat untuk berkebun tersebut, juga harus diimbangi dengan kemampuan warga dalam menerapkan urban farming.

“Untuk meningkatkan kemampuan warga dalam teknik urban farming, kita gelar pelatihan melalui program Berkebun Hebat. Pelatihan ini dilaksanakan seminggu dua kali, pada hari Selasa dan Kamis, dengan menghadirkan pemateri yang memiliki keahlian di bidang masing-masing,” terangnya.

Dijelaskan, dalam pelatihan tersebut warga akan diajak untuk belajar tentang budidaya tanaman hortikultura, pertanian perkotaan dan berkelanjutan, kemudian pertanian modern dengan memperkenalkan metode hidroponik, hidroganik serta aquaponik. Selain itu, juga disampaikan materi tentang budikdamber atau budidaya ikan dalam ember.

“Masyarakat bisa mengikuti pelatihan ini secara gratis. Cukup mendaftar melalui laman berkebunhebat.id, nanti tinggal dipilih ingin mengikuti pelatihan yang mana saja. Saya berharap, pelatihan ini bisa benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat,” tambahnya.

Hevearita berharap melalui pelatihan tersebut, diharapkan masyarakat semakin paham dalam penerapan urban farming, sehingga manfaatnya juga dapat dirasakan oleh mereka.

Urban farming ini memiliki banyak manfaat yang dapat diperoleh. Terutama dalam memanfaatkan lahan terbatas untuk meningkatkan kedaulatan pangan keluarga. Hasil dari urban farming ini, bisa dimanfatkan oleh keluarga, sehingga meminimalkan pengeluaran finansial,” tandasnya.

Hal senada juga disampaikan, Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kota Semarang, Hernowo Budi Luhur. Dipaparkan, pihaknya terus menggelorakan semangat ayo nandur (ayo menanam-red), dengan mendorong pengembangan urban farming, dalam menjaga ketahanan pangan masyarakat.

“Melalui pengembangan urban farming, ketahanan pangan masing-masing keluarga bisa terjaga. Terlebih lahan pertanian yang ada sekarang ini, hanya lima persen dari total luas Kota Semarang. Urban farming ini bisa memanfaatkan lahan di sekitar rumah, misalnya di halaman, teras rumah,” jelasnya.

Dijelaskan, saat ini di Semarang ada sebanyak 22 kelompok urban farming, yang didukung Pemkot Semarang, melalui Dispartan. Pada kelompok tersebut, pihaknya juga memberikan penyuluhan, tentang bagaimana bercocok tanam dengan lahan yang terbatas.

“Kelompok-kelompok ini juga memberikan pelatihan kepada masyarakat sekitar, dalam upaya memperkenalkan urban farming,” tambahnya.

Hernowo menjelaskan, penerapan urban farming untuk skala rumah tangga, bisa menggunakan sistem hidroponik, polybag atau memanfaatkan pot dari wadah bekas sebagai media tanam.

“Apa saja bisa ditanam, mulai dari sayur-sayuran seperti bayam, sawi, kangkung, hingga cabai. Selain itu, juga bisa dikombinasikan dengan budidaya ikan, sebagai penambah kebutuhan protein. Budidaya ini juga bisa menggunakan ember, yang dikombinasikan dengan penanaman sayur mayur,” pungkasnya.

Lihat juga...